Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Sandeq: Sang Primadona dari Mandar

Bulan Februari 2013 lalu, desainer kondang Indonesia Ivan Gunawan mengangkat tema “Malolo” dalam acara Indonesia Fashion Week. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya Ia membuat gebrakan dengan memodifikasi kain tenun Mandar yang terkenal berkualitas wahid ke dalam beragam bentuk pakaian masa kini. Selain kain tenun, Mandar juga populer dengan perahu sandeq-nya. Penasaran apakah itu sandeq? Mari kita baca tulisan rekan Fitria berikut ini!

Pelayaran dengan menggunakan perahu tradisional telah berlangsung selama berabad-abad oleh nenek moyang kita di Nusantara. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya 10 relief perahu kuno di dinding Candi Borobudur. Yang pernah main ke Candi Borobudur mungkin pernah lihat. Nah, relief perahu kuno tersebut kemungkinan besar adalah jenis kapal yang digunakan oleh dinasti Sailendara dan kekaisaran bahari Sriwijaya yang menguasai perairan Nusantara pada abad ke-7 hingga ke-13. Sebagai negara yang 2/3 wilayahnya adalah laut, Indonesia memang dianugerahi banyak warisan yang berkaitan dengan maritim, salah satunya perahu tradisional.

Bagi yang bersuku Mandar ataupun yang pernah tinggal lama di pulau Sulawesi, perahu tradisional bernama sandeq mungkin sudah tidak asing di telinga. Perahu sandeq merupakan perahu bercadik khas suku Mandar yang terkenal sebagai perahu tradisional tercepat di Austronesia. Suku Mandar sebagai salah satu suku di Sulawesi Barat (dulu termasuk bagian Sulawesi Selatan) memang mempunyai budaya yang berorientasi bahari. Laut menjadi sumber kehidupan mereka. Pelras, seorang etnolog asal Prancis, dalam bukunya “The Bugis” bahkan menuliskan bahwa suku Mandar dikenal sebagai pelaut yang ulung.

Kata sandeq sendiri berarti ‘runcing’, mengacu pada haluan yang tajam dari perahu. Sandeq digunakan untuk berbagai kegiatan maritim, mulai dari memancing hingga transportasi antarpulau. Pada masa kejayaan perdagangan kopra, sandeq mengarungi 700 mil laut dari Mandar ke Bali dan Jawa Timur. Selain di dalam negeri, perahu ini telah terkenal di mancanegara. Perancis, Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Filipina adalah beberapa negara yang pernah dijelajahinya.

Si Cantik Sandeq (Source: http://www.geocities.co.jp/SilkRoad-Desert/1367/kanko/sandeq.html)

Selama puluhan tahun, perahu sandeq telah menemani dan memungkinkan bangsa Austronesia dalam menjelajahi lautan. Desain sandeq yang berumur sekitar 3000 tahun pun menjadi warisan pembangunan perahu dan navigasi yang mampu mempengaruhi arsitektur naval Barat, seperti model kapal trimaran dan catamaran modern yang didesain seperti kapal Austronesia.

Berdasarkan buku “Orang Mandar Orang Laut” karya Muhammad Ridwan Alimuddin, nelayan Mandar mulai menggunakan perahu sandeq pada tahun1930-an. Konon, di daerah tersebut, perahu ini pertama kali dikembangkan oleh tukang perahu di Kampung Pambusuang, sebuah kampung yang terletak di pantai Teluk Mandar, sekitar 300 km di sebelah utara Makassar. Pembuatan perahu tersebut terinspirasi oleh model  salah satu perahu besar di pelabuhan Makassar kala itu. Sebelum sandeq, perahu yang biasa digunakan adalah jenis pakur yang bentuknya sekilas seperti sandeq. Perahu pakur ini menggunakan layar tanja’, layar berbentuk segiempat yang tidak bisa ditarik ataupun digulung. Karena tidak praktis, layar tersebut kemudian diganti dengan layar segitiga. Perubahan layar tersebut kemudian diikuti dengan perubahan  bentuk lambung, tiang layar, dan cadik. Nah, inilah awal mula dari perahu sandeq. Dari perubahan-perubahan tersebut kemudian terciptalah perahu sandeq yang kita kenal sekarang ini.

Menurut ukurannya, perahu sandeq terbagi dua, yaitu sandeq kecil dan besar. Perahu sandeq kecil memiliki panjang 5 m, bermuatan 1-2 orang, dan dapat mengarungi laut sejauh 1-5 km dari garis pantai, sedangkan perahu sandeq besar memiliki panjang 7-11 m, bermuatan 3-5 orang, dan dapat mengarungi laut dengan jarak yang lebih jauh.

Para Pasandeq sedang unjuk gigi di Brest, Prancis (Source: http://www.geocities.co.jp/SilkRoad-Desert/1367/kanko/sandeq.html)

Seiring berkembangnya teknologi, jumlah perahu sandeq semakin berkurang. Kehadiran sandeq memang perlahan-lahan telah tergeser oleh kehadiran perahu mesin yang lebih modern yang disebut kappal dan bodi-bodi. Kappal merupakan perahu penangkap ikan terbesar bermotor terbesar yang juga biasa disebut perahu gae karena menggunakan alat penangkap ikan yang disebut gae (pukat cincin), sedangkan bodi-bodi berukuran lebih kecil dari kappal, lebih ramping dan panjang, serta tidak bercadik.

Dalam artikel Ketika Layar Sandeq Tak (Lagi) Berkembang, (Kompas, 28 Februari 2012), diketahui bahwa di Desa Tangnga-Tangnga, hanya 60 dari 510 nelayan yang masih menggunakan sandeq. Itu pun sandeq bermesin. Sedangkan, di Pambusuang, hanya ada 30 unit sandeq dari 769 kapal bermotor yang dipakai oleh sekitar 900 nelayan. Walaupun demikian, sandeq tanpa motor tetap digunakan, terutama dalam balapan sandeq.

Seiring berjalannya waktu, lomba balap sandeq mulai diadakan, salah satunya Sandeq Race. Lomba ini dirancang oleh Horst H. Liebner, seorang peneliti ilmu maritim asal Jerman,  pada tahun 1995. Sampai sekarang, lomba ini masih diadakan dan menarik perhatian turis lokal maupun mancanegara. Pada umumnya, setiap desa memiliki kapal yang didesain khusus untuk balap dan menjadi pemenang perlombaan adalah kebanggaan pemilik perahu dan desanya. Selain untuk keperluan melaut, masyarakat di Kampung Pambusuang memang membuat sandeq untuk keperluan lomba. Pada Juli 2012 lalu, tiga perahu sandeq asal Polewali Mandar, bersama 12 awaknya mewakili Asia di festival maritim internasional di Perancis. Bangga nggak, tuh? 😀

 

Referensi:
Alimuddin, M. Ridwan. 2005. Orang Mandar Orang Laut. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Kerin & Horst. 2001. What is a Sandeq?
Aswin Rizal Harahap, Mohamad Final Daeng, dan Nasrullah Nara. 2012. Ketika Layar Sandeq Tak (Lagi) Berkembang
Junaedi . 2012. Berwisata Sambil Belajar Tentang Perahu Sandeq

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Navigasi Bugis di Mata Antropolog Amerika

Suku Bugis sedari dulu memang terkenal sebagai pelaut ulung. Dengan bermodalkan bintang-bintang di langit dan kepandaian membaca alam, mereka mengarungi samudera dan melintasi berbagai benua. Tidak heran, kemampuan ini mengundang decak kagum dari berbagai pihak. Beberapa waktu yang lalu, tim Lontara Project sempat mewawancarai Prof. Eugene E. Ammarell, seorang antropolog ramah dan rendah hati asal Amerika Serikat yang sangat tertarik akan sistem navigasi Bugis ini. Yuk, simak kisahnya!

