Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Ssst… Hanya Ada Boontjes di Belanda!

Rekan kita Louie Buana yang sedang belajar di negeri Belanda punya cerita seru tentang sejenis kacang-kacangan yang merubah dunia. Penasaran? Yuk simak kisahnya!

Selama beberapa bulan pertama di Leiden, saya dan teman-teman penerima beasiswa Encompass dari Leiden University diwajibkan untuk mengikuti kelas Bahasa Belanda. Setiap hari (kecuali hari rabu dan weekend) kami berkuliah di gedung Lipsius Faculty of Humanities yang letaknya tepat berada di sebelah KITLV dan di seberang Leiden University Library yang menyimpan NBG 188. Saya pribadi merasa senang sekali rasanya bisa berada sedekat ini dengan naskah La Galigo terpanjang di dunia! Pun kami tak kalah senang karena diajar oleh Renate Overbeek, seorang docent yang pintar dan amat baik hati.

Belajar Bahasa Belanda ternyata susah-susah gampang. Susah karena background Bahasa Inggris yang kami miliki acap kali menjadi tantangan tersendiri. Kami terus-terusan menggunakan mindset Bahasa Inggris ketika belajar Bahasa Belanda, padahal bahasa yang disebut kedua ini punya aturan struktur kalimat dan gramatika yang berbeda dengan yang disebut pertama. Teman-teman kami yang berasal dari Anak Benua India bahkan lebih kewalahan lagi. Alam bawah sadar mereka yang terbiasa mengenal huruf ‘e’ dengan bunyi ‘i’ membuat mereka berulang kali melafalkan ‘nee‘ (Bahasa Belanda untuk kata ‘tidak’) sebagai ‘ni’.

Nah, Bahasa Belanda tergolong gampang karena banyaknya kemiripan kosakata yang diserap atau dibaginya dengan Bahasa Indonesia. Hubungan selama 350 tahun yang tak selamanya membahagiakan di antara kedua bangsa ini menciptakan jaringan bahasa yang cukup luas. Hal tersebut muncul sebagai jawaban untuk saling melengkapi kebutuhan zaman akan nama-nama benda atau sifat yang tak dimiliki oleh masing-masing. Ambil contoh kata keramiek dan tegels. Lalu ada cursus, hallo, kantine, koffie, bezoek, foto, korting, donker, oom, tante, opa, oma, trakteer, idee dan glas yang diadopsi sedemikian rupa ke dalam bahasa kita. Orang-orang Belanda sendiri juga mengambil banyak kosakata dari Bahasa Indonesia. Kebanyakan di antaranya berhubungan dengan makanan yang tidak mereka miliki. Ambil contoh, ada kata: kroepoek, sambal, nasi, pisang, bami, tempeh dan sate.

Di antara sekian banyak kata-kata tersebut, ada satu yang menarik perhatian saya. Kata tersebut ialah: boontjes alias buncis. Apakah buncis berasal dari Bahasa Belanda boontjes, atau justri boontjes-lah yang berasal dari Bahasa Indonesia? Hmmm… Kali ini, sepertinya buncis memang berasal dari boontjes.  Lho, kok bisa?

Kacang buncis (Phaseolus vulgaris) aslinya berasal dari daerah sekitar Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Bersama jagung, buncis adalah tumbuhan yang tidak dikenal oleh umat manusia sebelum era eksplorasi Columbus ke Dunia Baru. Bangsa Eropa yang mengolonialisasi Benua Amerika lalu menyebarkan tanaman buncis ini ke berbagai penjuru bumi. Zaman dahulu kala, selain dijadikan sebagai bahan makanan, buncis juga digunakan sebagai media untuk meramal lho! Ilmu ramal dengan menggunakan buncis ini disebut dengan nama favomancy. Wah, keren ya buncis bisa dipakai untuk menentukan nasib seseorang! Tidak hanya itu, kacang buncis juga ternyata bertanggungjawab atas meningkatnya populasi umat manusia serta pemicu terjadinya Revolusi Industri!

Some researchers have suggested that the introduction of beans has driven dramatic population growths in many parts of the world. In fact, beans may have driven the industrial revolution as much as the increasing use of fossil fuels. As a cheap and abundant food resource, beans provided the impoverished workers with enough nutrients and energy to get through the long, grueling work days.

Canned beans appeared on the scene in the late 19th century, and provide a cheap and easy food. The original canned beans were the Boston Baked Beans, but now many different recipes have been adapted for canning purposes. A sub-culture devoted to the preparation of beans and unique bean recipes has arisen, and beans are an important part of pop culture as well.

