Sobat Lontara tentu sudah pernah mendengar nama “Tana Toraja” sebelumnya bukan? Nah, daerah yang kental akan kebudayaan Proto-Melayunya di jantung Pulau Sulawesi ini menyimpan banyak sekali keunikan yang dapat membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Bersama Bali, Toraja menjadi ujung tombak destinasi turisme internasional kita. Mari berkenalan dengan Tana Toraja lewat tulisan ini!

Nama Toraja berasal dari “to” yang berarti orang, dan “riaja” yang berarti daratan atau gunung. Nama ini diberikan oleh orang-orang Bugis Sidenreng yang tinggal di daratan rendah untuk menyebut orang-orang di pegunungan. Ada pula versi yang mengatakan bahwa Toraja berasal dari kata “to” dan “maraya” (bangsawan). Pada tahun 2001 yang lalu, setelah melalui beragam penelitian dan seminar akhirnya UNESCO menetapkan kebudayaan masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan sebagai situs World Heritage. Alam pegunungan yang membuat suku Toraja cukup terisolasi dari dunia luar ternyata mampu meramu sebuah khazanah kebudayaan yang membuat dunia terkagum-kagum.

Barisan Tongkonan

Kebudayaan Suku Toraja yang tergolong Melayu Tua alias Proto-Melayu ini memang unik dibandingkan dengan kebudayaan suku-suku lain yang ada di sekitarnya. Konon, nenek moyang orang Toraja berasal dari Indo-Cina. Mereka berlayar ke Sulawesi antara tahun 2.500-1.500 SM. Pemukiman awal suku ini berada di daerah Bambapuang, Rura, Mengkendeq, Rantepao, Sangalla, Makale, lalu terus masuk hingga ke pelosok Sulawesi Tengah. Tondoq Lepongan Bulan Tana Matariq Allo (Negri yang bulat bagaikan bulan dan matahari) ialah sebuah nama kuno yang digunakan oleh masyarakat lokal untuk menyebut negeri Toraja.

Salah satu keunikan Toraja dapat langsung kita temukan dari bentuk rumah adatnya: Tongkonan. Tongkonan merupakan manifestasi dari bentuk perahu Austronesia yang digunakan leluhur bangsa Toraja menyeberangi samudera ribuan tahun lalu. Tongkonan dibangun dengan menghadap Utara-Selatan. Utara ialah ulunna langiq atau kediaman Puang Matua, sedangkan selatan ialah arah polloqna langiq atau tempat roh-roh. Budaya Toraja tidak mengenal sistem tulisan. Oleh sebab itulah konsep sosial dan agama mereka “ditulis” pada kayu Tongkonan dalam bentuk ukiran yang mengandung simbol-simbol. Simbol-simbol ini disebut passuraq.

Di samping seni arsitektur, upacara adat kematian orang Toraja pun menarik untuk kita simak. Jika pada suku-suku lain tradisi kelahiran dan pernikahan dirayakan secara besar-besaran, maka masyarakat Toraja justru merayakan kematian secara extravaganza. Perayaan Rambu Soloq dan Rambu Tukaq telah hidup sebelum agama Kristen masuk ke Toraja, bahkan hingga zaman modern. Kedua perayaan tersebut merupakan bagian dari Aluq To Dolo, kepercayaan tradisional Toraja yang menggambarkan keseimbangan antara manusia dan alam. Di dalam Aluq To Dolo, dewa tertinggi disebut dengan nama Puang Matua. Istilah ini kemudian diadopsi oleh gereja untuk menyebut nama Tuhan Allah. Masyarakat Toraja memang mayoritas beragama Kristen Protestan dan Katolik.

Perayaan Lovely December 2008 di Rantepao, kota pariwisata Toraja

Masih tentang perayaan kematian, di Toraja terdapat kuburan batu karang bernama Londa, letaknya di desa Tikuna Malenong sekitar 5 km dari Rantepao. Di kuburan batu tersebut diletakkan tau-tau atau boneka kayu yang bentuknya disesuaikan dengan perawakan orang yang telah meninggal. Pada setiap upacara kematian, kerbau memiliki peran yang cukup signifikan. Kerbau dihargai dengan sangat tinggi oleh masyarakat Toraja, apalagi kerbau jenis albino (tedong bonga). Pengorbanan kerbau pada ritual adat di Toraja merupakan simbol kepasrahan sekaligus ketulusan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bagaimana hubungan antara Toraja dengan suku-suku lainnya? Bahasa Toraja memiliki banyak sekali kesamaan dengan bahasa tetangga mereka, orang Massenrenpulu (Enrekang, Luwu). Begitu pula dengan Bahasa Bugis yang ternyata memiliki lebih banyak kesamaan dengan Bahasa Toraja (45%) ketimbang dengan Bahasa Makassar (40%). Di daerah Mamasa, Sulawesi Barat, masyarakat Toraja yang disebut dengan nama Pitu Ulunna Salu telah sejak zaman dahulu mengingat perjanjian adat dengan suku Mandar sebagai satu kesatuan.

Atraksi menarik lainnya dari Toraja yang dapat teman-teman nikmati ketika berkunjung ke sana ialah Tari Pagelluq. Tari Pagelluq dari Toraja merupakan tari syukur panen. Dahulu penarinya adalah gadis-gadis bangsawan. Gerakan tangan penarinya yang lincah meliuk-liuk ke atas namun kaki tidak boleh terangkat menggambarkan; orang Toraja boleh bebas melihat dunia kemana pun mereka pergi, tetapi kaki harus terpancang  kuat di tanah (ingat selalu akan tradisinya). Terbukti, hari ini Kampung Rama di kota Makassar terkenal sebagai tempat kediaman orang Toraja perantauan. Meskipun telah hijrah dari kampung halamannya, teman-teman masih dapat menyaksikan sebuah atap Tongkonan besar yang menghiasi gerbang masuk menuju Kampung Rama dengan megahnya. Simbol bahwa identitas mereka sebagai manusia Toraja takkan pernah tergantikan.

Published by Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *