Categories
101 La Galigo Old Stuff Good Stuff

Review Buku “Ritumpanna Welenrennge” F. Ambo Enre

Jarang sekali ada anak muda abad 21 yang tertarik untuk membaca buku ini. Hmm… Melihat judul dan ketebalan halamannya aja udah bikin males. Apalagi bahasannya yang terkesan jadul, jelas bukan topik ringan yang bisa dijadikan bacaan sebelum tidur atau sembari nungguin bus di halte. Apa sih yang membuat buku ini menarik untuk dibaca?

Melestarikan kebudayaan Indonesia merupakan salah satu tujuan dari buku ini. Tidak heran, sebab hingga sekarang masih sangat sedikit buku yang membahas kisah I La Galigo, padahal karya sastra tersebut merupakan kisah asli leluhur bangsa Indonesia (murni tanpa unsur-unsur India, Cina, Eropa, atau Arab). Hebatnya lagi, epik ini sudah diakui sebagai epos terpanjang di dunia lho!

Buku Ritumpanna Walanrengge

Judul Buku      : Ritumpanna Welenrennge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo 
Penulis             : Fachruddin Ambo Enre
Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia
Cetakan           : I
Tahun Terbit    : 1999
Halaman           : iv + 706 halaman

Terdiri dari lima buah bab, buku yang ditulis berdasarkan disertasi Fachruddin Ambo Enre ini berusaha menelaah salah satu episode dalam La Galigo yang berjudul Ritumpanna Welenrennge. Episode ini merupakan salah satu cuplikan cerita yang paling luas dikenal di kalangan masyarakat Bugis umum, masyarakat tempat asal-muasal epos La Galigo.

Episode Ritumpanna Welenrennge (RW) atau “pohon Welenrennge yang ditebang” menceritakan tentang keinginan kuat Sawerigading untuk membuktikan keberadan adik kembarnya -We Tenriabeng- setelah mendengar keberadaan mengenai sang adik dari Pallawagauq, sepupunya yang menjadi raja di Tompo Tikkaq. Setelah berhasil mengetahui kebenaran cerita tersebut dan bertemu langsung dengan We Tenriabeng, Sawerigading jatuh cinta (uh oh!). Namun, berhubung karena mereka bersaudara, pernikahan tidak bisa dilangsungkan. We Tenriabeng pun menyuruh sang kakak untuk berlayar ke negri Cina menemui seorang putri yang kecantikannya mirip dengan dirinya. Untuk berangkat menemui putri Cina bernama We Cudai tersebut, Sawerigading bersama pengawalnya menebang pohon Welenrennge sebagai bahan pembuatan perahu.

Pada bab pendahuluan dari buku ini, diterangkan mengenai karya terdahulu yang sempat membahas dan usaha pengumpulan naskah I La Galigo. Adalah Th. S. Raffles yang dianggap memperkenalkan kisah ini kepada dunia luar melalui bukunya The History of Java yang diterbitkan pada tahun 1817. Selang setengah abad kemudian, barulah B.F. Matthes yang memulai pengumpulan dan penyalinan naskah I La Galigo dengan bantuan Colliq Pujie. Matthes berhasil mengumpulkan 26 buku yang kemudian diserahkannya ke Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG).

Usaha pengumpulan naskah juga dilakukan oleh Schoemann yang berhasil mengoleksi 19 buku yang kesemuanya merupakan naskah salinan. Semua buku tersebut kemudian dibeli oleh Perpustakaan Negra Prusia di Berlin. Usaha pengumpulan naskah yang paling luas bisa dikatakan diperoleh Rijksuniversiteits Bibliotheek (RUB) di Leiden, Belanda pada tahun 1920 melalui bantuan Prof. Dr. J.C.G Jonker. Dia berhasil mengumpulkan 67 buku tulis dan sebuah naskah lontar. Tujuh buah diantaranya adalah naskah asli dan sisanya berupa salinan. Naskah-naskah tersebut dikumpulkan selama masa jabatannya sebagai taal ambtenaar di Makassar antara tahun 1886-1896. Penelaahan isi I La Galigo dari segi sistem pelapisan masyarakat yang berlaku di kalangan masyarakat Bugis pertama kali diusahakan oleh H.J. Friedericy. Barulah selang puluhan tahun kemudian, Mattulada (Sejarawan asli dari Sulawesi Selatan) juga menelaah isi La Galigo sebagai sumber informasi sejarah perkembangan ketatanegaraan di kalangan orang Bugis.