Prof. Eugene E. Ammarell

Prof. Eugene E. Ammarell atau yang akrab disapa Pak Gene sudah bertahun-tahun meneliti tentang sistem navigasi di Indonesia. Beliau bahkan telah menelurkan sebuah buku berjudul Bugis Navigation (1999), salah satu buku dengan penjelasan terlengkap tentang sistem navigasi Bugis. Mantan direktur Southeast Asian Studies di Universitas Ohio ini pernah tinggal lama di Pulau Balo-Baloang, sebuah pulau di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan yang letaknya jauh di selatan hampir mendekati Madura, demi kepentingan riset kebudayaan maritim suku Bugis-Makassar. Terbiasa berkomunikasi dengan penduduk setempat membuat beliau mengerti cukup banyak bahasa Bugis. Sepanjang wawancara pun, sesekali Pak Gene melontarkan beberapa kata dalam bahasa Bugis, yang terdengar khas karena masih bercampur dengan aksen Amerika-nya. Kedatangan beliau kali ini, selain untuk mengunjungi Pulau Balo-Baloang, juga untuk memberikan kuliah umum tentang “Shared Space, Conflicting Perceptions, and the Destruction of an Indonesian Fishery” di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Perkenalannya dengan kebudayaan maritim memiliki sejarah yang cukup panjang. Pak Gene percaya bahwa pertemuannya dengan kebudayaan ini merupakan sebuah ‘serendipity’. Pada awalnya, beliau belajar tentang astronomi Amerika dan Eropa. Suatu hari, beliau menghadiri sebuah diskusi. Di diskusi itu beliau menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari tentang astronomi di Indonesia yang bahkan belum pernah dibicarakan atau ditulis oleh orang-orang sebelumnya. Beliau kemudian mulai mencari tahu banyak hal mengenai navigasi, salah satunya adalah navigasi Polinesia. Kebetulan, beliau bertemu dua orang berbeda yang kemudian menjadi awal perkenalannnya dengan navigasi Bugis.

Pertama, kolega beliau  di Peace Corps, seorang wanita dari Malaysia, namun berdomisili di Amerika Serikat. Selama dua tahun, Pak Gene pernah tinggal di Malaysia dan mengajar sains dan matematika sebagai bagian dari program Peace Corps yang beliau ikuti. Koleganya ini pernah berlayar selama setahun dengan menggunakan perahu Bugis dalam rangka penelitian post-doctoral nya tentang studi ekonomi. Pak Gene kemudian menanyakan berbagai hal mengenai sistem navigasi. Satu kalimat yang Ia ingat dengan pasti dari mulut koleganya itu ialah“Buginese people are good navigators”. Kedua, koleganya yang sedang belajar di Kalimantan. Beliau mengambil kelas darinya dan menanyakan tentang suku Dayak yang mempelajari bintang. Dari koleganya tersebut, beliau mengetahui bahwa suku Dayak mempelajari bintang untuk pertanian. Ketiganya kemudian mengajukan hibah untuk melakukan studi kecil-kecilan tentang astronomi di Dayak dan astronomi di Bugis.

Setelah setengah bulan di Kalimantan, mereka akhirnya ke Makassar. Pelabuhan Paotere adalah tempat yang mereka tuju. Di sana mereka melihat sebuah lambo, sebuah perahu niaga jarak jauh, yang menarik perhatian. Walaupun kecil, lambo tersebut masih baru dan terlihat bagus. Mereka pun menghampiri lambo tersebut dan berbicara dengan kaptennya, seorang pria bernama Pak Razak, untuk menggali informasi. Pak Razak yang pemalu tidak banyak bercerita, namun beliau mengenalkan Pak Gene dan koleganya kepada temannya, Pak Syarifuddin, yang juga merupakan seorang kapten perahu.

Berbeda dengan Pak Razak, Pak Syarifuddin senang berbicara dan memberi tahu mereka banyak hal. Beliau juga memiliki perahu kecil, namun bermesin. Kebetulan ketika itu, Pak Syarifuddin akan berlayar ke Bima, tapi harus transit dulu di Pulau Balo-baloang. Nah, di sinilah awal perkenalan Pak Gene dengan Pulau Balo-Baloang. Pak Gene dan koleganya ingin berlayar menggunakan perahu Bugis tanpa mesin,

“We want to sail on a real Bugis ship”, katanya.

Akhirnya mereka menyasar perahu pak Razak yang memang masih menggunakan layar. Pak Razak sudah mengingatkan bahwa pelayaran akan memakan waktu yang lama dan perjalanannya belum tentu disukai oleh mereka. Namun, pak Gene dan koleganya tetap nekat untuk berlayar. Benar saja, mereka membutuhkan waktu selama tiga hari untuk sampai di Pulau Balo-Baloang. Namun, Pak Gene tidak menyesal karena pemandangan yang beliau liat selama berlayar sangat indah, It was beautiful on the boat,” ujarnya.

Pelayaran tersebut hanyalah permulaan dari banyak pelayaran yang dilakukannya. Beberapa waktu kemudian, atas permintaan beliau, Pak Syarifuddin membawanya berlayar selama lima minggu lagi. Dari perjalanan itu, Pak Gene terkesan sekaligus menyadari bahwa betapa sulit menjalani pekerjaan sebagai pelaut. Mereka bisa saja berada di lautan selama beberapa minggu dan mereka harus menemukan jalan pulangnya kembali. Menurut beliau, hal tersebut tidak mudah dilakukan, butuh keterampilan khusus.

Pak Gene bersama tim Lontara Project
Pak Gene sedang berbincang dengan koleganya

Ditanya mengenai perbedaan mendasar antara navigasi Barat dan navigasi Bugis. Pak Gene mengutarakan bahwa navigasi barat pada umumnya mekanis, sangat bergantung pada Global Positioning System (GPS), kompas magnetik, dan sebagainya. Navigasi barat sangat matematis. Jadi, begitu alat-alat tersebut tidak bekerja, para pelaut tidak bisa berbuat apapun. Sebaliknya, navigasi Bugis mengandalkan bintang, arah angin, pergerakan cuaca, dan kemampuan membaca laut.

“I’ve never studied Western navigation very much. I think I understand Bugis navigation better.” aku Pak Gene.

Keramahan dan keterbukaan masyarakat Indonesia, terutama pelaut Bugis-lah yang membuat Pak Gene selalu merasa terpanggil untuk kembali ke Indonesia. Mereka telah begitu baik kepada beliau dan telah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Selain belajar banyak tentang navigasi, Pak Gene juga belajar tentang arti berbagi dari masyarakat Indonesia. Menurutnya, itulah yang menjaga keseimbangan harmoni dalam masyarakat kita.

Sebenarnya, tim Lontara Project masih ingin berbincang lebih lama dengan Pak Gene. Namun, ternyata waktu tidak memungkinkan. Pak Gene harus segera bersiap untuk kunjungan berikutnya ke Pulau Balo-Baloang. Nah, Sobat Lontara, kalau Pak Gene saja yang bukan orang Indonesia asli bisa begitu tertarik dengan keunikan tradisi kita, kenapa kita tidak? Kita bangsa yang kaya loh. Jangan malu mengkaji sistem budaya kita sendiri.

 

PS: Dua minggu setelah wawancara bersama dengan Pak Gene dilakukan, tim Lontara Project yang sedang berada di Makassar yaitu Ahlul, Maharani dan Nirwan sempat bertemu dengan Pak Gene, sebelum beliau berangkat menuju Pulau Balo-Baloang. Pada kesempatan itu kami berbincang lagi dengannya dan dijanjikan untuk diberi buku “Navigasi Bugis”, masterpiece beliau. Sekarang, buku berjumlah 326 halaman itu menjadi inspirasi bagi kami untuk terus mengkaji dan mencintai budaya Indonesia sebagaimana janji kami kepadanya. Terima kasih, Pak Gene!

Pak Gene bersama Tim Lontara Project di Makassar
Tim Lontara Project sedang berbincang dengan Pak Gene

 

Categories
101 La Galigo Liputan

Lontara Project Goes to Malaysia #2

Menjelajahi Ibukota Baru Malaysia

Minggu, 27 Mei 2012. Hari ketiga tim Lontara Project berada di Malaysia. Cuaca pagi itu sangat cerah secerah hati kami yang sudah tidak sabar memulai petualangan mengunjungi tempat-tempat baru di Malaysia. Hari itu, Prof. Nurhayati yang akrab kami panggil Bunda bersama Mutia, putrinya, mengajak kami untuk mengunjungi Putrajaya, ibukota administratif Malaysia. Sobat Lontara, mungkin berpikir mengapa ada lagi ibukota selain Kuala Lumpur yang kita kenal selama ini. Kuala Lumpur masih menjadi ibukota, kok, hanya sekarang Kuala Lumpur berstatus ibukota legislatif. Sejak tahun 2001, pusat administrasi pemerintahan Malaysia dipindahkan ke Putrajaya, namun tempat kedudukan parlemen sekaligus pusat perdagangan dan keuangan masih berada di Kuala Lumpur. Masih bingung? Hehe, yuk langsung baca kisah kami!

