Ulasan Singkat tentang Tokoh dan Aliran 1: Bang Suaeb dan Tunggal Rasa
Selingan sejenak mengenai tokoh Silat kita kali ini, Bang Suaeb atau lebih akrab dipanggil “Bang Aeb”. Bang Aeb ini adalah salah satu dari tiga pewaris inti untuk aliran pencak silat Tunggal Rasa Satu Slag. Bang Aeb ini mendalami aspek pencak silat dari gurunya, Alm. Mbah Umar Sidik Madehir. Silat ini memiliki 2 inti (yang saya ketahui dan sempat saksikan): Sabeni dan Ki Ontong. Sabeni sendiri adalah inti aplikasi langkah-langkah Tunggal Rasa, di situlah rahasia-rahasia dan detil-detil gerakan mematikan dari langkah-langkah sederhana Tunggal Rasa diungkapkan. Untuk diskusi lebih lengkap tentang aliran ini, bisa teman-teman baca di: http://sahabatsilat.com/forum/aliran-pencak-silat/silat-gerak-rasa/180/
Tunggal Rasa Satu Slag ini memiliki ciri khas yang bisa diringkas menjadi: maju, maju, dan maju. Tunggal Rasa ini berlambang Pohon Kelapa, dengan filosofi “Berguna seperti Pohon Kelapa.”
Nah, dengan itu, mari kita ulas secara singkat. Kita mulai dari filosofi “Satu Slag”. Satu Slag ini sebenarnya arah dan sifat langkah-langkah Silat Tunggal Rasa yang seperti namanya, bersifat satu arah. Arah itu adalah maju ke depan. Ketika gua mengobrol lama dengan Mas Ka tentang filosofi silat ini, beliau berkata: “Ya begitulah hidup, kalau kita enggak maju, ya mau kemana dong? Masa’ mundur? Ini tuh sebenarnya mindset yang mau aku bangun di generasi muda, ya anak-anak penerus bangsa ini yang berani maju.”
Dari sisi langkah, gerakan-gerakan silat Tunggal Rasa itu juga hanya mengenal empat penjuru, dan empat penjuru itu hanya satu arah: ke depan. Apakah maju ke samping kanan atau kiri (serong), berbalik badan dan mengejar musuh, intinya adalah maju pantang mundur.
Selanjutnya, tentang Pohon Kelapa. Pohon kelapa itu dari batang, daun, hingga buahnya itu berguna. Pesilat-pesilat penganut aliran Tunggal Rasa ini diharapkan bisa mejadi seperti Pohon Kelapa: Kokoh, tahan cuaca (cobaan), dan berguna bagi lingkungannya.
Kembali ke cerita ya…. Settingnya adalah ketika gua mau mulai diuji:
“Oh… Oke mas. Aku usahakan.”
Setengah jam pertama gua diminta untuk menunjukkan langkah-langkah yang gua sudah pelajari, dan gua senang semuanya berjalan cukup lancar terkecuali beberapa komentar dari Bang Aeb yang berkisar: “Put, kuda-kudanya kurang mantep nih.” Atau “Put! Pukul yang bener dong!”
Setelah badan sudah hangat karena banyak bergerak langkah-langkah Silat, datanglah momen yang paling gua antisipasi: Sambut.
Dengan suaranya yang cenderung bernada girang, Bang Aeb memanggil gua: “Put, sini Put! Main-main yuk sama Pakde!”
“Eh… Iya Pakde…” Suara gua parau dan gugup, gua pun menghampiri Bang Aeb.
Dari posturnya yang cenderung pendek, aliran silat ini cocok sekali dengan orang seperti Bang Aeb. Karena fokusnya adalah pertarungan jarak sangat dekat (diukur dari panjang lengan, dan jarak Tunggal Rasa ini adalah ‘satu lengan’ dan ‘setengah lengan’ atau ‘satu hasta’), dan kuda-kuda yang rendah dimanfaatkan sebagai ‘pegas’ untuk melontarkan tenaga.
Lengan dan jari-jemari Bang Aeb terlihat tebal dan luwes. Yang terlintas di pikiran gua adalah “membahayakan” walaupun Bang Aeb ini orangnya suka bercanda dan sumringah. Ada satu hal juga yang gua perhatikan dari Bang Aeb ini dari sorot matanya yang tajam: beliau jarang sekali mengedipkan mata.
Gua pun memasang sikap siap, Bang Aeb langsung berkomentar: “Nah, ini kamu mantep kuda-kudanya. Ayo, enggak usah malu-malu, serang pakde dong” nada beliau mengundang dengan manja (iya, manja. Minta dipukul secara manja).
Gua melirik Mas Ka yang berdiri dibelakang beliau, Mas Ka mengangguk tanda gua harus serius. Gua pun melancarkan serangan.
Pukulan gua dirambet, dibalas dengan sikutan. Sikutan itu gua tepis, dan dengan cekatan, tangan yang gua gunakan untuk menepis sudah dirambet lagi. Gua membalas dengan menepis rambetan itu dan mencoba melangkah maju untuk melancarkan pukulan lagi, beliau menangkis dengan kepretan, tangan gua mendadak terasa pedih.
Bang Aeb pun membalas dengan melangkah maju, totokkan demi totokkan beliau lontarkan, dan dari tiga totokkan, satu berhasil mendarat disendi antara lengan dan bahu gua. Ngilu! Gua menahan rintihan sakit, gua membalas dengan beberapa pukulan, dan hanya satu yang berhasil mendarat di dada beliau (itu pun sepertinya satu pukulan yang secara sukarela beliau beri). Satu lagi pukulan gua lancarkan, dan beliau berkata sembari bergerak:
“Ini dia si monyet! Aku kancing!” Beliau melangkah diantara langkah maju gua, mengaitkan kakinya di belakang tumit gua.
“Aku iket!” Sikut gua mendadak dikunci, dan lengan beliau menutup bahu gua, gua terjepit.
“Aku korek si monyet!” Beliau menyapu kaki gua yang tadi sempat terkunci, menarik lengannya sembari mendorong dada gua, dan BRUK! Gua terjatuh dan terkapar di lantai.
Gua geram, gua segera bangun, “Eh, boleh juga nih si Putra.” Bang Aeb terkekeh, gua makin geram, dan gua lancarkan tendangan… Dan disitulah kesalahan gua.
Dengan gerakan yang luwes, beliau menyambut kaki gua dengan ramah, menyampingkan tubuhnya, mengayunkan tangannya, dan berhasil menangkap tumit gua, dan wes! Diayunkan kaki gua keatas, dan… GUBRAK. Gua jatuh lagi.
BERSAMBUNG…