(Source: American Indian Health and Diet Project)

Gambar kacang buncis di buku Les plantes potagères, katalog Vilmorin-Andrieux et Cie, 1891

Hari ini, Indonesia merupakan negara produsen buncis kedua terbesar di dunia, hanya setelah Cina. Meskipun demikian, kenyataan bahwa sejatinya buncis lebih duluan dikenal oleh Belanda tak terelakkan. Yang jelas, di Belanda hanya ada boontjes karena tak ada buncis! Seru ya, dari buncis kita bisa belajar sejarah akan banyak hal. Mari, terus menuntut ilmu!

Categories
Galigo Gallery Photos

WHD Makassar 2014

Klik untuk memperbesar gambar

Kali ini Lontara Project Chapter Makassar bekerjasama dengan Museum Kota mengagas sebuah acara bertemakan jaman dulu untuk dinikmati seluruh warga yang tinggal di sekitar kota Makassar.

Dibantu oleh beberapa komunitas lain, WHD Makassar akan dilaksanakan pada tanggal 18 April 2014, bertempat di Museum Kota Makassar.

Bagi yang berminat hadir, jangan lupa menggunakan atribut yang telah ditentukan. Bagi yang ingin bergabung, silahkan hubungi @Jiecess 🙂

Tiada kesan tanpa kehadiranmu…

Categories
Featured Galigoku Old Stuff Good Stuff

Dari Masa Lalu untuk Masa Depan Indonesia

Sejak ratusan tahun lalu, suku-suku di Nusantara telah bersinggungan dengan bangsa Belanda, yang telah memberi mereka sentuhan dengan perkembangan modern. Dampak revolusi industri, Perang Dunia I dan Perang Dunia II juga telah ikut mempengaruhi suku-suku bangsa di Nusantara berkat hubungan dengan bangsa Belanda.

Namun kemudian revolusi terjadi, darah tertumpah dan abad pun telah berubah, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Hubungan dengan Belanda tak lagi seperti zaman silam itu, dimana nasib bangsa kita ditentukan di Den Haag, hasil ekspor kita dikumpulkan di Pelabuhan Rotterdam, dan berbincang dalam bahasa Belanda dipandang eliter. Kini semua bebas ditentukan oleh kita sendiri di Jakarta, produk ekspor dapat kita kirim ke pelabuhan mana saja kita suka. Dapat dikatakan kini pengaruh Belanda telah tertelan zaman.

Kendati pengaruh Belanda dalam kehidupan sehari-hari telah diminimalisir, bahkan nyaris hilang dibandingkan dengan zaman silam itu, namun kita tak boleh melupakan hubungan dengan mereka. Pikirkanlah, Indonesia dijajah oleh Belanda selama berabad-abad. Akankah dalam kurun waktu 68 tahun, yang digonjang-ganjing oleh instabilitas politik,  terdapat suatu penelitian rinci mengenai dampak penjajahan dalam kurun waktu selama itu?

Gedung KITLV, lembaga riset kerajaan Belanda yang telah berdiri sejak tahun 1851 di Leiden. Fokusnya adalah kajian mengenai budaya dan sejarah Indonesia. Di depan KITLV terdapat tulisan berupa syair (elong) dengan aksara Lontaraq Bugis.

Di tengah perkembangan modern dimana haluan RI lebih tertuju ke arah Asia-Pasifik dan mencari pasar-pasar baru hingga persada bumi demi pembangunan nasional, bangsa Indonesia justru apatis dengan sejarah. Kenapa? Memang, sebenarnya sikap ini tidak berlaku eksklusif di Indonesia saja. Setelah Belanda meraih kemerdekaan dari Nazi Jerman lalu memasuki tahun 50-60an dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, orang Belanda juga lebih sibuk dengan masa kini dan masa depan, yang lebih memberi berkah. Sedangkan masa lalu dipandang hanya memberi memori buruk. Demikian pula halnya dengan Indonesia. Setelah reformasi Indonesia sekali lagi mengalami pertumbuhan ekonomi sangat pesat. Apa gunanya untuk Kang Marhaen memikirkan masa lalu, jika setiap hari ia masih hidup Senin-Kamis alias kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya? Syarat agar suatu bangsa menghargai masa lalu ialah dia harus meraih kesejahteraan dulu.

Di situlah terletak hebatnya La Galigo for Nusantara Project. Telah bangkit generasi baru yang sudah meraih tingkat kesejahteraan itu, sehingga bisa fokus peduli pada sejarah bangsanya, Nusantara. Mereka adalah hasil dan bukti perjuangan keras membanting tulang dari generasi-generasi sebelumnya. Para pahlawan Indonesia akan bangga atas kepedulian mereka!

Azzam Santosa, lahir dan besar di kota Delft, Belanda. Pemuda asli keturunan Pekalongan, Jawa Tengah, ini kini tengah belajar Ekonomi dan Hukum di Erasmus University, Rotterdam. Di samping berkuliah, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda.