Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode IV – “Penantian Sambut”

Bab V: Penantian Sambut

 

Setelah 9 bulan berlatih, gua merasa bisa banyak. Langkah 1 sudah lancar, jurus-jurus sudah hapal dan gerakan mulai terlihat bagus. Arahan-arahan dari Mas Ka sudah mulai bisa diikuti dengan baik, dan set latihan mulai bisa dikuasai

Suatu saat selesai latihan, gua pulang kerumah. Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, orangtua gua bertanya: “Jadi, kamu sudah belajar apa saja sama Mas Ka?” Gua menjelaskan panjang lebar tentang latihan, apa saja yang dilakukan pada saat latihan, langkah apa saja yang sudah dipelajari, nama-nama gerakan, gedik, rambet, semuanya.

Ayah gua yang sepak terjangnya di dunia persilatan sudah lama melegenda ini meminta gua untuk menunjukkan langkah silat yang sudah dipelajari. Dengan penuh percaya diri, gua segera menunjukkan apa yang sudah gua latih selama ini. Setelah beberapa detik bergerak, ayah berdiri dari sofa.

“Bagus tuh gerakanmu,”bBeliau berkata sembari melihat gerakan gua. “Oke, Papa mau tanya deh, gerakan itu tadi buat apa ya?”

Dan gua pun terdiam. Kepala kosong, selama ini yang gua pelajari adalah gerakkan yang kosong. “Belum dikasih tahu Pa, gerakannya untuk apa.”

Ayah gua tersenyum, “Besok tanya deh ke Mas Ka, Papa jadi pengen tahu juga hehe.”

“Aduh, masih hari Jumat depan latihannya” gua ngedumel dalam benak gua, dan gua harus menghadapi sekolah selama seminggu kedepan. Baiklah, tidak apa, gua harus sabar menunggu, karena beberapa penantian itu memang nikmat.

Seminggu itu sekolah berlalu SANGAT lambat. Banyak sekali PS (bagi teman-teman yang membaca dan kelahiran 1990 – 1993 pasti tahu kalau PS itu bukan “Plaza Senayan”, atau “Playstation”, melainkan “Pekerjaan Sekolah”), PR (yang ini tahu kan kalau “Pekerjaan Rumah”?) dan tugas-tugas kelompok yang harus dikerjakan. Ditambah badan dan kaki yang pegal-pegal, gua pun berjalan seperti kakek-kakek yang lututnya goyang.

Dikarenakan gua mengendarai mobil antar-jemput ketika SMP, tidak banyak hal yang bisa gua lakukan setelah sekolah. Gua harus langsung lari ke parkiran antar jemput ketika bel sekolah berbunyi, dan ketika sampai rumah, gua mengerjakan PR dan… berlatih silat.

Suatu saat, sahabat-sahabat gua di SMP memperhatikan kenapa cara jalan gua aneh dan jari-jemari gua gemetar ketika menulis.

“Put, lu kenapa sih? Kok jalannya aneh?”

“Iya nih… Gua lagi sering latihan silat”

Didalam benak seorang bocah yang menghabiskan masa kecilnya dibacakan cerita wayang, didongengi cerita-cerita silat, dan menonton serial-serial seperti “Wiro Sableng” dan atau “Si Buta Dari Gua Hantu”, gua merasa gagah bisa cerita kalau gua pegal-pegal habis latihan silat.

Lain ceritanya ketika anak-anak Jakarta masa kini (pada jaman itu) yang menghabiskan waktunya menonton acara-acara MTV, beli barang-barang dari toko-toko macam Point Break atau Surfer Girl (kalau gua belanja, Ibu tercinta akan membawa gua ke department store lokal macam “Matahari” atau mungkin “Aneka Busana”), dan membaca novel-novel ‘teenlit’ (dimana gua akan disajikan TJERITA WAYANG oleh ayah gua yang digambar dan ditulis oleh mendiang R.A. Kosasih). Gua adalah orang aneh dimata mereka. Dan seperti yang mungkin teman-teman bayangkan, gua jadi bahan ketawaan.

