Penulis: Abdi Karya
Dua karung terigu “tempo doeloe” ini tengah dipajang di pameran bertema kebudayaan Bugis yang berlangsung di Watampone, ibukota Kabupaten Bone-Sulawesi Selatan. Tahun ini, Watampone yang mengemban mandat menjadi tuan rumah untuk Festival Gau Maraja pada tanggal 25-30 September 2026. Kedua karung terigu ini merupakan bukti sejarah visual yang penting di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Makassar dan Bone. Karung-karung tersebut adalah saksi dari sebuah jalur pelayaran kuno di wilayah Asia-Pasifik.
Jauh sebelum abad ke-20, para pelaut Makassan (julukan bagi para pencari teripang yang berangkat dari pelabuhan Makassar dan melibatkan pula orang-orang Bajo, Bugis, Mandar, Buton, Timor, Madura, Jawa dan lain sebagainya) telah berlayar ke Marege (Northern Territory, Australia) mencari teripang. Saat era pelayaran tradisional berakhir, hubungan perdagangan maritim kedua wilayah tidak ikut berhenti. Ia bertransformasi menjadi jalur logistik komoditas modern.
Karung terigu bermerk “Frog Brand” yang bergambar katak dari Melbourne menampilkan cap bertuliskan “Makassar” berdampingan dengan kata “Asia”. Sedangkan karung “Superb Sydney”, menghadirkan gambar klasik kuda bertanduk (unicorn) bergaya Barat. Keduanya adalah arsip dari arus komoditas Australia bergerak ke utara menuju Indonesia Timur.
Karung-karung ini merupakan bagian dari koleksi Bapak Ansar Mulkin Abbas yang merupakan pendiri dari Celebes Vintage Gallery, sebuah kelompok kolektor yang fokus pada benda pusaka dan heritage dari wilayah Sulawesi. Pak Ansar yang juga asli Bone memiliki kecintaan pada benda-benda bernilai sejarah, yang turut memberi peran pada percakapan artistik narasi Jalur Teripang di Indonesia. Beliau mengoleksi pembungkus terigu ini melalui sumbangan dari keturunan salah satu pebisnis Tionghoa di Makassar pemilik warung kopi Ko Heng di kota Ujung Pandang yang beroperasi sekitar tahun 1930-1970an.
Di samping itu, Bone sendiri, dalam sejarah rute perdagangan teripang, tertulis dalam catatan/jurnal Circumnavigation-nya Matthew Flinders, bahwa ia bertemu dengan kapitan Pobbasso (Pung/Puang Baso) yang merupakan salah satu punggawa dari puluhan kapal pattaripang milik King of Boni (rajah Bone).
Melalui kemasan produk ini, kita dapat sama-sama menyaksikan bahwa sejarah Australia dan Indonesia senantiasa saling terikat dan mengalir terus bersama gelombang Laut Arafura.
Abdi Karya – Seorang seniman multidisiplin serta kolaborator antarbudaya yang berasal dari Makassar. Kini ia berbasis di Yogyakarta.