Pandangan awam masyakarat di Pulau Jawa terkait Makassar umumnya tidak jauh dari “kasar”, “demo”, atau “brutal”. Betapa tidak, berita-berita yang muncul di televisi terkait daerah ini selalu berhubungan dengan bentrok mahasiswanya atau tawuran antarwarga. Penghuni jazirah Sulawesi Selatan yang mayoritas terdiri atas suku Bugis-Makassar pun mendapat label sebagai bangsa yang gemar bertindak kasar. Meskipun pada kenyataannya tidak benar demikian, stereotype tersebut terus melekat. Padahal, zaman dahulu orang-orang Bugis-Makassar memiliki reputasi yang bagus di benak penduduk Pulau Jawa. Bahkan kewibawaan, ketangkasaan, kecerdikan serta kesetiaan mereka diabadikan dalam banyak tarian klasik yang hari inipun masih dapat ditelusuri mulai dari ujung Jawa sebelah timur hingga ke ujung baratnya. Tidak percaya? Yuk simak tiga di antaranya!
Jawa Timur – Tari Topeng Malangan
Malang tidak hanya terkenal dengan apelnya. Bekas pusat kerajaan Singosari yang didirikan oleh Ken Arok ini juga kaya dengan rupa-rupa budaya. Salah satu di antaranya ialah Tari Topeng Malangan. Tari Topeng Malangan tergolong sebagai tari Jawa klasik yang bercerita. Tari ini mengisahkan seorang pangeran bernama Panji Asmarabangun yang tengah mencari-cari pasangan jiwanya, Galuh Candrakirana alias Dewi Sekartaji. Nah, seorang raja dari kerajaan asing bernama Prabu Klana (baca: Kelono) yang sebenarnya juga sudah mengincar Dewi Sekartaji sejak lama masuk ke tengah-tengah hubungan keduanya. Intrik-intrik pun bermunculan di tengah pengelanaan Panji Asmarabangun. Persaingan antara dua orang pria dalam merebutkan sang putrilah yang mewarnai kisah dalam tari topeng ini.
Karakter Prabu Klana ternyata memiliki ragam nama dan identitas, tergantung versi yang mana yang dianut oleh penarinya. Sebagai contoh, sosok Prabu Klana Sewandana dianggap berasal dari Kerajaan Bantarangin (Ponorogo). Kemudian ada Prabu Klana Mandra Kumara dari Kerajaan Gedhah Sinawung (Makassar), Prabu Klana Gendingpita dari Surateleng (Wengker, di versi lain disebut berasal dari Sabrang), Prabu Klana Swadana dari Bali, Prabu Klana Mandraspati dari Malaka serta Prabu Klana Tunjungseta dari Kerajaan Pajang Pengging. Dari sekian banyak varian nama dan asalnya tersebut, seorang sejarawan bernama Adrian Vickers di dalam buku berjudul “Peradaban Pesisir” memaparkan temuannya bahwa tradisi syair-syair tertulis yang menjadi patokan kisah-kisah Panji di Jawa Timur mayoritas menyebut karakter Prabu Klana sebagai seorang raja Bugis. Tradisi ini mengidentikkan Prabu Klana sebagai seorang raja dari negeri Sabrang (negeri di seberang samudera) yang disamakan dengan kerajaan Makassar.
Tokoh Prabu Klana ditarikan oleh seorang pria yang bertubuh besar, tinggi dan gagah. Gelungnya berbentuk jangkahan, warna kuning emas, hitam, merah, badan warna kuning emas, berkeris wrangka branggah. Topeng Prabu Klana sendiri berwarna merah, berkumis tebal dan berbola mata melotot, menggambarkan seorang pemimpin yang tegas, sakti dan kaya raya. Meskipun gerakan tarinya terkesan merepresentasikan angkara murka dan dominasi, topeng raja berwajah tampan ini juga menunjukkan sisi-sisi humanis seperti kesedihan dan pengharapan, yang sebenarnya merupakan cerminan diri manusia agar selalu mawas diri dari nafsu amarahnya sendiri.
