Malam itu posisi saya berada di tengah sebuah diskusi santai mengenai Sulawesi Selatan, dimana semua peserta dalam forum itu bercerita tentang apa saja kebudayaan dan fenomena sosial di daerah masing-masing, dilihat dari sudut pandang sejarah maupun pandangan kekinian kami.

Dimulai dari Tanah Luwu sebagai kerajaan pertama yang menerima masuknya pengaruh Islam di Sulawesi. Selanjutnya ke Tanah Gowa, mengorek andil pertahanan kerajaan Gowa terhadap serangan pasukan Belanda pada saat itu, ditandai oleh keperkasaan Sultan Hasanuddin yang sampai sekarang bisa kita lihat dan rasakan keabadiannya melalui penyebutan nama Sang Raja baik dari bandara hingga kampus sebuah universitas terbesar di kota Makassar.

(Foto Wawan 2014, Pembuat perahu Phinisi , Tanah Lemo)
(Foto Wawan 2014, Pembuat perahu Phinisi , Tanah Lemo)

Cerita sempat terhenti ketika teman yang lain berusaha mengetahui tentang bagaimana andil Tanah Bugis yakni Bulukumba dalam hal sejarah perahu phinisi. Saat itu saya merasakan malu yang teramat sangat. Berbicara mengenai hal tersebut, saya yang asli dari Bulukumba hanya sebatas mengetahui bahwa daerah ini memiliki julukan Butta Panrita Lopi alias negerinya para pengrajin perahu. Bahkan anehnya teman dari Luwu justru lebih banyak tahu tentang sejarah kebudayaan perahu phinisi. Kejadian itu kemudian membuat saya terinspirasi untuk mencari dan mengorek rahasia perahu ini lebih dalam. Di dalam hati saya berkata bodohnya diri ini karena telah banyak melupakan sejarah atas tanahku berpijak.

Setelah beberapa usaha saya lakukan untuk mencari tahu tentang perahu phinisi baik melalui bacaan serta banyak bertanya kepada orang, termasuk salah satunya ialah pada saat saya melakukan perjalanan ala backpackers dari Gowa ke Bulukumba. Dari situ saya banyak tahu mengenai sejarah dan berusaha untuk mengaitkan dan membandingkannya satu sama lain. Pada saat akhirnya saya berhenti di Butta Panrita Lopi, dengan bermodalkan kemampuan berkomunikasi dan lebih banyak mendengarkan petuah adat lokal, saya menyerap informasi tentang phinisi di tanahku ini.

(Foto Wawan 2014 , Batas Bulukumba)
(Foto Wawan 2014 , Batas Bulukumba)

Tanahku terletak sekitar 129 km dari kota Makassar,  butuh waktu 3-4 jam untuk sampai ke sana. Berdasarkan kisah yang saya ketahui dari sejarah, tanah ini konon merupakan tempat bersandarnya bongkahan perahu Sawerigading yang dahulu hendak kembali ke Luwu. Perahu Sawerigading terpecah menjadi tiga, dan tiap-tiap bongkahan terjatuh di daerah Ara, Tana Lemo, dan Bira (semuanya masuk ke dalam wilayah kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan). Akan tetapi fokus pembuatan perahu yang dipraktekkan oleh masyarakat lokal berada di Tana Lemo. Sekitar sebulan yang lalu saya menyisir daerah tersebut karena rasa ingin tahu yang sangat kuat. Setelah mengumpulkan beragam referensi akhirnya saya mendapatkan sebuah tempat yakni Monte yang menurut cerita rakyat merupakan desa tertua, dibuktikan dengan adanya peninggalan sejarah berupa bom dan meriam peninggalan Belanda. Artefak-artefak ini menjadi ikon kebersamaan mereka karena mereka yakin barang tersebut yang nantinya menjadi bukti sejarah. Selain peninggalan Belanda, juga banyak terdapat kuburan tua dengan menhir tinggi, serta bekas benteng pertahanan kerajaan kuno. Di sini juga banyak terdapat gua, bahkan ada gua yang menjadi sumber mata air (menurut cerita lokal gua tersebut terhubung dengan laut dan merupakan tempat berlindungnya warga kerajaan dulunya).

(Foto Abdul 2014 Rumah warga Monte dan meriam peninggalan sejarah)
(Foto Abdul 2014 Rumah warga Monte dan meriam peninggalan sejarah)

Para pembuat perahu dulunya terlahir di daerah ini, tetapi karena akses jalan yang sulit dan terkendala efisiensi waktu akhirnya banyak pandai-pandai tersebut hijrah dari Monte ke Tana Lemo, walau masih dalam lingkup kelurahan yang sama. Bibir Pantai yang terbentang asri dan keindahan hutan yang masih terjaga ini bisa dibuktikan dengan banyaknya hewan yang kadang melintas seperti kera atau monyet. Akan tetapi daerah ini masih kurang perhatian dari pemerintah setempat yakni dengan banyaknya sampah yang berserakan. Entah alasan apa tempat ini bukan menjadi fokus kelestarian pemerintah padahal potensi yang dimiliki di sini sangat besar. Ini bisa dilihat dari sudut pandang tiga dimensi: yakni cerita sejarah yang kuat dibuktikan oleh banyaknya peninggalan, keasrian alamnya yang masih kental, serta masyarakatnya yang masih memegang teguh kebersamaan dan kekompakan. Sungguh ini menjadi dilema bagi pemerintah setempat yang mempunyai otoritas untuk mengembangkan daerah tersebut. Tetapi apa daya semua tinggal kenangan, di kala semua orang sudah tidak acuh terhadap daerahnya sendiri.

(Foto Meriska 2014, Bibir Pantai Tanah Lemo Kampung Monte)
(Foto Meriska 2014, Bibir Pantai Tanah Lemo Kampung Monte)

Bagi saya, ketika  kita berada pada suatu zaman, saat itu pula kita sedang membuat sejarah. Segala sesuatu yang terjadi sekarang itu sejatinya merupakan setitik cerita untuk masa yang akan datang.  Semuanya adalah permainan waktu.

10344206_551960288250108_6711199767837856226_o Kurniawan alias Wawan, putra asli Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pernah menikmati masa kecilnya di kabupaten Tana Toraja. Wawan yang saat ini kuliah Teknologi Informatika punya hobi fotografi. Bersama dengan Try Juandha ia mendirikan komunitas bernama Warani yang punya tujuan untuk mendokumentasikan keunikan kekayaan alam Indonesia. Yang ingin kenal lebih lanjut dengan Wawan, bisa kunjungi facebooknya di Chapoendu.

Published by Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *