Categories
Featured Galigoku

Siger: Lambang Lampung nan Feminin dan Misterius

Provinsi yang terletak di ujung paling selatan pulau Sumatera ini bak mutiara yang terpendam. Keindahan alam serta kekayaan budaya Lampung kurang terekspos di panggung budaya nasional. Simak cerita singkat Astri Agustina dalam lawatan singkatnya ke provinsi multikultural ini untuk pertama kali.

Meskipun terlahir di tengah keluarga Jawa (Ayah dari Probolinggo dan Ibu dari Surakarta) -menghabiskan sebagian besar masa hidup saya berada di Pulau Jawa, dan bangga terhadap kebudayaannya- saya memiliki ketertarikan dan keingintahuan yang tinggi terhadap atribut-atribut budaya dan sejarah, baik di wilayah dalam maupun luar negeri Saya sangat senang berkeliling mengunjungi berbagai wilayah, terutama daerah-daerah di Nusantara. Selain menghabiskan masa kecil di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, saat ini saya sering mengadakan perjalanan kerja ke berbagai tempat. Di tengah-tengah keterkejutan kita akan buruknya taraf hidup gajah di habitatnya yang selama ini kita banggakan, Way Kambas, kali ini saya akan berbagi sedikit mengenai pengalaman saya ketika mengunjungi Lampung.

Kesan pertama yang saya dapatkan ketika beberapa bulan yang lalu mendarat di Bandar Udara Radin Inten Lampung adalah betapa panasnya Lampung. Udara panas terik khas wilayah laut layaknya Surabaya dan Jogjakarta. Tetapi, begitu memasuki kota Bandar Lampung, saya mengamati ada yang sangat menarik dari atap gedung-gedung di Lampung. Di ujung atap bangunan-bangun di kota Bandar Lampung, baik itu kantor pemerintahan, rumah penduduk, sampai ke rumah makan-rumah makan terdapat hiasan yang berbentuk seperti mahkota atau hiasan kepala mempelai wanita. Yang menarik dari hiasan tersebut, selain keberadaannya yang dimana-mana, adalah bentuk yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Berbentuk seperti bunga teratai yang memiliki lima kelopak berujung lincip dengan kelopak tengah yang berperan sebagai poros berbentuk paling besar seperti segitiga.

Tugu Siger di Bandar Lampung. Sumber: Wikipedia

Berangkat dari ketertarikan ini, maka saya pun bertanya ke tuan rumah, teman-teman saya yang berada di Lampung. Selain bahwa benda berbentuk mahkota itu disebut sebagai Siger, nyaris tidak ada yang mengetahui informasi lebih mendalam mengenai fungsi maupun makna dari keberadaan benda tersebut. Rupanya, menurut dugaan salah seorang teman, pengwajiban Pemerintah Lampung kepada warganya untuk memasang hiasan tersebut merupakan salah satu bagian dari kampanye budaya yang sedang digalakkan pemerintah. Pemerintah Lampung merasa bahwa generasi muda di sana nyaris kehilangan identitasnya. Sangat sedikit generasi muda yang menggunakan atau bahkan sekedar mengerti Bahasa Lampung asli yang dekat dengan Bahasa Melayu. Walaupun saya kemudian menjadi sedikit kecewa setelah mengetahui bahwa hiasan tersebut diwajibkan, bukanlah kesadaran pribadi warga Lampung, tetapi saya juga memahami apabila terkadang memang kesadaran harus dibina secara top-down, diawali dengan kebijakan pemerintah baru kemudian menjadi kesadaran individu. Lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

Akibat rasa ingin tahu saya belum juga terpenuhi, maka kemudian saya melakukan riset online sederhana mengenai apa “Siger” ini. Sekali lagi, saya mendapatkan kekecewaan, mendapati ternyata Pemerintah Lampung yang katanya sedang menggalakkan kampanye pelestarian budaya, ternyata tidak menyediakan informasi yang memadai terkait “Siger” ini di laman resmi mereka. Informasi yang lengkap malah saya dapatkan dari blog-blog pribadi mereka yang ternyata merasakan ketertarikan yang sama ketika mengunjungi Lampung.