“HUAHAHAHAHAH Latihan silat??? Lu bisa keluarin sinar ungu dong dari tangan lu, terus nembak batu nanti batunya pecah? HAHAHAHAHA” ~ ini mungkin mereka membuat sebuah referensi dari film-film silat yang dimata mereka itu norak.

“Ehm… Enggak sih… Tapi ya ini silat tradisional…” tukas gua dengan nada pelan tetapi pasti.

“Terus kenapa sih lu mau belajar silat gitu? Emang lu bisa apa sekarang?” ledek mereka

“Iya namanya kan juga proses latihan, enggak langsung lah hasilnya, sakitnya sekarang, tapi sehatnya nanti kedepan.” Jawab gua sambil tersenyum percaya diri.

“Tapi lu jalan sekarang kayak kakek-kakek! HAHAHAHAH”

Yap,  itulah silat dimata mereka.

Seminggu itu akhirnya berlalu, dan gua sudah sampai di akhir pekan. “Akhirnya, gua bisa latihan.” Gumam gua di dalam benak gua. Sepulang sekolah pada hari Jumat, gua langsung menggowes sepeda gua kerumah Mas Ka.

“Mas Ka!” Gua lompat dari sepeda gua, dan langsung lari masuk ke garasi Mas Ka

“Yop! Masuk Put!” Suara Mas Ka terdengar menyahut dari dalam rumah. Gua langsung stretching dan pemanasan sendiri, Mas Ka pun keluar dari rumah dan tersenyum lebar.

“Put, hari ini kita latihan sambut ya.”

“Sambut itu apaan mas? Latihan hormat gitu?” Tanya gua dengan dungu dan polos

“Haha enggak lah Put, ‘Sambut’ itu kalau di Silat Betawi, artinya sparring. Kalau kamu lagi di acara silat gitu, dan ada yang bilang ‘Mas, boleh saya sambut?’ itu artinya nantang kamu sparring. Jadi kamu ‘disambut’ sama jurus-jurusnya dia, dan kamu harus tau cara ‘menyambut’ yang baik, dan yang sopan.” Mas Ka menjelaskan dengan kalem.

“Sopan? Kok kita ditantang harus sopan mas? Orang yang nantang saja udah enggak sopan.” Gua mendadak sewot.

“Put, kalau di Silat Betawi itu, ada yang namanya ‘Lu Jual, Gua beli’. Memang kita enggak mau dan enggak boleh cari gara-gara, tapi kalau di gelanggang, itu memang sudah tempatnya kita unjuk ilmu dan cobain ilmu lain. Selain itu, Silat itu juga ada tata kramanya! Kan kamu sudah aku ajarin, kalau misalnya kuda-kuda aku merendah, kamu ikut merendah juga. Ini tuh gesture-gesture kecil yang menunjukkan kalau kamu itu pesilat yang mengerti tata krama dan orang yang santun.”

“Oh gitu ya mas. Hmm… contohnya gimana mas?”

Mas Ka pun mendekat, dia memasang kuda-kuda siap,

“Ini Put, posisiku kalau siap sambut. Kalau di silat Betawi yang ‘main’nya jarak dekat, kamu tempel tangan kamu sama tanganku.”

Gua mengerjakan apa yang Mas Ka diktekan, dan gua mencoba untuk bersikap dan memasang kuda-kuda yang sama dengan Mas ka. Kepalan Mas Ka gua tempelkan dengan kepalan kanan gua.

“Nah, ini kamu mau adu keras kalau gaya kamu kayak gini Put.” Mas Ka terkekeh.

Gua bingung, “Maksudnya gimana Mas?”

“Kamu nyodorin kepalan pas aku nyodorin kepalan. Itu artinya kamu siap melawan aku dengan keras. Kecuali kalau kamu begini…”

Mas Ka membuka kepalan tangannya, dan menyodorkan tangan terbuka dengan telapak menghadap keatas,  beliau pun mengubah posisi tubuhnya. Dada mengahadap kedepan, tangan kiri tetap menyilang dada dengan mengepalkan tangan, seakan “mempersilahkan” gua untuk memulai.

“Put, kamu coba serang aku ya, aku isi sambut dari kamu pakai langkah yang udah kita latih selama ini.” Raut Mas Ka mendadak berubah menjadi serius.

Gua deg-degan, Mas Ka seakan-akan mengubah atmosfer yang biasanya dipenuhi penuh pembelajaran dan canda tawa menjadi tenang tetapi menegangkan.

“Mas Ka, aku mesti nyerang gimana nih?” Suara gua mendadak parau dan menunjukkan betapa bingung akan apa yang harus gua lakukan. Mendengar pertanyaan gua, kuda-kuda Mas Ka merendah, beliau tidak bergeming.

Akhirnya gua melakukan apa yang Mas Ka instruksikan, gua memasang kuda-kuda siap, dan gua melontarkan sebuah pukulan ke arah dada Mas Ka. Bet! Pergelangan tangan gua dirambet, dan sikut Mas Ka sudah di depan muka gua (ya karena Mas Ka itu tinggi, dan gua pada saat itu masih setinggi pohon singkong), secara reflek, gua menepis sikutan Mas Ka, dan tiba-tiba tangan Mas Ka merambet telapak gua dan mendorong pundak gua kesamping, dan bruk! Gua kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Hyeh hyeeeh Putra… kaget ya? He he he he” Mas Ka terkekeh sembari membantu gua berdiri,

“Katanya mau pakai langkah yang Mas Ka latih aku, kok aku belum apa-apa jatuh duluan coba.” Gua menggerutu sambil mengusap-usap pundak.

“Nah, Put, namannya juga lagi sparring, berarti harus bereaksi dong sama sambutan yang kamu kasih. Kan setiap orang enggak pasti memukul kearah perut, ada nanti yang tiba-tiba nendang, ada yang bisa ngerambet tangan kamu duluan. Intinya, kamu harus siap dengan apa yang orang mau kasih kamu.”

Mas Ka bersiap lagi, dan gua pun memasang kuda-kuda. “Put, sekarang kamu aku serang, nah, kamu harus bisa ‘ngisi’ pakai semua yang kita udah latih ya.” Sembari berbicara, Mas Ka melancarkan pukulan dengan pelan, “Ayo, dirambet tanganku.”

Instruksi beliau gua ikuti perlahan-lahan, setiap pukulan, egosan, kuncian, berhasil gua tangani dengan langkah-langkah yang Mas Ka sudah latih gua. Tiba di suatu gerakan, dimana Mas Ka menyerukan “Tendang!” dan karena gua dulu sempat ikut olahraga Korea yang diminati anak-anak karena banyak tendangan, gua reflek menendang tinggi.

“Put! Kalau Silat Betawi jangan nendang tinggi-tinggi! Bahaya!” Mas Ka menegur gua,

“Lho, kan Mas Ka yang bilang nendang. Ya aku tendang.” Dengan lugunya gua menjawab.

“Oke, coba deh kamu tendang lagi.” Mas Ka mendadak memicikkan mata dan memberikan senyuman yang licik dan khas.

Gua tidak ragu, gua lancarkan tendangan tinggi, dan Wut! Tiba-tiba badan gua sudah terbalik! Kaki diatas, kepala dibawah, dan pinggang gua sudah dipegangi Mas ka. Posisi yang sangat ajaib ini diiringi kekeh Mas Ka yang khas. “Keh keh keeeh Puuut… kamu udah aku bilangin jangan nendang tinggi-tinggi.. Hyeh hyeeeh.”

“MAS!! INI AKU DIAPAIIIN” Suara cempreng belum pecah itu keluar lagi dari mulut gua.

Hari itu kami menghabiskan berjam-jam (sungguh!) untuk berlatih sambut, sampai di satu titik, gua sudah sangat lelah, berdiri pun goyah. Mas Ka menyuruh gua pulang untuk beristirahat, dan gua menggowes sepeda gua dengan lunglai sampai di rumah.