Perannya yang antagonis menjadi penyeimbang karakter tokoh protagonis, Panji Asmarabangun. Uniknya, dalam perspektif kebudayaan, masyarakat tidak kemudian dengan serta-merta menempatkan tokoh Prabu Klana sebagai antagonis yang kemudian dibenci. Buktinya, varian Topeng Malangan yang ditemukan di Jawa Tengah dengan nama Tari Kelono Topeng menempatkan tokoh raja dari Makassar ini sebagai figur sentralnya. Sifat-sifat kesatriaan, perlawanan, ketegasan, rasa malu dan penjunjungan yang tinggi terhadap harga diri (yang dalam kebudayaan Bugis-Makassar disebut ‘sirri dan pesse’) melekat padanya. Tidak heran jika pada perkembangan kemudian, tokoh Prabu Klana menjadi salah satu karakter yang paling luas ditafsirkan dari kisah Panji.
Jawa Tengah – Tari Bugis Kembar
Tarian ini digolongkan sebagai tari gagah atau tari yang dibawakan oleh dua orang penari pria. Tari Bugis Kembar umumnya dipersembahkan sebagai tarian pembuka pada suatu acara. Tari ini memamerkan ketangkasan, kelincahan serta kekompakan dua orang prajurit Bugis yang sedang berlatih perang tanding. Dulunya tarian ini sering dibawakan oleh putra-putra kerajaan atau pangeran-pangeran muda sebagai bagian dari olah fisik mereka.
Mengapa harus Bugis (dan) kembar? Kerajaan Mataram dan kedua turunannya (Kasunanan Surakarta serta Kasultanan Yogyakarta) memiliki resimen yang terdiri atas pasukan-pasukan Bugis-Makassar nan gagah berani. Di Yogyakarta kita masih dapat menyaksikan jejak mereka; ada daerah bernama Bugisan serta Dhaengan yang dulunya merupakan tempat tinggal pasukan Bugis dan Dhaeng dari Tanah Sulawesi. Konon batalyon Patangpuluhan (Empat Puluh) yang eksklusif untuk melindungi sultan itu juga terdiri atas pejuang-pejuang Bugis. Keharmonisan antara Kasultanan Yogyakarta dan para prajurit Bugis yang setia ini tercermin dalam banyak tarian. Koreografer-koreografer tari istana, bahkan hingga sultan sendiri, kagum oleh kegagahan serta kekompakan prajurit-prajurit Bugis-Makassar ini sehingga terinspirasi untuk menciptakan tarian dari gerak tubuh mereka.
Selain Bugis Kembar, di Jawa Tengah ada juga tarian bernama Handaga Bugis Kembar. Lho, apa bedanya? Handaga Bugis Kembar merupakan tarian yang melukiskan peperangan seorang prajurit Kediri melawan dua orang prajurit Bugis. Tarian ini diperankan oleh 3 orang penari. Seorang penari berperan sebagai Handaga dan dua orang lainnya berperan sebagai prajurit Bugis. Perlengkapan yang dipergunakan berupa tongkat panjang dan trisula.
Raja Mangkunegara IV (1853-1881) dari Keraton Surakarta juga pernah menciptakan tarian bernama Wireng Panji Bugis. Sebagaimana di Keraton Yogya, idenya tidak terlepas dari kekaguman terhadap kegagahan prajurit Bugis di kalangan istananya. Tarian lain menyusul di masa pemerintahan Mangkunegara VI (1896-1916) dengan nama Wireng Bugis atau Rewantaka. Kata Wireng berasal dari Bahasa Jawa yaitu wira yang berarti prajurit dan ing atau aeng yang artinya sakti. Jadi Wireng Bugis kira-kira berarti prajurit Bugis unggul yang linuwih atau prajurit Bugis pemberani. Hmmm… Inspirasi untuk menciptakan tari ternyata bisa datang dari mana saja, termasuk dari prajurit-prajurit negeri seberang ini!
Jawa Barat – Tari Ronggeng Bugis
Tari yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat ini termasuk unik. Berbeda dengan tari ronggeng biasa yang umumnya dibawakan oleh perempuan, Tari Ronggeng Bugis justru dibawakan oleh beberapa orang pria gagah. Uniknya, dalam tarian ini ronggeng-ronggeng pria tersebut tidak berpakaian laksana pangeran, mereka justru mengenakan pakaian kaum Hawa. Mereka bergelung dan diberi bunga, mengenakan kebaya berwarna ngejreng, berjarik, memakai bedak pekat berwarna putih seperti hiasan wajah geisha Jepang, serta mengenakan pemerah bibir nan menor. Sambil meliuk-liuk jenaka, sesekali para ronggeng pria itu akan berinteraksi dengan cara menggoda penonton pria.
Adakah hubungan antara Tari Ronggeng Bugis dengan pandangan masyarakat Cirebon masa lalu mengenai bissu, pendeta lelaki dalam kepercayaan Bugis kuno yang mengenakan pakaian serta bertingkah laku seperti perempuan? Jika iya, berarti kisah mengenai bissu yang bahkan jumlahnya semakin menyusut di kampung halamannya sendiri itu sejak zaman dulu sudah pernah terdengar hingga ke Tatar Sunda. Berdasarkan informasi yang penulis dapat melalui internet, latar sejarah tarian rakyat ini bercerita tentang sekawanan telik sandi (mata-mata) Bugis yang tengah berkamuflase untuk mendapatkan informasi dari pihak musuh.
Konon, Sunan Gunung Jati yang memerintah di Kerajaan Cirebon sedang kebingungan. Kerajaan Islam yang ia dirikan itu baru saja memisahkan diri dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang masih beragama Hindu. Setiap saat dapat timbul gesekan antara Cirebon dan Pajajaran. Untuk mengetahui kekuatan serta strategi lawan, maka Sunan Gunung Jati pun mengutus duabelas hingga duapuluh orang prajurit Bugis kepercayaannya untuk menyamar menjadi perempuan dan menyusup ke istana Pajajaran. Telik sandi-telik sandi Bugis ini ternyata dipandu oleh seorang perempuan cantik jelita namun sakti mandraguna bernama Nyi Gandasari dari Aceh, murid Ki Sela Pandan (salah satu pendiri Cirebon). Mereka membentuk grup kesenian keliling, bernyanyi dan menari dari satu tempat ke tempat lain. Alhasil, mereka berhasil mendapatkan banyak informasi mengenai rahasia Pajajaran.
Interaksi masyarakat Jawa bagian barat dengan suku Bugis-Makassar bukanlah hal yang asing. Menurut tradisi lisan, kerjasama ini telah berlangsung sejak zaman Kerajaan Galuh (sejak tahun 670 hingga 1500-an). Salah satu bentuk pertalian antaretnis yang paling terkenal ialah pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten. Tahun 1644, sepulang dari haji, Syekh Yusuf Al-Makkassary singgah di Banten. Di sana ia menikah dengan putri Sultan Ageng Tirtayasa, kemudian menikah lagi dengan dua orang wanita dari Serang dan Giri. Syekh Yusuf di Banten mengobarkan semangat jihad untuk melawan Belanda. Pasukannya terdiri atas pengikut-pengikutnya dari Sulawesi Selatan serta pejuang-pejuang lokal. Saat itu gerakannya telah melebarkan pengaruh mulai dari Banten hingga Cirebon sehingga membuat Belanda kebat-kebit. Beliau pun disingkarkan dari Bumi Banten pada tahun 1684 ke Afrika Selatan. Nah, keturunan pengikut Syekh Yusuf dari Sulawesi Selatan ini kemudian banyak yang menikah dengan penduduk lokal dan menurunkan generasi keturunan Bugis-Makassar di Jawa Barat.
Setelah melihat jejak-jejak Bugis-Makassar di Pulau Jawa yang terabadikan dalam seni tari, tentunya kita dapat memahami bagaimana masyarakat Jawa pada masa lalu menilai bangsa pendatang dari Pulau Sulawesi. Nah, hal ini juga bisa menjadi bahan evaluasi bagi generasi Bugis-Makassar zaman sekarang, apakah mereka masih layak untuk dipandang dengan hormat dan penuh wibawa oleh masyarakat dari daerah lain? Kualitas diri seseorang tidak ditentukan oleh dari mana ia berasal, tapi berdasarkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Yuk, kita kekalkan kembali persatuan dalam keragaman dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika!
Referensi:
Ayam Jantan Tanah Daeng, Nasaruddin Koro, Penerbit Ajuara, Jakarta: 2005.
Peradaban Pesisir, Adrian Vickers, Udayana University Press, Denpasar: 2009.
http://www.indosiar.com/fokus/tari-ronggeng-bugis-atau-tari-telik-sandi_27440.html
http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2009/08/ronggeng-bugis.html
http://www.tembi.org/majalah-prev/2001_07_ensiklopedi.htm
http://kotamanusia.wordpress.com/2011/07/page/3/