Hasil menyarikan berbagai blog pribadi tersebut, usut punya usut, rupanya Siger ini merupakan hiasan kepala mempelai wanita dalam pernikahan adat Lampung. Pemilihan Siger sebagai lambang Provinsi Lampung menjadi semakin menarik bagi saya karena Siger cenderung merepresentasikan feminitas. Lampung merupakan satu dari sedikit –jika bukan satu-satunya, karna saya tidak berani memberikan klaim atas hal yang belum saya teliti secara seksama- wilayah di Indonesia yang memilih “benda feminim” sebagai lambang wilayahnya. Bahkan, Minangkabau yang terkenal dengan budaya matrilinealnya pun lebih akrab dengan rencong yang cenderung bersifat maskulin (karena merupakan senjata-red).

Saya sungguh ingin memahami lebih dalam latar belakang historis maupun sosio-kultural dari pemilihan Siger sebagai lambang khas wilayah Lampung. Sayangnya, ketersediaan akses bagi saya terhadap referensi-referensi lengkap yang terpercaya masih sangat terbatas. Seandainya ada pembaca yang sudi menambah terbatasnya pengetahuan saya, bahkan mengkritisi sekalipun, saya tentu akan sangat senang.

Fight Cultural Illiteracy!

Astri Agustina Sidik, mahasiswi tahun akhir jurusan Hubungan Internasional UGM ini telah memiliki ketertarikan terhadap sejarah sejak mendapatkan pelajaran sejarah di SD. Biasa mengisi waktu luang dengan menonton film, jalan-jalan, berbelanja dan menambah pengetahuan tentang kultural-historis (membaca maupun diskusi). Aktif menjadi sukarelawan di Yayasan Bina Antarbudaya -Malang dan Yogyakarta- serta freelance pelatih maupun juri debat parlementer.

 

Categories
Featured Galigoku

Cerpen: Dan Mereka pun Terculik

Tergelitik oleh realita semakin jauhnya generasi muda dari budayanya sendiri, seorang Sobat Lontara bernama Hanif Juneidy merangkai kalimat menjadi cerita pendek ini. Anugerah Tuhan berupa 800 ragam budaya Indonesia, jika bukan generasi muda bangsa lalu siapa yang jaga? Selamat membaca!

Matahari masih malu-malu mengintai di ufuk timur sana ketika kulangkahkan kaki di jalanan ini. Sinar hangatnya menelusup dahan-dahan pohon mangga di kanan kiri jalan, kemudian jatuh membelai permukaan jalan yang dilapisi aspal.

Aku tersenyum menatap permukaan jalan yang kuinjak . Dulu jalan ini masih berupa tanah bercampur kerikil-kerikil kecil, beberapa tahun yang lalu. Aku merasai kedua telapak kakiku. Ah, rasanya baru kemarin telapak kaki telanjangku menjejak jalanan tanah. Telapak kaki ini masih ingat betul rasa lembut tanah dan cubitan-cubitan kerikil-kerikil kecil saat aku berlarian di jalanan ini, bertahun-tahun yang lalu. Kini tanah dan kerukil-kerikil itu tidak ada.

Aku terus menyusuri jalan. Sambil menghirup udara pagi pertama di tanah lahirku ini setelah beberapa tahun meninggalkannya. Ya, kemarin sore aku kembali menginjakkan kaki di desa tempatku lahir dan menghabiskan masa kecilku ini. Kembali dari tanah rantau di pulau seberang tempat menuntut ilmu.

Cukup lama aku meninggalkan desa kecil ini, dan sekarang keadaannya tidak sepenuhnya sama seperti dulu. Ketika aku meninggalkannya empat tahun yang lalu, belum ada toko-toko yang menjual aneka barang berdiri kokoh di beberapa titik di kanan kiri jalan. Waktu itu hanya ada beberapa warung sederhana dengan bangunan yang sederhana pula. Waktu itu, di pinggir jalanan ini tak ada tiang-tiang besi yang berdiri dengan angkuhnya. Dan sekarang, di sepanjang jalan beberapa tiang listrik telah dipasang untuk kebutuhan listrik yang merata bagi seluruh warga desa ini. Aku bersyukur di dalam hati, pembangunan infrastruktur desaku ini cukup baik.

Oh, aku hampir lupa. Aku menyusuri jalanan ini bukan tanpa tujuan. Selain untuk menyesap udara segar pagi aku juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang tak bisa aku datangi empat tahun terakhir ini. Tempat dimana aku menghabiskan hampir seperempat waktuku dalam sehari, beberapa tahun yang lalu. Ah, aku begitu merindukan tempat itu. Semoga tempat itu masih ada, semoga.

Aku membelok. Memasuki gang sempit yang diapit dua rumah. Tentu aku masih ingat siapa pemilik dua rumah ini. Pak Kordi dan Mbok Jannah. Aku masih ingat betul, Mbok Jannah selalu berteriak-teriak kesal begitu aku dan kawan-kawanku melewati gang ini sambil bersenda-gurau, tertawa dengan berisiknya dan menurut Mbok Jannah itu mengganggu tidur cucunya yang masih bayi. Tapi bukannya lantas diam, kami malah mengencangkan tawa kami sambil berlarian. Meninggalkan wajah kesal Mbok Jannah di jendela samping rumahnya.Dan kami tak pernah kapok melewati gang itu, meski harus mendengar ocehan Mbok Jannah. Aku tersenyum mengingat ulah usilku itu.

Aku terus berjalan hingga  tiba  di ujung gang. Aku berhenti, menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Aku kembali melangkah dan mataku menatap lurus ke depan, penuh harap. Kurasakan tubuhku merinding. Rasa bahagia dan rindu menyeruak begitu menyadari tempat itu masih ada.

Ya, tempat itu. Sepetak lapangan tak terlalu luas yang berada di tengah desa ini. Mungkin bukan tempat yang istimewa bagi orang lain. Tapi bagiku dan teman-teman masa kecilku, tempat ini lebih istimewa dari taman mini indonesia indah di Jakarta sana. Tempat ini menyenangkan. Tempat kami melepas segala penat, menumpahkan gelak-tawa, tempat berbagi kesenagan dan kadang perseteruan-perseteruan kecil. Dulu tempat ini begitu istimewa bagi kami. Bahkan sampai sekarang aku masih menganggapnya istimewa. Karena tempat ini merekam begitu banyak kenangan.

Aku berdiri di tengah lapangan. Mengedarkan pandangan. Tempat ini masih sama. Di sisi kanan sana masih berdiri kokoh beberapa pohon jati yang meneduhkan lapangan. Kemudian dua pohon jambu itu masih berada di tempatnya seperti dulu, di pojok lapangan. Mereka tampak lebih kokoh sekarang, dan sedang memamerkan kuncup bunga-bunganya, bakal calon buah jambu. Dulu aku yang paling semangat berburu buah jambu di pohon itu.

Aku menghela nafas lega. Syukurlah, aku masih bisa menemukan tempat ini. Tapi, sebentar… Ada yang aneh dengan tempat ini sekarang. Kuedarkan pandanganku sekali lagi, memastikan.

Sepi. Tempat ini begitu sepi. Hanya ada aku. Bagaimana bisa? Ini aneh.

Bentuk fisik tempat ini memang tak banyak berubah seperti yang terakhir kulihat empat tahun lalu. Tapi bagaimana bisa tempat ini sesepi ini? Aku masih ingat betul setiap pagi dan sore hari tempat ini tak pernah sepi dari bocah-bocah kecil sampai para remaja. Mereka, termasuk aku dan kawan-kawanku selalu bermain dan meramaikan tempat ini, dulu. DI ujung sana adalah tempat para bocah bermain gobak sodor, egrang, lompat tali. Di sisi pohon-pohon jati itu biasanya anak-anak bermain benteng atau petak umpet. Dan di sebelah sana adalah tempat para remaja desa ini bermain sepak bola.

Tapi sekarang? Semua sisi lapangan ini sepi. Tak ada anak-anak yang bermain gobak sodor, lompat tali , benteng, petak umpet. Tak ada para remaja yang bermain bola. Dan aku juga baru sadar pohon jambu yang biasa dijadikan arena memanjat pun kini sepi. Kemana mereka?  Oh, apalagi di hari minggu pagi. Hari libur sekolah. Tempat ini pasti ramai, dulu.

Ah, apakah aku salah menyangka hari? Apakah ini bukan hari minggu? Apakah anak-anak dan para remaja itu telah pergi ke sekolah sepagi ini? Aku membuka ponsel memastikan ini hari apa. Dan ternyata aku tak salah, ini memang hari minggu. Tapi kemana mereka?

Apakah tempat ini sudah tak menarik lagi bagi anak-anak dan remaja desaku ini? Atau ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa datang kesini hari ini? Entahlah, kebingunganku tak terjawab.

Ah, tempat ini begitu istimewa bagiku dan kawan-kawan masa kecilku. Kami begitu akrab dengan tempat ini. Dari kecil hingga kami menginjak bangku sekolah SD, SMP, dan SMA kami anak-anak desa selalu bermain bersama di tempat ini. Tempat ini menyatukan kami. Tempat ini yang memberikan ruang kebahagiaan pada masa kecil kami. Tempat ini yang mengajarkan bagaimana indahnya kebersamaan, bagaimana perbedaan tidak menghalangi kami untuk bermain dan tertawa bersama…

Ah, begitu banyak kisah yang bisa diceritakan di tempat ini. Bagiku, tempat ini istimewa, dulu, sekarang, dan selamnya. Dan seharusnya sekarang tempat ini juga istimewa bagi anak-anak dan remaja desaku ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja. Ada kekecewaan mengganjal dalam dada. Ketika hendak berangkat ke tempat ini tadi, aku membayangkan betapa serunya anak-anak serta remaja desa sedang berkumpul dan bermain di tempat ini. Seperti yang aku dan kawan-kawanku lakukan dulu. Aku ingin melihat suka-cita itu. Aku ingin bernostalgia. Tapi nyatanya tempat ini sepi.

Kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat ini dengan lesu. Aku berniat kembali ke rumah. Tapi, setengah perjalanan lagi menuju rumah, aku berhenti dan berbalik arah. Tidak, aku tidak berniat kembali ke lapangan itu. Aku ingin ke tempat lain. Rumah Riana dan Robi. Rumah mereka tak jauh dari lapangan itu.

Riana dan Robi, dua bersaudara. Mereka anak dari adik bungsu ibuku. Terakhir bertemu, mereka berusia delapan dan enam tahun. Dan aku ingat betul mereka berdua termasuk dari sekian bocah-bocah yang selalu bermain di lapangan itu. Ya, Riana paling gemar bermain petak umpet dan lompat tali. Sedangkan Robi, dia paling semangat ketika menyelinap dan membuat rusuh permaianan sepak bolaku dan kawan-kawanku.

Riana dan Robi pasti tahu sesuatu. Mereka pasti tahu mengapa pagi ini lapangan itu begitu sepi. Aku sampai di depan rumah mereka. Setelah mengucap salam dan mengetuk pintu, aku langsung membuka pintu dan masuk. Aku menuju ruang tengah.

“Wah, mas Edho? Mas Edho pulang kampung. Jadi bener apa yang ibu bilang tadi,” ucap Riana setengah berteriak. Gadis itu kemudian beranjak dari kursinya dan menyalamiku.

“Iya. Kemarin sore nyampe rumah. Eh mana paman sama bibi?” Aku bertanya sambil duduk di sofa.

“Ayah sama Ibu pergi kerumah Nenek pagi-pagi tadi,” jawab Riana. Gadis itu kini kembali ke tempat duduknya tadi. Kemudian mengambil sebuah netbook dan memangkunya. “Oia, si Robi juga ada di rumah kok. Dia ada di kamar. Robiiii… Ada mas Edho nih. Dia udah pulang dari Sumatra loooh!” Riana berteriak memanggil adiknya.

“Wah, Mas Edho…! Oleh-olehnya dong mas. Hehehe…” Robi keluar kamar menujuku sambil cengengesan.

“Wah, kau sudah besar Robi. Sayang sekali aku tadi kesini ga bawa sesuatu. Tapi di rumah ada oleh-oleh buat kalian berdua kok.” Aku mengacak-acak rambut Robi.

“Asiiik!” Robi berteriak senang dan duduk di sebelahku.

“Eh, hari minggu gini kok kalian di rumah aja? Nggak maen ke luar?” aku mulai mencari keterangan.