Sesampainya gua dirumah, pas waktunya makan malam. Ibu pun bertanya setelah melihat tampang gua yang amburadul dan kemleh-kemleh (maksud gua, lemas), “Kamu habis latihan apa tadi? Kok lemes banget?”

Gua menjawab singkat sembari berusaha mengangkat sendok nasi, “Latihan sparring Ma.”

Ayah gua tersenyum sembari mengunyah, “Oh ya? Jadi kamu sekarang udah bisa apa?”

BERSAMBUNG…

 Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode I – Mas Ka

Putra terduduk lunglai di matras merah. Keringatnya bercucuran, nafasnya terengah-engah, ia nampak frustasi. Di depannya berdiri seorang pria berkulit kuning langsat, berpakaian hitam-hitam, dengan ikat kepala khas Jawa, terkekeh-kekeh sambil memegangi perut besarnya yang tertutup ikatan kain putih yang berfungsi sebagai sabuk.

“He he he he… Ayo Putra… Apa kamu masih sanggup?”

Putra berdiri dengan susah payah, ia memasang kuda-kudanya.

“Ayo coba lagi Kangmas! Hup!”

Putra menyerang pria yang dipanggilnya ‘Kangmas’, yang adalah guru silatnya. Walaupun bertubuh tambun, bukan namanya seorang guru kalau memang ia tidak lihai. Badanya berkelit menghindari jurus-jurus Putra, tiba-tiba pukulan Putra dijepit oleh kedua lengan sang guru, lalu dia merendahkan kuda-kudanya membuat Putra kehilangan keseimbangan, dan sang guru memutar pinggangnya. Putra terlempar ke samping dan gubrak! Suara badan yang menghantam matras kembali terdengar untuk kesekian kalinya di malam itu.

Eeets, tunggu dulu, mungkin lebih baik kalau gua cerita kenapa gua bisa dalam situasi dan kondisi yang tertulis di atas kali ya.

Nama gua Putra, dan gua mungkin bisa masuk dalam kategori ‘not your average guy’. Gua tergila-gila dengan yang namanya Silat Tradisional, dan gua sudah berlatih silat sedari janin. Enggak kok, gua ga segila itu, tapi gua sudah latihan silat sejak gua berumur 11 tahun. Dan gua hanya belajar Silat tradisional, yang mengutamakan aspek filosofi dan ilmu-ilmu hampir terancam punah yang dipenuhi nilai-nilai luhur.

Mungkin beberapa dari kalian penasaran, apa sih bedanya Pencak Silat ‘biasa’ dan Silat Tradisional?

Well, let me clarify for you. Indonesia ini memiliki sekitar 600 aliran pencak silat berbeda. Silat di pandangan umum sekarang itu dibagi dua: Pencak Silat Olahraga, dan Silat Tradisional. Nah, Silat Tradisional inilah yang gua sangat gemari. Silat tradisional itu lebih ‘underground’. Mereka punya sistem pelatihan sendiri, teknik-teknik yang sangat khas, aspek tradisionalnya masih kental, dan hubungan guru-murid itu masih sangat pribadi, bahkan terkadang sakral. Kayak musik-musik indie aja, bukan major label, dan masing-masing punya warna yang unik yang menunjukkan identitas musikusnya. Maksud gua dari ‘aspek tradisional yang kental’ itu supaya kalian tahu aja kalau memang ada aliran-aliran silat yang ‘berbau mistis’, ‘potong ayam hitam’, ‘mandi air kembang’, dan segala macem ritualnya. Namanya tradisional, pasti ada gono-gononya.

Nah ini adalah cerita gua, cerita bagaimana gua bisa belajar silat dan apa yang gua pelajari dari silat-silat ini. Mungkin ini bisa dibilang jadi ‘jurnal keilmuan’ gua, curhatan gua akan silat, supaya Silat Tradisional itu tidak cuman “kampungan” di mata pemuda sekarang. Karena silat itu bukan hanya sekedar senggol,  bacok, tangkis,  tendang, pukul, atau jurus lemparan maut.

Tetapi silat itu juga termasuk seni dan cara menghidupi kehidupan kita yang sekali ini.

