Komik merupakan salah satu media terbaik untuk bercerita. Dengan memanfaatkan media ini kita dapat menyelamatkan karya leluhur yang telah berumur ratusan (bahkan ribuan) tahun lho. Lontara Project mengangkat kembali kisah-kisah kuno untuk generasi muda melalui seri LA GALIGOLOGY. Komik ini terdiri atas beberapa seri dengan tema yang berbeda pada setiap episodenya, mengupas sejarah dan isi La Galigo. Selamat membaca teman-teman!
to be continued…
Anggraeni Wulandari, seorang penggemar WWF, The Sims, dan Dunkin Donuts. Gadis yang punya “nama beken” Ren Midyardigan a.k.a. Xpica ini hobi menggambar dan main video game. Penuh bakat, ia tidak banyak bicara, karena Ia mengekspresikan dirinya lewat gambar. Ingin tahu lebih jauh tentangnya, silakan kunjungi http://xpica.deviantart.com/
Akhirnya! Setelah selama 3 bulan menggarap musik, menyatukan persepsi, dan hari-hari berat penuh latihan, pada tanggal 2 Februari 2012 lalu LA GALIGO MUSIC PROJECT yang merupakan bagian dari LONTARA PROJECT rekaman!
Puja dan puji kami panjatkan kepada Tuhan yang telah memberikan begitu banyak kemudahan dan “kejutan” kepada team ini, di antaranya melalui bantuan dari mas Ganang Hermawan, pemilik studio tempat kami rekaman. Beribu terima kasih, mas Ganang! Di detik-detik terakhir, team kami yang awalnya hanya terdiri dari 4 orang (Putri, Ucup, Hima dan Ahlul) mendapatkan kekuatan tambahan dengan kehadiran vokal khas mbak Puspa dan tabuhan jimbe Rahmat. Benar-benar menyenangkan dapat bekerja bersama dengan orang-orang kreatif ini!
Team LA GALIGO MUSIC PROJECT
Namun patut disadari, masih banyak ketidaksempurnaan di sana-sini. Maklum, para penggiatnya masih berada di tahap “menuju profesional” hehe. Saya pribadi mengucapkan terima kasih banyak kepada team LA GALIGO MUSIC PROJECT yang bersedia (tanpa dibayar lho) meluangkan waktu dan mencurahkan energi serta pikiran mereka untuk proyek kebudayaan ini. Jangan kapok kerjasama bareng kami ya teman-teman!
Sebelum mendengarkan dua buah lagu garapan LA GALIGO MUSIC PROJECT, ada baiknya teman-teman membaca latar belakang di balik masing-masing lagu.
1) IninnawaTa
Judul asli lagu ini ialah “Ininnawa SabbaraE”. Lagu khas dari suku Bugis (Sulawesi Selatan) yang biasanya dinyanyikan oleh seorang ibu kepada anaknya menjelang tidur. Musik lagu ini juga biasanya digunakan untuk mengiringi penari dalam Tari Pajoge’. Bagian awal lagu diisi oleh vokal ala sinden Jawa, gemericik air dan petikan gitar. Bait-bait dalam Bahasa Jawa tersebut mengajak anak-anak muda untuk mendengarkan “galigone” atau petuah-petuah yang baik dari Negri Bugis di seberang lautan. Lagu ini syarat akan makna, nasihat-nasihat indah penuh kesederhanaan hidup yang ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya. Nampak dalam kalimat “deceng enre’ ri bola, tejalli tetappere, banna mase-mase” (naiklah engkau ke atas rumah, tiada permadani maupun tikar, yang ada hanyalah kasih dan sayang). Pada bagian tengah lagu, teman-teman akan dikejutkan dengan selipan bunyi jam berdetak dan “Are You Sleeping, Brother John”. Makna filosofis yang LA GALIGO MUSIC PROJECT letakkan di dalamnya merupakan teguran kepada generasi muda Indonesia yang melupakan tradisi luhur nenek moyangnya. Waktu terus berlalu, sementara generasi muda asyik terlelap tanpa menyadari kekayaan budaya seperti La Galigo yang semakin terancam di negaranya sendiri. Lagu ini kemudian ditutup oleh lagu “Tumbuk-Tumbuk Belanga” yang merupakan lagu permainan khas anak-anak Makassar.