“Ah, males Mas. Mending di rumah aja. Berpetualang di dunia maya, seru!” jawab Riana masih sambil memangku netbook-nya. Kedua matanya tak lepas dari layar netbook itu.

Keningku berkerut. Aku coba melongok ke arah layar netbook Riana. Ah, kukira dia sedang mengerjakan tugas sekolah, ternyata dia sedang asyik dengan situs-situs online shop.

“Iya, Mas. Daripada capek-capek maen di luar mending di rumah aja. Maen game, nonton video, internetan. Asik lah pokoknya. Hehe.” Robi menambahkan sambil cengengesan.

Lidahku kelu. Entah apa yang harus kukatakan kepada mereka.

“Oh ya Mas, aku ke kamar dulu ya. Mau maen game online lagi. Mas, mau ikut?” Robi menawarkan sambil beranjak dari sofa. Aku hanya menggeleng dan dia langsung meluncur ke kamarnya.

“Ehm, Riana… Aku pulang dulu ya. Ntar salam ke paman dan bibi.” Aku pamit pulang. Rasanya campur aduk dan aku tak bisa berkata lebih dari ini.

Riana menoleh. “Kok cepet Mas? Nggak sarapan atau minum dulu?”

Aku menggeleng.

Keluar dari rumah Riana, bukannya pulang ke rumah, langkah kakiku malah membawaku menuju lapangan itu lagi. Antara rumah Riana dan lapangan itu hanya terpisah beberapa rumah saja.

Kuedarkan pandanganku ke arah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju lapangan. Kupelankan langkahku. Pandangan mataku masuk menyelinap ke dalam rumah-rumah itu melalui jendela atau pintu yang terbuka. Kuamati.

Dari celah jendela atau pintu yang terbuka bisa kulihat dua atau tiga anak-anak dan remaja sedang asik melakukan sesuatu. Mereka duduk menghadap sesuatu, saling diam seperti sibuk sendiri-sendiri. Sesekali terdengar teriakan mereka. Terkadang teriakan kemenangan dan juga teriakan kekecewaan. Kemudian hening lagi, mereka sibuk sendiri-sendiri lagi.

Sedang apa mereka? Kuhentikan langkahku. Kuamati lebih cermat. Terlihat mereka masing-masing duduk menghadap sebuah layar, terpampang gambar gerak warna-warni di layar itu. Ah, aku  sadar. Mereka sedang asyik bermain game, ada juga yang sedang menjelajah berbagai situs hiburan.

Aku menghela nafas dan melanjutkan langkah. Ya, mereka anak-anak dan para remaja itu sedang asyik bermain di rumah masing-masing. Bermain dengan layar ajaib di depan mereka. Entah sudah sejauh mana mereka telah tersedot ke dalam dunia ‘asing’ itu.

Langkah kakiku sudah membawa diriku di lapangan itu lagi. Kemudian aku berjalan menuju pojok lapangan, tempat dua pohon jambu. Aku duduk bersandar pada salah satu pohon. Perasaanku campur aduk.

Kuhela sebuah nafas berat. Mataku menatap lekat-lekat ke depan. Dari posisi ini aku bisa melihat setiap sisi lapangan. Setiap sisi lapangan yang selalu penuh dengan keceriaan anak-anak dan remaja desa ini. Setiap sisi lapangan yang selalu dipenuhi canda tawa  menggema. Itu dulu. Dan kenyataannya, kini hanya sepi lah yang sudi menemani lapangan ini.

Ah, andai lapangan ini bisa berbicara, pasti kini ia sedang menangis. Meratapi anak-anak dan remaja desa ini yang telah diculik. Terculik oleh dunia ‘asing’ itu. (*)

 

Hanif Juneidi Ady Putra, putra asli Mojokerto, Jawa Timur yang tengah menghadapi tantangan hidup sebagai mahasiswa rantau di kota Yogyakarta. Aktifis PMII UGM ini adalah pecinta sastra yang tak pernah bosan membaca buku. Penggenggam moto “menyukai perbedaan & keberagaman. Karena perbedaan adalah berkat dari Tuhan”, ini mengagumi Gus Dur hingga J.K. Rowling sebagai inspirasinya.