Perguruan Pertama: Tunggal Rasa

Bab I : Mas Ka

Semua itu berawal dari satu. Sepak terjang gua di dunia persilatan pun berawal dari satu perguruan, guru pertama gua. Dengan julukannya: “Si Jalu.”  Nah di sinilah ceritanya dimulai, “Si Jalu” ini akrab dipanggil “Mas Ka”. Karena sosoknya selalu pas sebagai sosok seorang ‘big brother’, dengan keramahannya yang khas dan selera humornya yang pas. Tidak pernah lupa, ilmu silatnya yang mantap.

Mas Ka ini badannya tinggi, berdada bidang, tampak muda, dan selalu fresh. Raut wajahnya susah ditebak, karena ketika diam, beliau akan terlihat dingin. Tetapi begitu disapa, senyuman beliau bisa dari kuping ke kuping. Penampilan kesehariannya tidak akan terlihat seperti jagoan silat sama sekali, tetapi lebih seperti atlit basket. Dengan celana jeans yang agak gombrong, dan kaos tim basket kesukaan. Beliau ini gemar sekali main basket, koleksi action figures dan komik, tidak lupa berlatih silat. Mas Ka ini pendengar yang baik, beliau bisa mengerti kapan harus tegas, dan kapan bisa bercanda. Pokoknya ‘big brother’ banget deh.

Bagaimana caranya sampai gua ini bisa ketemu sama Mas Ka? Nah semua itu berawal di acara 17 Agustusan di kompleks gua. Setelah beberapa lomba yang 17 Agustusan banget, kayak panjat pinang, makan kerupuk, guling-guling di lumpur (lho?), dan lain-lain, tibalah sebuah pertunjukkan silat. Pada saat itu, gua tidak di situ. Gua lupa lagi ngapain, tapi yang jelas lagi melakukan sesuatu yang penting (sehingga gua tidak datang ke acara 17 Agustusan kompleks gua. Meh.).

Tetapi,  Ayah gua ada di situ.

Dengan pengalamannya yang sudah setinggi-gunung-sedalam-lautan-seluas-pulau-Kalimantan ini, dia melihat bahwa aliran silat yang dipertontokan itu cocok buat gua.

Dengan keramahan ayah gua bak seorang begawan Jawa sakti ini, ia menghampiri Mas Ka yang sedang berjalan keluar gelanggang. Dan setelah mengenalkan dirinya, beliau memutuskan untuk ngobrol dengan Mas Ka, yang menurut versi beliau seperti ini:

Sang Ayah: “Halo Mas, wah ini aliran silat apa ya?”

Mas Ka: “Halo Mas, oh ini namanya Tunggal Rasa…”

Sang Ayah: “Wah bagus ya… Mas, kira-kira Mas Ka mau ajarin saya?”

Mas Ka: “Wah Mas, gimana kalau kita latihan sama-sama saja,  jadi dua-duanya saling berbagi ilmu…”

Gua ga percaya versinya beliau pada saat itu. Gua yang masih bocah singkong bau kencur itu (dan tukang khayal) berpikir seperti ini lebih cocok versinya:

Suasana tiba-tiba hening, dan ayah gua menghampiri Mas Ka

Sang Ayah: “Fu fu fu… Ilmu silat ini lumayan juga.”

Mas Ka: “Siapakah gerangan kisanak?”

Sang Ayah: “Aku adalah adipati Kalamangga. Apa kiranya kisanak mau menunjukkan kehebatan ilmu ini?”

Mas Ka: “Silahkan.”

Tapi sayangnya, tidak begitu kenyataannya.

But anyways, I’ll get to the gist of the story.

Pada zaman itu, ketika gua berumur 11 tahun, waktu senggang masih banyak. Setiap ada waktu kosong, gua akan menggowes sepeda menuju rumah Mas Ka dan latihan sampai ditelepon Ibu disuruh pulang. Sama sekali tidak kepikiran kalau latihan silat itu akan bikin sakti atau gimana, tetapi Mas Ka dengan suksesnya menanamkan benih cinta akan silat dalam hati, jiwa, dan jasmani gua. Gimana caranya sih menanamkan cinta silat ke anak umur 11 tahun? Reward System!