Pukul 09.00 pagi waktu Malaysia, kami sudah berpakaian rapih dan bersiap untuk ke Putrajaya. Dengan menumpangi bus, kami pun berangkat. Kami harus menggunakan dua bus untuk sampai ke kota yang satu ini. Pertama, kami menumpang bus tujuan Pasar Seni, lalu kami menyambung bus dengan tujuan Putrajaya. Tarif bus sendiri bervariasi tergantung jarak tujuan. Untuk bus pertama, karena jaraknya tidak begitu jauh dari tempat kami menginap, kami hanya membayar RM 1.90. Namun, untuk bus kedua, kami harus membayar RM 3.80. Sistem transportasi umum Malaysia merupakan salah satu hal yang saya sukai. Bus-bus beroperasi dengan sangat teratur dan tidak ada penumpang yang berdesak-desakan di dalam bus. Sebelum duduk, penumpang harus terlebih dulu membayar sesuai tarif pada mesin yang terletak di samping pengemudi bus. Mesin tersebut kemudian akan mencetak tiket yang menjadi pertanda bahwa kita sudah membayar. Penumpang yang ingin menggunakan bus sebaiknya telah menyiapkan uang kecil dulu. Jika tidak, pengemudi bus-nya tanpa segan dapat dengan segera menolak anda untuk menumpangi bus-nya. Satu hal lagi, di dalam setiap bus terdapat beberapa tombol stop yang diletakkan secara strategis agar para penumpang dapat dengan mudah menggunakannya. Penumpang yang ingin turun dapat menekan tombol stop tersebut untuk memberi tanda kepada pengemudi bus untuk berhenti. Jadi, ga usah repot-repot teriak “Kiri, Bang!” atau ngetok-ngetok langit-langit bus 😀

Perjalanan ke Putrajaya tidak memakan  waktu yang lama. Tanpa kemacetan yang berarti, dalam waktu kurang lebih 45 menit, kami sampai ke Putrajaya Central. Arsitektur Melayu nan modern sudah mulai terasa disini. Di tempat ini, kami dialihkan lagi ke bus yang memang khusus beroperasi dalam lingkungan Putrajaya. Hari itu, terlihat banyak sekali pengunjung. Saya pikir, karena hari itu adalah hari minggu, jadi banyak keluarga yang datang ke tempat ini untuk mengisi waktu liburnya. Rupanya, tidak hanya itu yang membuat tempat ini ramai. Pengunjung berdatangan untuk melihat bazaar, stand, dan pertunjukan musik dalam rangka perayaan hari pemuda Malaysia. Dekorasi warna-warni dan khas anak muda mewarnai tempat ini, membuat suasana begitu meriah dan hidup. Sayup-sayup suara musik Melayu dan musik modern berlomba untuk didengarkan. Sepanjang jalan kami melihat stand makanan, pakaian, aksesoris, dan suvenir. Panggung pertunjukan musik pun juga didirikan di beberapa titik.

 

Masjid Putra
Dinding dan Langit-Langit Masjid Putra

Berhubung jalanannya sangat ramai, akhirnya kami turun dari bus dan memilih untuk berjalan kaki menuju Masjid Putra. Yup, tempat pertama di Putrajaya yang kami tuju adalah masjid megah berarsitektur modern bergaya Islam yang dibangun pada tahun 1997. Masjid yang didominasi oleh warna merah muda dan krem ini langsung menghadap ke Putrajaya Lake, sebuah danau buatan yang cukup besar dan berfungsi tidak hanya sebagai penyejuk, tetapi juga sebagai penyeimbang di antara gedung-gedung tinggi. Bagi pengunjung yang tertarik mengitari Putrajaya ala Venesia di Itali, di danau ini disewakan perahu cantik bergaya tradisional yang dapat digunakan untuk melihat Putrajaya dalam sudut yang berbeda. Dari Masjid Putra, kita dapat melihat pemandangan kota Putrajaya yang didominasi oleh gedung-gedung tinggi dan jembatan-jembatan yang menghubungkan daerah satu dengan yang lainnya. Di Masjid Putra ini, setiap pengunjung harus menutupi aurat, baik itu perempuan maupun laki-laki. Jadi, bagi yang memakai baju lengan pendek/tidak berlengan, celana pendek, atau tidak berkerudung (bagi perempuan) harus menggunakan jubah kebiruan yang telah disediakan oleh pihak pengelola masjid.  Hal ini dilakukan untuk menghormati tradisi dan budaya setempat.

Cukup lama kami berada di masjid ini. Selain untuk shalat Dhuhur, kami menyempatkan diri untuk melihat pemandangan sembari mengumpulkan tenaga untuk berjalan mengitari Putrajaya lagi. Setelah energi terkumpul, kami menuju Perdana Putra, yaitu kantor perdana menteri Malaysia. Perdana Putra terletak di samping Masjid Putra. Menurut keterangan dari Bunda, penempatan ini merupakan impian dari Mahathir yang menginginkan kantor perdana menteri terletak bersampingan dengan masjid. Bangunan ini juga sarat akan gaya Melayu, Islam, dan Eropa. Berkubah hijau dengan dominasi  warna coklat pada dindingnya, Perdana Putra menjadi salah satu landmark dari Putrajaya. Kami sangat ingin memasuki bangunan ini dan melihat arsitektur bangunan dengan lebih dekat. Namun, ternyata bangunan ini tidak dibuka untuk umum pada hari Minggu. Jadi, Sobat Lontara yang ingin melihat-lihat ke dalam tempat ini, pastikan datang pada saat hari kerja, yaitu Senin-Jumat atau pada hari Sabtu pagi pada minggu kedua dan keempat. Pastikan juga kalian membawa paspor karena akan dicek.

Tim Lontara Project di depan Perdana Putra

Setelah beberapa lama mengitari Putrajaya, kami pun akhirnya beranjak dari ibukota baru Malaysia ini. Dalam perjalanan pulang, di bus kami melihat jejak Bugis lainnya. Di kaca bus terdapat kertas bertuliskan “Pasompa” dan “Pada Idi Tu”. Dalam bahasa Bugis, “Pasompa” berarti perantau, sedangkan “Pada Idi Tu” berarti kita berasal dari kampung atau daerah yang sama. Wah, diaspora Bugis memang sangat terasa di Malaysia.

Jejak Perantau Bugis di Bus Kota

Sekilas tentang Putrajaya Sebagai Ibukota Administratif

Putrajaya sendiri didirikan pada Oktober 1995 atas inisiatif Tun Dr. Mahathir bin Mohamad, mantan perdana menteri Malaysia yang memiliki periode jabatan paling lama. Kota ini resmi menjadi wilayah federal ketiga setelah Kuala Lumpur dan Labuan pada Februari 2001. Wilayah yang ditempati oleh Putrajaya sekarang merupakan hadiah dari pemerintahan Selangor. Terletak 25 km dari selatan Kuala Lumpur, Putrajaya menjalankan fungsinya sebagai pusat administrasi pemerintahan, menggantikan Kuala Lumpur yang dinilai telah begitu ramai dan tidak lagi kondusif untuk dijadikan pusat pemerintahan.

Keberadaaan suatu kota yang khusus dijadikan sebagai pusat administrasi pemerintahan sebenanya bukanlah suatu hal yang baru. Beberapa negara di dunia sudah mempunyai sistem kota semacam ini sejak bertahun-tahun lalu, sebut saja Belanda dan Afrika Selatan. Di Belanda, ibukota nasionalnya adalah Amsterdam, sedangkan pusat administrasinya berada di Den Haag. Afrika Selatan bahkan memiliki tiga ibukota. Cape Town sebagai ibukota legislatif, Pretoria sebagai ibukota administratif, sedangkan Bloemfountein sebagai ibukota yudikatif. Ketiga ibukota ini menjalankan fungsi yang berbeda, namun saling mendukung. Ibukota legislatif merupakan kota dimana pejabat legislatif, seperti pejabat kongres atau parlemen, bekerja. Ibukota administratif merupakan pusat pemerintahan yang memiliki fungsi yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan yang dibuat oleh pihak legislatif. Ibukota yudikatif merupakan kota dimana peradilan tinggi yang berfungsi untuk menjalankan aspek-aspek hukum terletak.

Putrajaya