Telaah naskah merupakan inti dari bab II buku ini. Penulis menggunakan tujuh naskah salinan episode RW berbeda. Sebuah naskah yang didapatnya dari Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara (YKSST) di Ujung Pandang, lima dari perpustakaan universitas (RUB) di Leiden, dan satu lagi langsung dari anggota masyarakat Sulawesi Selatan sebagai pelengkap. Penulis juga menceritakan kesulitannya dalam menelaah naskah-naskah tersebut, antara lain: perbedaan dan persamaan pada episode yang sama, penanda batas awal dan batas akhir masing-masing adegan dalam episode tersebut, serta pencarian naskah lain yang menjelaskan sebab dan akibat dari adegan-adegan yang terjadi dalam episode RW. Penulisan lontarak dan penggunaan kata-kata dalam ketujuh naskah yang sudah berumur ratusan tahun ini juga ikut ditelaah sebab dapat memberikan informasi mengenai kapan dan dimana kira-kira naskah tersebut dibuat ataupun disalin. Wuih, ribet ya!

Jika telaah naskah menjadi inti dalam bab II, telaah struktur kini menjadi perhatian utama dalam bab III. Mengapa RW dikategorikan sebagai sureq dan bukannya lontaraq? Dari sifatnya, sureq itu mengindikasikan sastra, sedangkan lontaraq mengindikasikan pustaka. Sureq dibaca sambil berlagu, sedangkan lontaraq tidak. Dari segi indikasi dalamnya, sureq berisikan cerita, sedangkan lontaraq menurut Cense adalah naskah tulis tangan yang biasanya berisi silsilah, catatan harian, atau kumpulan berbagai catatan, terutama yang menyangkut sejarah. Unsur yang memegang peranan penting dalam I La Galigo adalah ceritanya sebab jenisnya adalah puisi cerita yang memiliki rangkaian peristiwa kronologis yang memiliki akhir. Episode RW, misalnya, hanya merupakan sepotong episode, namun memiliki awal dan akhir sendiri. Setiap episode dalam I La Galigo sepertinya mengangkat tema yang berbeda-beda, meskipun ada juga yang memiliki tema yang sama. Mengenai latar, epidose RW kebanyakan berlatar tempat atau negeri. Tempat berpusat di istana Luwuq dan Wareq, Mangkuttu sebagai tempat pohon Welenrenng tumbuh, dan pelabuhan Luwuq sebagai pintu gerbang kerajaan tersebut. Negeri menjadi latar dari para pengawal yang diminta untuk menemani Sawerigading ke Cina, dan negeri yang rajanya diundang untuk menghadiri acara di Wareq. Mengenai bahasa dan periodus, I La Galigo banyak menggunakan kata yang tidak dipakai lagi dalam bahasa Bugis sekarang, seperti daramose = bantal seroja dan sinrangeng = usungan.

Selesai membahas telaah struktur, buku ini berlanjut ke bab IV yang merupakan bab kesimpulan. Di sini, penulis menyimpulkan uraian dan penjelasan yang telah dibahas dari bab I hingga bab III. Fachruddin Ambo Enre cukup bagus dalam menyusun bab ini sebab kesimpulannya dijabarkan melalui poin-poin yang memang menjadi intisari dari tiap babnya sehingga dapat dengan mudah dimengerti. Buku ini ditutup dengan bab V yang merupakan edisi naskah dan terjemahan dari episode RW.

Tertarik untuk membaca buku ini? Bukan merupakan topik sehari-hari yang menarik bagi kalangan anak muda memang, tapi dengan membacanya kita dapat semakin bangga akan kekayaan tradisi tulisan leluhur bangsa yang diwariskan kepada kita hingga hari ini.

Categories
Galigoku

La Galigo di Atas Kertas

OEEE SAMBALU`! Aga kareba? Bajiq-bajiq ji?

Dari awal, saya tahu tidaklah mudah untuk meleburkan diri ke dalam proyek yang berskala amat besar ini. Dengan sukarela saya memilih untuk memikul tanggungjawab yang tak dapat lepas dari punggung (makanya punggung saya sering sakit), mungkin untuk seumur hidup.

Akan tetapi, beban ini pun menjadi beban yang menyenangkan pada akhirnya. Saya yakin keputusan yang didasari oleh niat baik ini akan menjadi jalan untuk melunasi hutang saya kepada bangsa, kepada tanah tempat saya lahir. Usaha ini dapat dikategorikan sebagai wujud terima kasih atas nasi yang saya makan, air yang saya minum, dan budaya yang berusaha saya pegang teguh dalam menjalani peran di kehidupan sehari-hari.

Dengan senyum saya katakan pada Ahlul Amri Buana, “Ayo kita lakukan ini!”

Dengan mata melotot saya berseru kepada Setia Negara, “Kenapa malas sekali ko jadi orang?! Kenapa begitu webnya?!”

