Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

Lagi-Lagi, Lukisan Tertua di Dunia ada di Sulawesi!

Sobat Lontara, tahukah kamu bahwa Pulau Sulawesi yang terletak di kawasan biogeografis Wallacea ternyata adalah gudangnya karya seni tertua di dunia?

Januari 2025, sebuah kabar dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara menggemparkan dunia. Berdasarkan hasil penelitian arkeolog tanah air Adhi Agus Oktaviano dan Budianto Hakim (BRIN) yang berkolaborasi bersama Griffith University dan Southern Cross University, Australia, ditemukan sebuah lukisan prasejarah di dalam Gua Metanduno yang terletak di Desa Liangkabhori. Lukisan yang berbentuk cap tangan menyerupai cakar tersebut ditengarai telah berusia 67.800 tahun. Dengan demikian, lukisan tersebut menjadi karya seni ciptaan Homo sapiens tertua di dunia, mengalahkan penemuan lukisan cadas di gua El Castillo, Spanyol yang diperkirakan berusia 40.080 tahun. Penemuan ini menegaskan bahwa leluhur manusia di Nusantara pada masa itu telah memiliki kemampuan untuk menciptakan karya seni yang kompleks, yang membutuhkan daya imajinasi sekaligus kreatifitas tinggi.

Beberapa tahun terakhir ini, lukisan-lukisan cadas dari era prasejarah memang banyak ditemukan di Pulau Sulawesi. Di antaranya seperti lukisan di Leang Tedongnge (Pangkajene) yang berusia 45.500 tahun, Leang Bulu Sipong (Pangkajene) yang berusia 43.900 tahun, serta Leang Timpuseng yang berusia minimal 39.990 tahun. Tentunya konsentrasi karya seni purba di pulau ini membuat para ahli bertanya-tanya.

Posisi Pulau Sulawesi yang ribuan tahun lalu berada di tengah dua daratan besar; Sundaland yang meliputi Jawa-Sumatra-Kalimantan serta Semenanjung Malaya, serta Sahul Land yang meliputi Papua dan Australia, membuat alamnya menjadi sangat unik. Penemuan fosil kerangka Homo sapiens berusia 7.200 tahun di Leang Paningnge (Maros) yang diberi nama “Bessé” pada tahun 2021 silam menunjukkan bahwa DNA-nya mengindikasikan suatu percampuran unik. Berdasarkan keterangan Prof. Akin Duli dari Universitas Hasanuddin, komposisi genetik Bessé menampilkan kemiripan dengan populasi penduduk asli di Australia dan Papua, ras Mongoloid, sekaligus terdapat jejak dari ras manusia purba yang kini telah punah: Denisovan. Penemuan ini menandakan bahwa di masa lalu, manusia-manusia yang berbeda-beda rasnya ini telah berinteraksi satu sama lain, berkembang biak, serta membangun masyarakat bersama. Pulau Sulawesi menjadi kunci penting pertemuan dari ras-ras manusia yang berbeda-beda tersebut.

Penemuan lukisan cadas tertua di Gua Metanduno juga memberikan petunjuk terkait migrasi Homo sapiens dari daratan utama Asia menuju ke Kepulauan Nusantara hingga kemudian memasuki Australia. Diduga, leluhur dari penduduk asli Australia mengambil jalur migrasi melalui rute utara dari Asia ke Pulau Sulawesi lalu kemudian masuk ke Sahul Land. Dengan demikian, ada kesinambungan sejarah yang luar biasa antara Sulawesi dan Australia. Dimulai dari arus migrasi leluhur ribuan tahun lalu, hubungan ini berevolusi menjadi kemitraan ekonomi dan budaya yang erat antara pelaut Makassar dan Suku Yolngu. Sebuah relasi lintas zaman yang direkatkan oleh ombak dan jalur perdagangan teripang.

Kira-kira, temuan seperti apalagi yang akan terkuak dari Pulau Sulawesi? Mari terus kita telusuri dan pelajari!



Sumber:

“Lukisan Gua Tertua di Dunia ada di Indonesia”, BBC Indonesia

“Dibalik Penemuan Kerangka Manusia di Maros”, Identitas UNHAS

“Lukisan Gua Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi Selatan, Berusia 51.200 Tahun”, BRIN