Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Global Warming dan Ancaman Terhadap Ilmu Orang Mandar

Sobat Lontara, jika kita mengikuti berita hari ini, maka kabar terkait musibah di tanah air seperti kebakaran hutan, kekeringan, pencemaran laut, letusan gunung berapi dan lain sebagainya muncul silih berganti. Sebagian dari bencana alam tersebut tak ayal memang disebabkan oleh aktifitas manusia yang mengeksploitasi alam tanpa batas. Tak terkontrolnya kesewenang-wenangan manusia pada lingkungan memicu terjadinya perubahan iklim. Pada titik paling ekstrem, umat manusia akan mengalami kelangkaan pangan, kehancuran ekosistem serta sirnanya ruang hidup tempat kita bergantung.

Nah, tahukah kamu bahwa isu-isu perubahan iklim ini juga tidak terlepas dari bahaya yang mengancam tradisi ilmu pengetahuan warisan leluhur? Tulisan berikut ini akan membahas bagaimana perubahan yang terjadi dalam skala besar terhadap lingkungan hidup kita juga mengikis berbagai macam kearifan lokal masyarakat di Kepulauan Nusantara.

Pelaut-pelaut Mandar adalah salah satu penjelajah bahari terbaik di tanah air. Kemampuan mereka mengarungi lautan raya dengan perahu-perahu kayu tradisional seperti pangkur dan sandeq sudah tidak perlu diragukan sejak dahulu kala. Bagi pelaut-pelaut asal Polewali, Majene, Mamuju, maupun mereka yang berdiaspora di Jawa, Bali, Kalimantan, dan sekitarnya, menyusuri berbagai sudut bahari untuk mengejar penghidupan telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tak heran jika kemudian reputasi mereka diakui oleh pelaut-pelaut lain dari Sulawesi Selatan, seperti yang dituturkan ulang oleh almarhum Christian Pelras Daeng Palippu penulis The Bugis: “Pelaut Mandar tidak bisa hilang dan tersesat di laut”

Selain keterampilan dalam menavigasikan perahu, pelaut-pelaut Mandar juga dibekali dengan laku-laku berdimensi spiritual. Melalui kebiasaan-kebiasaan tertentu seperti bacaan-bacaan maupun perbuatan-perbuatan simbolis (ussul), para pelaut ini tidak saja melestarikan suatu rantai tradisi yang menghubungkan mereka dengan para leluhur pengarung bahari di masa lampau, namun juga memberikan mereka sugesti akan keselamatan. Mengapa? Sebab keberadaan laku-laku ini tak lain untuk memberikan keamanan dan kesejahteraan selama proses pelayaran tersebut berlangsung. Nah, ternyata, ilmu-ilmu warisan leluhur tersebut mereka bawa pula keluar dari kampung halaman dan kembangkan di daerah-daerah perantauan.

Bagi para nelayan tua seperti Pua Janggo di Pulau Sugi (Pulau Laut, Kalimantan Selatan), keselamatan di laut tidak diraih dengan kesaktian mistis, melainkan melalui ilmu membaca tanda-tanda alam dan merespons tanda pada tubuh sendiri saat bernavigasi menembus karang laut atau hutan. Salah satu bukti keunggulan ini tampak pada ketangkasan para pelaut tua Mandar yang mampu berlayar menembus perairan dangkal penuh karang tanpa mengandalkan kompas modern. Melalui pemahaman mendalam atas tanda-tanda alam dan keheningan spiritual, mereka yakin tidak akan tersesat baik di tengah lautan luas maupun di lebatnya hutan pedalaman.

Ilmu-ilmu tersebut selain diturunkan melalui tradisi lisan serta kebiasaan langsung saat berlayar, juga ada yang sebagian dicatat dalam naskah-naskah yang disebut lontaraq. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Lontaraq Pattapingang. Lontaraq Pattapingang adalah sebuah naskah beraksara tradisional berbahasa campuran Mandar, Bugis dan Arab yang ditemukan di daerah Pamboang (Majene, Sulawesi Barat). Naskah ini disalin oleh seorang tokoh adat bernama Ledang Pabbicara Adolang (dan kemudian dilanjutkan oleh orang lain) yang ditulis secara bertahap sejak tahun 1922 hingga 1957. Pada tahun 1984-1985, naskah ini pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Suradi Yasil dan tim.

Naskah setebal 262 halaman ini memuat berbagai macam pengetahuan lokal seperti informasi terkait sejarah Mandar, adat-istiadat, aturan agama, nasehat leluhur, perjanjian antarkerajaan, hingga ilmu-ilmu praktikal seperti pengobatan, pertanian dan peternakan, ilmu perbintangan, ilmu bumi, dan mantra-mantra. Khususnya untuk kategori yang disebutkan terakhir, Lontaraq Pattapingang memuat pengetahuan agriklimatologi seperti penentuan musim yang baik untuk bertanam padi, kapas, kelapa, pisang, ubi jalar, serta lain sebagainya. Pengetahuan ini dilengkapi pula dengan ilmu falak yang memuat aturan tentang penentuan musim bercocok tanam, musim hujan dan kemarau berdasarkan pergerakan benda-benda langit, termasuk menentukan arah dan kecepatan angin.

Pada salah satu bagian dari Lontaraq Pattapingang, terdapat sebuah tabel yang berisi keterangan terkait kondisi cuaca dalam setahun berdasarkan skala kekuatan angin dan hujan. Di dalam tabel tersebut terdapat empat kategori sebagai berikut: marra-marrang (cuaca cerah), anging mallino (angin bertiup pelan), urang matambaq (hujan keras); urang iqda matambaq (hujan tidak keras). Keempat kategori itu menjadi patokan penting bagi pelaut yang hendak berlayar agar senantiasa berhati-hati di perjalanan. Tabel seperti ini tergolong sebagai putika (Bugis: kutika) yakni suatu metode penentuan saat terbaik untuk melakukan hajat tertentu. Lewat simbol-simbol seperti tanda lingkaran (o), tanda palang (+), simbol matahari, bintang dan lain sebagainya, perubahan cuaca disematkan pada rangkaian hari dalam 12 bulan berdasarkan penanggalan Qamariah (lunar).

Selain contoh di atas, Lontaraq Pattapingang juga memuat putika dalam bentuk naratif terkait perubahan cuaca. Abdur Rahman Hamid (2021) dalam bukunya ‘Jaringan Maritim Mandar’ mereproduksi keterangan pada putika tersebut, dimana kondisi cuaca dibagi per hari dalam setahun. Berikut ini beberapa cuplikannya:

16 April: Cuaca agak stabil, Timur Laut anginnya.

7 Mei: Tobalu (rasi bintang Alpha dan Beta Centauri) memanggil, sudah waktunya menanam ubi jawa (Ipomoea batatas), Barat Daya anginnya.

14 Juni: Hujan malam Selatan anginnya, (angin) Barat di sore hari.

4 Juli: Cerah matahari di pagi hari, baik untuk berlayar.

16 Agustus: Semua basah, juga tanah. Kalau hujan dan ada angin berarti tahun itu baik. Padi jadi, tanaman berhasil, baik untuk berlayar.

Selain memuat deskripsi cuaca yang lebih detail, putika ini menggunakan penanggalan Gregorian, berbeda dengan tabel putika sebelumnya yang menggunakan penanggalan Qamariah. Putika ini juga memberikan informasi yang lebih variatif, entah itu berupa informasi tentang posisi bintang, waktu bertiup serta arah angin, dan bahkan kondisi yang tepat untuk menanam tanaman pangan tertentu. Dapat dikatakan bahwa masing-masing putika dalam naskah Lontaraq Pattapingang didesain secara khusus untuk kepentingan pengguna yang berbeda-beda.

Pengetahuan seperti putika ini tentunya tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan hasil pengamatan terhadap alam yang dilakukan oleh leluhur masyarakat Mandar secara terus-menerus, kemudian diuji melalui pengalaman selama beberapa generasi. Keteraturan musim, arah angin, curah hujan, peredaran bintang, arus laut, perilaku hewan, serta pertumbuhan tanaman menjadi semacam “buku terbuka” yang dibaca oleh para pelaut dan petani pada masa lampau.

Dengan demikian, ilmu tersebut sangat bergantung pada relatif stabilnya pola-pola alam. Jika perubahan arah angin biasanya terjadi pada bulan tertentu, para pelaut dapat memperkirakan waktu yang tepat untuk berlayar. Jika kemunculan suatu rasi bintang bertepatan dengan datangnya hujan, para petani dapat menjadikannya petunjuk untuk mulai menanam. Pengalaman yang berulang lalu disimpan dalam ingatan kolektif, diwariskan melalui praktik sehari-hari, atau dicatat dalam naskah seperti Lontaraq Pattapingang.

