Categories
Ilustrasi Karakter

Ilustrasi Sawerigading

“ciccing rakkileq ri abéona Palingéqé, mattali ulu wennang sokori.”

… cincin kilat di sebelah kiri milik Palingé, memakai tutup kepala benang bersulam. (Nurhayati Rahman, 2006:224)*

Sawerigading by Maharani Budi

Sawérigading adalah tokoh utama yang terdapat di dalam naskah meskipun bukan sebagai tokoh yang paling banyak berperan dalam mengisi alur dari awal hingga akhir. Tapi dialah awal segala penyebab terjadinya semua peristiwa dan kejadian, yang menyebabkan bergeraknya alur secara dinamis, sejak awal sampai akhir.

Ia merupakan sosok pribadi Bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda, yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras. Sejauh mana sifat dan karakter tersebut mengejawantah dalam diri pribadinya, bergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar. Ia tidak mengenal kompromi, hanya ada dua pilihan hitam dan putih.

Secara fisik, Sawérigading tidak terlalu banyak digambarkan dan disinggung oleh pengarang (Nurhayati Rahman), kecuali sebagai seorang tokoh yang besar, sebagai tanda kebesarannya ia selalu menggunakan pakaian kebesaran raja yang semua terbuat dari emas, berupa payung kebesaran yang terbuat dari emas, cincin emas yang semuanya turun dari langit dibawa oleh leluhurnya; di pinggangnya selalu melekat keris emas sebagai simbol keberanian dan kejantanan.

Ekspresi kejantanan itu mendapatkan spirit dari empat sifat yang melekat dalam diri pribadinya, yakni 1) Getteng (teguh pendirian), 2) Warani (berani), 3) Lempuq (jujur), dan 4) Macca (pintar).

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!

Categories
Ilustrasi Karakter

Ilustrasi La Pananrang

“… La Pangoriseng dan La Temmalureng, kemudian mengenakan pula pakaian kebesarannya, sarung sutera dengan sulaman bulan emas, yang di tepi bagian atasnya bersuji benang emas lima kati, dan tujuh kati bawahnya. Bajunya berasal dari negeri Timor. Gelang berurat keramat dari Boting Langiq melekat kokoh pada lengannya. Keris emas dari Rualetté yang terselip pada ikat pinggang kain sutera dari Uluwongeng, menambah keperkasaan kedua orang kepercayaan Batara Lattuq itu. (Idwar Anwar, 2004:110)*

La Pananrang by Maharani Budi

Seperti halnya La Pangoriseng dan La Temmalureng merupakan orang kepercayaan Batara Lattuq, La Pananrang juga merupakan sosok paling dekat dengan Sawérigading.

La Pananrang adalah pengawal yang paling dekat dengan Sawérigading dan masih sepupu sekali dengannya. Seperti halnya dengan Sawérigading di dalam diri La Pananrang, juga mengalir darah dewa, meskipun tidak seasli dan semurni dengan Sawérigading. Namun, akibat dari keturunan dewa juga berimplikasi pada tindakannya. Ia merupakan sosok manusia yang disamping memiliki sifat kedewaan juga memiliki sifat kemanusiaan. Sifat kedewaannya antara lain : mampu menghidupkan orang mati. Sementara sifat kemanusiaannya sangat halus dan lembut, arif dan bijaksana.

Sebagai penasehat, fungsinya khusus mendampingi raja saat raja sedang menghadapi persoalan sulit dan akan mengambil keputusan. Disini ia hadir penuh kearifan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan yang baik dan benar. Dalam menghadapi musuh, ia pulalah yang selalu tampil ke depan untuk bernegosiasi dengan musuh, pengetahuannya sangat luas dan mendalam, dan nasehat-nasehatnya sangat filosofis.

Salah satu sifatnya yang menonjol adalah lemah-lembut, bertutur kata halus, dan selalu memusyawarahkan segala sesuatu keputusan yang akan diambil.**

*Anwar, Idwar. 2004. La Galigo (Episode Mutiara Tompoq Tikkaq). Makassar: Jarahnitra.

**Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!

Categories
Ilustrasi Karakter

Ilustrasi La Massaguni

“Natijang ronnang La Massaguni, lé naittéq I bake manuqna, natappokangngi turung nrupanna Langiq Risompa, napasibollo miccu makkeda, “Somméng-somméngmu La Tenrinyiwiq, boréq-boréqmu Langiq Risompa, panyilikiaq gauq masomméng  tappaliwemmu, muasengngé béla watammu lé oroané.”

Segera berdiri La Massaguni, memungut bangkai ayamnya, melemparkannya ke muka Langiq Risompa, lalu meludah sambil berkata, “Sombong benar engkau La Tenrinyiwiq, kurang ajar benar engkau Langiq Risompa, mempertontonkan aku perbuatan sombong yang keterlaluan, apa kau mengira, (bahwa) hanya dirimu yang laki-laki”. (Nurhayati Rahman, 2006:362)*

La Massaguni by Maharani Budi

 Tokoh ini mempunyai karakter yang beroposisi dengan La Pananrang. Kalau La Pananrang adalah tokoh yang berhati lembut, halus, dan bijaksana, maka La Massaguni adalah sebaliknya; ia adalah tokoh yang keras, tegas, dan emosional, tidak kenal kompromi, dan tidak banyak bicara, ia lebih banyak bertindak.

La Massaguni dalam naskah lebih populer dengan panggilan To Ampé Manuq yang secara harfiah berarti To : orang, Ampé : sifat, dan Manuq : ayam, jadi To Ampéq Manuq adalah orang yang mempunyai karakter seperti ayam.

Ayam adalah simbol kejantanan, bila diadu ia pantang menyerah, karenanya ayam selalu menjadi teman raja, ke mana saja raja pergi maka ayam jago yang menjadi simbol kejantanan seorang raja dalam pesta penyabungan ayam, selalu menemaninya.

Demikianlah gambaran tentang keadaan To Ampéq Manuq, fungsinya dalam mendampingi Sawérigading adalah sebagai panglima angkatan perang. Tugas yang menantang kekuatan fisik dan keberanian itu sejalan dengan karakter yang dimilikinya. Ia bak ayam jago bila berlaga di medan perang, menyeruduk kesana kemari tanpa memperhitungkan keselamatannya. Bahkan kadang-kadang ia bertindak sangat gegabah tanpa memusyawarahkan dengan La Pananrang.

Meskipun La Massaguni keras dan emosional, tapi ia juga menyimpan sifat-sifat kelembutan terutama bila ia menghadapi wanita; yang menonjol adalah sifat romantisnya. Seperti diketahui bahwa saat Sawerigading menolak La Tenrilennareng (janda La Tenrinyiwiq) untuk menjadi istrinya, maka La Massaguni yang menyodorkan diri untuk mempersuntingnya.

Perkawinan pun berlangsung dengan meriah di atas perahu, di tengah-tengah duka yang melanda sang permaisuri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya La Tenrinyiwiq, dan justru yang menjadi suaminya adalah orang yang membunuh suaminya. Sepanjang pesta perkawinan iti, tak henti-hentinya La Tenrilennareng menangis, meratapi nasibnya, membuat perasaan La Massaguni tak menentu.

Ia memangku istrinya sembari membelai rambutnya yang panjang dan tergerai dan menghibur hatinya dengan kata-kata lembut. Semua itu merupakan gambaran yang lembut dan romantis dari diri sang juara.*

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!