Dan dengan ramah saya bilang kepada Fitria Afriyanti Sudirman, “Dek.. minta tolong bantu translate.. hehhee..”

***

Mengilustrasikan sebuah naskah kuno yang dikeramatkan (yang konon berasal dari abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, ada banyak pendapat tentang ini) dan gaungnya baru kedengaran beberapa tahun terakhir bukanlah pekerjaan mudah. Menginterpretasikan berpuluh-puluh paragraf suatu episode La Galigo ke dalam bentuk ilustrasi, dengan miskinnya data serta informasi yang dibutuhkan, membutuhkan nyali yang besar. Di dalam imanjinasi saya, beberapa orang yang cukup “strict” mengultuskan cerita ini mungkin saja kurang berkenan dengan gambar yang saya buat. Saya membayangkan “to matoa” (orang-orang terdahulu atau siapa saja yang merasa memiliki kewenangan) akan melaknat saya karena dianggap melanggar adat dan pamali. Mereka semua duduk mengelilingi saya di sebuah ruangan, sementara saya duduk di tengah mereka semua, tanpa pembela dan disoroti lampu persis dari atas : sedang disidang.

*telan ludah

Tapi orang-orang meyakinkan saya, termasuk Ahlul, bahwa tiada yang mulus kecuali Sandra Dewi.. eh, kamsudnya, setiap perkara pasti ada yang pro dan kontra (mudah-mudahan yang pro lebih banyak). Kadang-kadang tindakan breaking the rules diperlukan, mungkin salah satunya dengan jalan ini. Saya hanya tidak ingin ada bule yang lebih tahu La Galigo ketimbang kita sendiri (dan sayangnya sudah terjadi, bahkan berpuluh-puluh tahun sebelum saya dan kalian lahir).

Ironi memang, makanya.. bacalah web ini secara lengkap!

Akhirnya saya mengiyakan, walaupun pada awalnya saya kecewa, sangat sangat kecewa (curcol). Sebuah gambar Sawerigading yang saya buat kira-kira hampir dua tahun lalu, dalam imajinasi terbatas, karena info yang saya dapatkan begitu minimnya, beredar cukup banyak di kalangan blogger, bahkan website. Bukankah seharusnya saya senang?

Ilustrasi gambar sawerigading

Tidak, kenyataannya tidak begitu. Seorang blogger, yang kurang bahan, biasanya memposting, lebih tepatnya memindahkan karya orang lain ke dalam post mereka. Sebuah kekeliruan besar yang seringkali mereka lakukan adalah : tidak mencantumkan sumber dimana karya itu mereka salin. Dalam kasus saya, adalah gambar.

Bagi beberapa orang, memang cuma sebuah gambar. Tapi bagi saya dan seniman-seniman lain pun pasti merasakan hal yang sama, sangat menyakitkan ketika karya kita diklaim oleh pihak-pihak tertentu. Apalagi kalau kita sudah jelas-jelas mencantumkan sebuah signature dalam karya tersebut.

Sudah tidak terlalu mengejutkan lagi ketika menemukan gambar saya (di samping) dalam blog-blog orang yang tentunya tidak saya kenal telah kehilangan sumber yang dengan amat jelas menunjukkan bahwa karya itu merupakan hak milik saya. Lebih menyakitkan lagi ketika gambar itu di-stretch sampai melebar atau memanjang sehingga bentuknya menjadi tidak proporsional. Sangat mengganggu! (tanduk saya bisa keluar dua dari jidat). Mengutip kalimat Hana Tajima Simpson ketika mengetahui gaya berkerudungnya dicopas abis oleh pengguna blog lain, “It`s not cool!man.. Benar-benar tidak keren.

Maka dari itu, untuk kedua kalinya, saya sangat berhati-hati dalam memposting sebuah karya. Penyebaran data di internet begitu cepat dan mudahnya. Ketika anda memposting sesuatu di dunia maya, bersiaplah untuk menyaksikan apa yang anda posting itu menjadi milik publik. Di lain pihak saya cukup senang karena akhirnya kami memiliki web sendiri. Dan selanjutnya, karya saya hanya akan muncul secara resmi di web ini atau di galeri saya. Selain itu tidak!

Kalian!!! Tunggulah karyaku! 🙂 *putar-putar lengan seperti Kamen Rider RX

PS : Jangan makan dan minum berdiri ya… Kata pak ustad yang begitu temannya setan.

Bandung, 06 Desember 2011

Categories
101 La Galigo Kareba-Kareba

Bule-Bule yang Kepincut La Galigo: B.F. Matthes

B. F. Matthes (16 Januari 1818 –  9 Oktober 1908)

Siapa sangka manuskrip La Galigo yang terlengkap di dunia ternyata diselamatkan oleh seorang misionaris dari negri Van Oranje?

Benjamin Frederik Matthes

Benjamin Frederik Matthes adalah seorang lulusan Sastra Semitik dan Teologi Universitas Leiden. Ia lulus pada tahun 1836 dengan predikat cum laude, kemudian melanjutkan pendidikannya di Seminari Lutheran, Amsterdam. Setelah tiga tahun menuntut ilmu di sana, Ia diangkat sebagai Pendeta Gereja Lutheran dan kemudian bekerja sebagai wakil direktur di N.Z.G. Rotterdam. Pada tahun 1848 Ia dianugerahi gelar doctor honoris causa dari Universitas Leiden, dan pada tahun yang sama pula Ia menikah dengan nona C. N. Engelenburg.

Awal Juli 1848 (beberapa minggu setelah pernikahannya), Ia berangkat untuk memenuhi misi mempelajari dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar. Setelah berlayar selama 112 hari bersama sang istri, Ia mendarat di Batavia pada tanggal 28 Oktober 1848. Dia baru tiba di Sulawesi Selatan pada tanggal 20 Desember 1848. Untuk menjalankan misinya sebagai utusan Nederlansch Bijbelgenootschap, Ia meninggalkan tempat kediamannya di Maros menuju Pangkajene, Bungoro, Labakkang, Segeri, hingga akhirnya bertemu dengan Arung Pancana We Tenri Olle, putri Datu Tanete (Colliq Pujie). Di sanalah Ia bersahabat dengan sang ratu Tanete, mempelajari adat-istiadat Bugis dengan penuh keseriusan, serta berjuang menyalin lembar demi lembar lontaraq yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Selain memperhatikan unggah-ungguh di kebangsawanan Bugis, Ia juga terjun langsung mempelajari masyarakat dengan cara turun ke pasar-pasar, menonton upacara-upacara tradisional, bahkan hingga menginap di rumah penduduk.

Ia merupakan orang Barat pertama yang mempelajari bahasa dan literatur Bugis secara mendalam. Ia terpesona oleh Sureq Galigo, mendengarkan dengan penuh seksama ketika galigo dilagukan dan gigih mengumpulkan bahan-bahan mengenai epik besar yang tersebar di banyak lontaraq ini. Di dalam bukunya Ia menulis bagaimana La Galigo ini meskipun tidak pernah dikumpulkan oleh masyarakat Bugis ke dalam sebuah buku yang utuh, tetap hidup dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perjuangannya nampak dari kesabarannya menyalin lontaraq yang tidak boleh dipinjam dari si pemilik. Selama berhari-hari Ia sanggup menghabiskan waktu dengan menyalin ulang lontaraq tersebut di atas kertas beralaskan kopor. Selama 23 tahun Ia berkeliling Sulawesi Selatan dengan diselingi oleh dua kali cuti ke Belanda tahun 1858-1861 dan 1870-1876. Pada tahun 1906 Ia meninggal dan dikebumikan di negrinya.

Cuplikan Bible berbahasa Bugis dalam Aksara Lontaraq (Bijbelgenootschap, 1893)

Tiga masterpiece Mathes yang hingga saat ini masih digunakan sebagai rujukan oleh sarjana-sarjana maupun para peneliti kebudayaan Sulawesi Selatan antara lain; Terjemahan Alkitab dalam Bahasa Makassar-Bugis tahun 1887 dan 1900,  Makassaarsche en Boegineesche Woordenboek (kamus bahasa Makassar-Bugis) serta tiga jilid Boegineesche chrestomathie (bunga rampai budaya Bugis). Jasa terbesar Matthes selain “penyelamatan” La Galigo dalam bentuk naskah yang utuh adalah usahanya membakukan aksara lontaraq dengan pola dasar segi empat guna mempermudah proses percetakan. Bentuk aksara lontaraq yang mengambil sifat sulapak eppak walasuji sebagaimana yang kita kenal hari ini sejatinya merupakan hasil prakarsa kreatif Matthes. Sebelum itu (pra abad ke-19), naskah-naskah lontaraq ditulis dalam bentuk aksara jangang-jangang (burung-burungan) yang  bentuknya sama sekali berbeda dari pola dasar sulapak eppak  namun mirip dengan aksara dari India, Kamboja dan Kawi (Jawa kuno).

Referensi:
Sewang, Ahmad. “Islamisasi Kerajaan Gowa (Abad XVI-XVII)”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Rahim, Abdur Rahman. “Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis.” Yogyakarta: Ombak, 2011.
Universitas Hasanuddin. “La Galigo: Menelusuri Jejak Warisan Dunia.”  Kerjasama Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian, Universitas Hasanuddin [dan] Pemerintah Daerah Kabupaten Barru, 2003