LA GALIGO MUSIC PROJECT mengambil konsep medley dalam mengemas lagu kreasi yang kedua. Dibuka oleh suara tawuran mahasiswa, kemudian terdengar suara yang saling menyeru “Makassaraki Nabiya!”. Kalimat tersebut diambil dari kepercayaan masyarakat lokal bahwa nama Makassar berasal dari kata “Akassaraki Nabiya” atau “Makassarak mi Nabiya”, yang berarti “Sang Nabi (Muhammad) sudah muncul”. Kalimat tersebut sengaja dimunculkan sebagai ironi atas kekerasan yang zaman ini diidentikkan dengan Makassar. Padahal secara terminologis ‘Makassar” erat kaitannya dengan kesucian dan keluhuran utusan Tuhan. Lagu ini terdiri atas 5 buah nyanyian daerah yang keseluruhannya berasal dari Pulau Sulawesi. Tiap-tiap lagu menggambarkan nilai-nilai estetika, adat-istiadat, kecantikan alam, serta perasaan-perasaan masyarakat di pulau yang menurut Wallace menyimpan keanekaragaman hayati terunik di dunia ini. Teman-teman akan dihibur oleh Anging Mammiri dan Tondok Kadadiangku dari Sulawesi Selatan, Sipatokaan dari Sulawesi Tenggara, Tenga-Tenga Lopi dari Sulawesi Barat, dan terakhir O Ina Ni Keke dari Sulawesi Utara.
Rani (Makassar) dan Hijrah (Padang), "Ewako!", "Lestari!"Randy Taufik, YogyaRahmat Dwi Putranto, Depok, "Keep spirit up!"Ocha Laparembai, Pinrang, "Semangat Pemuda!"Muhammad Yusuf, Jakarta, "Lontara Project Asik..."Muhammad Ulil Ahsan, Wajo, "Great job for Lontara Project!"Muhammad Sofyan, Wajo, "Senang bisa bertemu teman sekampung. Ewako!"Muh. Alif Chaeran, MakassarM. Fajrin, Mandar, "Ayo! Kembali ke kampung halaman!"Cula, Hamham, dan Hilman, YogyaAnggita Paramesti, Yogyakarta, "Mencintai budaya Indonesia tanpa pandang bulu. Meskipun ayah saya dari Kulon Progo dan saya tinggal di Bantul, I UPS! LA GALIGO!"Andrew Alexander, Makassar
Muhammad Ulil Ahsan (Wajo), "Great job for Lontara Project!"Rahmat Dwi Putranto (Depok), "Keep spirit up!"
Muh. Alif Chaeran (Makassar)
Anggita Paramesti (Yogyakarta), "Mencintai budaya Indonesia tanpa pandang bulu. Meskipun ayah saya dari Kulon Progo dan saya tinggal di Bantul, I UPS! LA GALIGO!"Andrew Alexander (Makassar)M. Fajrin (Mandar), "Ayo! Kembali ke kampung halaman!"Ocha Laparembai (Pinrang), "Semangat Pemuda!"Muhammad Sofyan (Wajo), "Senang bisa bertemu teman sekampung. Ewako!"Randy Taufik (Yogya)Rani (Makassar) dan Hijrah (Padang), "Ewako!", "Lestari!"Muhammad Yusuf (Jakarta), "Lontara Project Asik..."Cula, Hamham, dan Hilman (Yogya), "Lontara Project! Sebuah bukti bahwa anakl muda itu peduli! Apa yang akan mati harus diselamatkan dan apa yang mati harus dihidupkan kembali. Tapi apa harus menunggu mati? Lontara Project adalah proyek percontohan konservasi budaya oleh anak muda. Setelah ini akan banyak lagi mereka, yang mengonservasi budaya mereka sendiri! What a fight! Sukses!"