Dampak negatif Global Warming terhadap Putika

Efek terbesar dari perubahan iklim adalah ketidakteraturan kondisi cuaca. Kenaikan suhu bumi memengaruhi sirkulasi atmosfer dan laut, sedangkan perubahan pola curah hujan membuat batas antara musim hujan dan musim kemarau semakin sulit diperkirakan. Musim dapat datang lebih awal, terlambat, berlangsung lebih singkat, atau justru menjadi lebih panjang daripada yang biasa dikenali masyarakat. Fenomena seperti El Niño dan La Niña juga dapat memperkuat kekeringan maupun curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Bagi nelayan, perubahan tersebut bukan persoalan abstrak. Ketidakpastian arah dan kekuatan angin dapat menentukan apakah sebuah perahu kecil dapat kembali ke daratan dengan selamat. Gelombang tinggi yang muncul di luar pola yang biasanya dikenal dapat memperbesar risiko kecelakaan. Pergeseran suhu dan arus laut juga memengaruhi lokasi berkumpulnya ikan, sehingga nelayan harus berlayar semakin jauh dengan biaya yang lebih besar. Sementara itu, masyarakat pesisir menghadapi ancaman abrasi, banjir rob, kerusakan permukiman, dan meningkatnya kadar garam pada sumber air maupun lahan pertanian.

Dalam konteks ini, perubahan iklim berubah menjadi ancaman nyata terhadap ilmu orang Mandar. Perubahan iklim mengacaukan hubungan antara tanda alam dan peristiwa yang dahulu mengikutinya. Sebuah tanda yang pada masa lalu menandai datangnya hujan belum tentu menghasilkan keadaan serupa pada masa sekarang. Angin yang dahulu bertiup secara relatif teratur pada bulan tertentu dapat bergeser atau berubah kekuatannya. Kalender pengetahuan yang disusun berdasarkan pengulangan alam pun menghadapi keadaan yang belum pernah dialami oleh generasi terdahulu.

Di sinilah letak ancaman yang sering luput dibicarakan. Kepunahan pengetahuan tidak selalu dimulai dengan terbakarnya sebuah naskah. Ia dapat berlangsung secara perlahan ketika tidak ada lagi orang yang mampu menjelaskan makna suatu simbol; ketika seorang pelaut tua wafat tanpa sempat mewariskan ilmunya; ketika anak-anak nelayan tidak lagi mengenal nama angin dan bintang; atau ketika tanda alam yang dahulu dapat dibaca tidak lagi muncul pada waktu yang sama. Naskah mungkin tetap tersimpan, tetapi hubungan antara tulisan, pembaca, praktik, dan lingkungan yang memberinya makna telah terputus.

Dengan kata lain, global warming tidak hanya mengancam benda dan tempat, tetapi juga kemampuan manusia untuk mengingat. Lontaraq Pattapingang memang merekam sebagian pengetahuan orang Mandar, tetapi naskah tersebut tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri. Tanpa keterangan dari pelaut, petani dan pemangku adat, tabel-tabel putika di dalamnya berisiko berubah menjadi susunan tanda yang kehilangan konteks.

Sobat Lontara, kisah Lontaraq Pattapingang memperlihatkan bahwa naskah kuno bukan hanya benda mati yang berbicara tentang dunia yang telah berlalu. Di dalamnya tersimpan jejak hubungan panjang antara manusia, laut, langit, tanaman, hewan, dan perubahan musim. Tabel-tabel dan keterangan cuaca yang tampak sederhana sesungguhnya merupakan arsip pengamatan lingkungan yang dihimpun melalui pengalaman lintas generasi.

Oleh sebab itu, perjuangan menghadapi perubahan iklim juga harus dipahami sebagai perjuangan mempertahankan kebudayaan dan ingatan. Sebab apabila laut, angin, musim, dan bentang alam tempat ilmu itu dilahirkan telah berubah tanpa dapat dikenali lagi, kita bukan hanya kehilangan petunjuk untuk membaca alam. Kita juga kehilangan sebagian dari cara orang Mandar, Toraja, Bugis, Makassar, Bajau, Buton, Jawa, Batak, Sumbawa, Bali, Manggarai, Timor, dan masyarakat lainnya dalam memahami dirinya sendiri.

Referensi:

Abd. Rahman Hamid, Jaringan Maritim Mandar: Studi tentang Pelabuhan “Kembar” Pambauwang dan Majene di Selat Makassar 1900-1980, Yogyakarta: Ombak, 2021.

Arief, Menyusuri Kesaktian Orang Mandar di Pesisir Kalsel, Radar Banjarmasin, https://radarbanjarmasin.jawapos.com/feature/1804020013/menelusuri-kesaktian-orang-mandar-di-pesisir-kalsel#goog_rewarded

Muhammad Ridwan Alimuddin, Pelaut Bugis, Dg. Palippu dan Pendapatnya, https://www-archive.cseas.kyoto-u.ac.jp/sulawesi/lib/pdf/MRidwanAlimuddin.pdf

Suradi Yasil, Inventarisasi, Transkripsi, Penerjemahan dan Penulisan Latar Belakang Isi Naskah Kuno/Lontara Mandar daerah Sulawesi Selatan, Makassar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/1985.

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Menebar Budaya, Menuai Bisnis

Siapa bilang anak Makassar itu kasar dan doyannya cuma jotos-jotosan? “Muda, bisnis, dan budaya” adalah kata kunci yang tepat untuk menggambarkan tiga orang pemudi asal Sulawesi Selatan ini. Mereka berhasil membuktikan bahwa Makassar nggak selamanya all about kekerasan dan tawuran. Berbekal keberanian, kreatifitas, dan sedikit modal, mereka berbisnis sambil memanfaatkan kearifan lokal. Uniknya lagi, mereka mampu untuk membungkus kebudayaan dalam bentuk yang lebih casual. Penasaran? Yuk berkenalan dengan mereka 🙂

Ayu Azhariah

Dara yang terlahir tanggal 25 Desember 1988 ini memang luabiasa. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai mahasiswi S1 Akuntansi dan Sastra Jepang Universitas Hasanuddin, Ia masih sempat untuk menjadi volunteer di lokal chapter AFS Bina Antarbudaya Makassar dan aktif di Ikatan Mahasiswa Akuntansi. Tidak hanya itu, ternyata Ia juga berbisnis pulsa elektronik! Seakan belum cukup untuk mewadahi ekspresi kewirausahaan mandirinya, belakangan ini Ia menemukan sebuah bisnis baru. Bisnis alat kosmetik tradisional ala suku Bugis-Makassar: Ba’da Lotong.

Apa sih yang membuatnya begitu getol berbisnis di bangku kuliah? Awalnya memang hanya sekedar untuk mengisi waktu luang. Ekonomi sebagai background keilmuannya seakan-akan menuntut untuk diaplikasikan secara nyata. Keterlibatannya dalam berbisnis Ba’da Lotong pun berawal dari dukungan bibi salah seorang temannya. Ia menyatakan sanggup menerima tawaran berbisnis Ba’da Lotong di tengah maraknya kosmetik-kosmetik asing. Masih menurut gadis yang biasa dipanggil Ua ini, Ba’da Lotong memiliki segmentasi pasar tersendiri karena belum ada orang yang berjualan produk sejenis berbentuk kemasan rapi. Apalagi kosmetik ini tergolong barang tradisional yang sudah langka digunakan (dahulu hanya gadis bangsawan Bugis yang memakainya), selain karena ribet kalau harus diproduksi sendiri. Ba’da Lotong yang berarti Lulur Hitam ini tidak mengandung bahan-bahan kimia karena komposisinya terdiri atas beras, air dan jeruk nipis. Apabila secara rutin dioleskan ke tubuh, Ba’da Lotong berkhasiat memutihkan dan memperhalus kulit lho!

Ua mengaku senang memasarkan Ba’da Lotong. Produk ini merupakan produk tradisional, jadi sambil berbisnis bisa sambil memperkenalkan budaya daerah kepada teman-teman. Ada kepuasan tersendiri di dalam dirinya karena berhasil mempromosikan lulur hitam ini kepada generasi muda yang dulunya hanya mendengar cerita-cerita mengenai ramuan kecantikan dari orang tua mereka. Sasaran Ua dalam memasarkan Ba’da Lotong ialah kaum Hawa, khususnya dara-dara Bugis-Makassar. Tetapi, Ia mengaku masih tersendat  beberapa hal dalam memasarkan Ba’da Lotong. Pertama, karena awam dalam hal bisnis, jika ada pesanan dari luar Makassar terkadang Ia bingung bagaimana dengan sistem pembayarannya. Selain itu karena Ia juga tergolong pemakai baru produknya, Ia takut mengungkapan keunggulan-keunggulan yang belum pernah Ia rasakan sendiri. Wah, ini nih yang patut ditiru pemuda dan pebisnis zaman sekarang: jujur apa adanya dengan produk mereka sendiri 🙂

Diandra Sabrina

Menjadi seorang “doctorpreuner”, itulah yang dicita-citakan oleh alumni SMA Negeri 17 Makassar ini. Meskipun sekarang tengah berstatus sebagai mahasiswi di Fakultas Kedokteran Umum Universitas Hasanuddin, Ia lihai memanfaatkan waktu luangnya untuk merambah dunia bisnis. Tidak tanggung-tanggung, Diandra yang pernah tinggal di Wisconsin, Amerika Serikat sebagai siswi pertukaran pelajar AFS ini berhasil mengemas kain tradisional khas Sulawesi Selatan dengan apik sehingga menjadi incaran para remaja gadis pecinta sepatu.Keinginan Diandra untuk berbisnis sepatu tidak muncul dengan tiba-tiba. Awalnya Ia diajak teman untuk mengikuti lomba wirausaha di kampus.

Konsep berupa “sepatu modis berbalutkan kain Sutera Sengkang” ternyata berhasil  mengusung mereka menjadi pemenang. Bisnis yang Ia jalankan bersama empat orang lainnya ini (Nadia, Niny, Putri dan Chai) kemudian mereka lanjutkan karena prospeknya bagus. Dengan ide-ide kreatif, mereka berhasil menangkap antusisame gadis-gadis muda yang tidak bisa hanya memiliki sepasang sepatu dan memadukannya dengan daya tarik keunikan sepatu handmade. Mereka juga memanfaatkan momen ini untuk sekaligus mengembangkan Sutera Sengkang sebagai kain khas Sulawesi Selatan. Alhasil, lahirlah Ewako Shoes dengan jargon mereka “put some silk on your pretty feet.”

Produk sepatu handmade memang marak belakangan ini, akan tetapi yang mengombinasikannya dengan kain Sutera Sengkang baru Ewako Shoes. Di samping itu, produksinya pun terbatas,  jadi nggak pasaran. Ewako Shoes tidak memproduksi sepatu bermotif atau berbentuk sama dua kali. Diandra mengaku bahwa setelah terjun di Ewako Shoes Ia  jadi tahu lebih banyak tentang ilmu bisnis dan link pun menjadi lebih luas. Namun, satu hal yang membuatnya bangga adalah Ia dapat melestarikan sekaligus mempromosikan kebudayaan khas daerah kepada remaja-remaja lainnya. Kendala-kendala yang Ia hadapi dalam berbisnis dengan kearifan lokal ini antara lain ialah jadwal kuliah yang padat, serta bisnis serupa yang semakin banyak banyak saingannya. Selain itu, bahan baku utama berupa Sutera Sengkang masih belum terlalu banyak dikenal oleh masyarakat dibandingkan batik, produksinya pun masih terbatas. Tapi jangan khawatir, all shoe lovers, Ewako Shoes telah menyiapkan rancangan sepatu unik-sepatu unik lainnya di masa mendatang. Penasaran dengan produk-produk mereka? Silakan kunjungi http://ewakoshoes.webs.com/.

Marlisa Supeno

Manessa Ethnicbags, demikian nama merek dagang usaha yang dirintis oleh Marlisa Supeno. Gadis yang pernah mewakili Indonesia dalam ajang WSDC 2001 di Afrika Selatan ini menuturkan bahwa sejak masih duduk di bangku kuliah Ia telah terbiasa mencari penghasilan sendiri. Berjualan fashion item seperti baju, tas dan sepatu, diakuinya sebagai hobi.

Produk yang Ia produksi di Manessa Ethnicbags berupa tas Tenun Sengkang. Sedikit banyak Ia terinspirasi dari keindahan corak dan warna tenun sengkang itu sendiri, selain karena semakin  maraknya trend tas etnik. Kepopuleran tas batik di pasaran membuatnya tergerak agar tenun sutera sengkang juga bisa mendapat tempat yang baik di kalangan masyarakat. Menurut dara yang akrab dipanggil Ica ini,  bisnis yang Ia jalankan juga merupakan salah satu perwujudan dari idealismenya untuk melestarikan kekayaan budaya Sulawesi Selatan. Wah, sambil menyelam minum air ya!

Manfaat yang Ia dapat selama berbisnis tas etnik selain keuntungan finansial, yang paling utama adalah jaringan, dan semakin dikenal luasnya Tenun Sengkang. Kendati demikian, karena Ica menjalankan bisnis ini secara part time, pengelolaannya belum bisa maksimal. Ia belum sempat bertemu dengan pihak-pihak ataupun instansi-instansi terkait di Sulawesi Selatan untuk memperkenalkan produknya. Ia berharap, seluruh segmen masyarakat dapat menjadi target konsumen Manessa Ethnicbags. Keinginan terbesarnya ialah agar masyarakat luas dapat semakin cinta terhadap produk lokal Indonesia. Tiga kata yang tepat untuk menggambarkan produk-produk rancangan Marlisa Supeno? Ethnic, stylish, and fabulous! Yuk lihat koleksi-koleksi cantiknya di http://www.facebook.com/manessa.ethnicbags