Setiap gua berhasil menuntaskan satu bentuk jurus, Mas Ka akan memberikan gua waktu istirahat yang lebih lama, dan setelah latihan, Mas Ka akan meminjamkan gua sebuah komik untuk dibaca setelah latihan! Gua senang sekali setiap tamat satu jurus, gua bisa minum es teh manis sambil baca komik. Dalam benak gua pada saat 11 tahun, hidup gua lengkap sudah.

Silat Tunggal Rasa ini adalah satu aliran yang sangat menarik, karena langkahnya (note: di banyak aliran silat Betawi, ‘jurus’ biasanya disebut sebagai ‘langkah’, dan langkah – footwork- dalam setiap ‘langkah’ ini pendek-pendek dan tidak berkuda-kuda rendah) sifatnya itu pendek dan praktis. Tunggal Rasa ini unik karena ini merupakan ramuan beberapa ilmu silat Betawi lainnya, sehingga menciptakan suatu bentuk yang sangat khas, praktis, sederhana, namun sangat ampuh.

Semua pengetahuan dasar gua akan silat itu diajarkan Mas Ka. Berlatih dengan beliau itu memang merupakan pengalaman yang gua enggak akan bisa lupa. Sekarang coba, mana ada guru silat yang bakal ngerti kalau kita ngobrolin Doraemon, atau serial anime apa gitu, dan bisa langsung nimpalin obrolan nya? Belajar sama Mas Ka ini memang salah satu pengalaman paling berkesan di hidup gua.

Untuk memberi sedikit gambaran tentang apa saja yang gua pelajar dan apa saja yang Mas Ka latih itu bisa dirangkum dalam beberapa poin:

  1. Keluarga selalu nomor satu
  2. Hormati orangtua dan para pendahulumu
  3. Sadarlah dalam bertutur kata dan bertindak
  4. Kalau mau sehat dan kuat, urusin badan
  5. Jangan pernah cari gara-gara.
  6. Kalau ketemu gara-gara, ajak ngobrol dulu baik-baik
  7. Kalau ngobrol baik-baik tidak ada gunanya, ladeni baik-baik.
  8. Hukum sebab-akibat itu berlaku di kehidupan dan dalam bersilat

Bentuk-bentuk latihan yang Mas Ka sajikan pun sangat khusus. Setiap orang yang berlatih bersama atau belajar dari Mas Ka akan mendapatkan beberapa bentuk latihan fisik yang mendasar, lalu dia akan diberi kebebasan untuk melanjutkan ke ‘spesialisasi’ tertentu: Pencak silat, Pernapasan (Tenaga Halus), atau Tenaga Dalam (Tenaga Keras).

Sebelum hilang fokus, mungkin teman-teman yang sedang membaca penasaran: “Kenapa sih judul bab 1 nya itu ada Ayam Pop-nya?” Ayam Pop ini juga merupakan bentuk dari “Reward System” yang Mas Ka aplikasikan. Jadi setiap kita menyelesaikan beberapa rangkaian jurus, beliau akan memberi tahu kami sekitar seminggu sebelumnya bahwa kami akan diuji.

Dalam perguruan silat tradisional, setiap guru yang ditanya: “Apa yang akan diuji?” Pasti akan terkekeh-kekeh dan menjawab dengan sederhana: “Ya apa yang sudah kamu pelajari.” Mas Ka pun begitu, tetapi ekspresi beliau akan lebih datar, dan mungkin tersenyum sambil menyipitkan mata licik. Ujiannya seperti apa, akan gua ceritakan lebih lanjut nanti, tetapi setiap kita selesai ujian, Mas Ka akan menyajikan Ayam Pop masakan ibunya yang super istimewa ini. Semua sakit dan lelah setelah ujian akan hilang sekejap ketika ayam pop sudah disajikan dipiring dengan nasi panas dan sambal hijau yang membuat lidah menari kegirangan.

 BERSAMBUNG…

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.