Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode VIII – “Keceran”

Bab VII Bagian 2: Ujian – Keceran

Setelah semua prosesi pengujian pengetahuan ilmu oleh Mas Ka dan Bang Aeb selesai,  kami para peserta ujian diminta untuk menunggu. Mas Ka memberitahu kami apa yang akan terjadi selanjutnya: “Nanti nama kalian dipanggil satu-satu,  kalian bakal diurut dan dikecerin ya.”

Secara serentak, kami menjawab “Oke Mas” … Tanpa mengetahui penuh apa itu arti “dikecerin”.

Ulasan Tradisi Silat: Keceran 

Nah, mari kita ulas bersama apa itu “Kecer”/“Keceran”.  Keceran adalah satu tradisi dan prosesi yang cukup umum di aliran pencak silat Betawi dan Jawa Barat. Kegiatan ini biasanya dilakukan ketika penerimaan anggota/murid baru ke dalam perguruan, atau ketika sang murid ini menamatkan satu tahap dalam pembelajarannya.

Sebelum kawan-kawan pembaca berpikir diluar konteks dan berpersepsi yang kurang sesuai, kecer ini merupakan ritual tersendiri. Ritual disini berarti tradisi, kegiatan yang biasa dilakukan dalam titik tertentu dan hanya dilakukan di acara-acara tertentu. Dalam konteks ini, ritual kecer ini dilakukan ketika seseorang diterima sebagai ‘murid’ di perguruan silat A, atau ketika sang murid sudah menamatkan jurus A.

Kecer ini hanya boleh dilakukan oleh sang guru, lebih spesifik lagi, sang pemegang / pewaris ilmu. Apakah yang dilakukan sewaktu seorang murid itu ‘dikecerin’? Sederhananya, ini proses tetes mata.

Dalam perguruan Tunggal Rasa, Keceran ini dilakukan oleh Bang Aeb kepada murid-murid. Apakah yang dibutuhkan untuk melakukan keceran?  Pada beberapa perguruan lain, yang saya tahu, dibutuhkan berhelai-helai daun sirih dan air yang diambil dari mata air X. Di Perguruan Tunggal Rasa, yang dibutuhkan adalah: buah jeruk purut. Buah jeruk purut ini nantinya akan dibelah, dan sarinya diteteskan ke mata para murid.

Apakah makna dibalik tradisi “Keceran” ini? Ketika ditanyakan kepada Mas Ka dan  Bang Aeb, kesimpulan yang bisa ditarik adalah: “Keceran ini pembersihan. Kenapa mata kamu yang dikecer? Supaya pandangan kamu bersih, penglihatanmu jelas. Supaya kamu bisa melihat dengan jelas gerakan-gerakan lawan, dan awas akan sekitarmu.” Selain itu, dipercaya juga bahwa kandungan asam di jeruk purut yang digunakan ini bisa membersihkan kotoran-kotoran mata.

Jadi, Keceran ini merupakan ritual pembersihan dan atau penerimaan anggota baru dalam satu perguruan.

Untuk melihat prosesnya bagaimana,  mari kita lanjutkan ceritanya…

Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya nama gua dipanggil. Gua masuk kedalam ruang dimana gua diuji tadi, dan terlihat Bang Aeb sudah berganti pakaian. Beliau duduk bersila, menggunakan baju koko putih. Di hadapan beliau ada sebuah matras, dan disamping beliau ada tiga mangkuk. Satu mangkuk berisi telur, satu mangkuk diisi beberapa buah jeruk purut yang sudah dibelah-belah, dan satu mangkuk kosong. Beliau tersenyum, dan melambaikan tangannya menandakan gua untuk berbaring.

Gua makin penasaran akan apa yang akan terjadi dalam beberapa menit kedepan. Gua berbaring, dan Bang Aeb memecah keheningan: “Putra, ini kan keceran pertamamu… Mungkin rasanya akan pedes di mata, tapi pasti besok pagi segar lagi kok. Sekarang, kamu berdoa kepada Tuhan, meminta berkat dan restu kalau kamu lagi belajar Silat ya… Tarik napas yang dalam sambil berdoa… Ditahan ya…”

Dan MAKCLEEESS…. Tetesan pertama sari jeruk purut membakar bola mata kiri gua. Secara refleks air mata langsung membanjiri memadamkan api yang membara (ibaratnya) bola mata kiri dan memejamkan mata kiri itu. Ketika mata kiri terpejam, CEESSSS…. masuk pula tetesan kedua di bola mata kanan gua.

Panas rasanya, kalau kawan-kawan yang membaca masih ingat rasanya waktu kita mandi dan shampo masuk kemata? Nah itu silahkan dikali 8 pedihnya. Sembari banjir air mata, gua merasakan jari-jemari Bang Aeb memijat sekitar mata gua. “Pedeeess… Eh kok enak juga ya dipijetin begini… hmmm…” Pikir gua.

Berangsur-angsur pedihnya berkurang, dan gua disuruh duduk menghadap beliau. Gua lakukan sambil meraba-raba, dan akhirnya bisa duduk bersila tegap berhadapan dengan Bang Aeb.

“Put, coba sini lenganmu, digulung dulu itu bajunya.” Perintah beliau. Gua melakukan sesuai dengan perintah, dan beliau mengambil mangkuk kosong tadi, memecah beberapa butir telur, menyisihkan putihnya dan dituangkan ke mangkuk kosong itu.  Bang Aeb juga mengambil beberapa jeruk purut yang sudah habis digunakan untuk kecer, dan mencampur biang jeruk itu dengan putih telur yang sudah dituang.

Selanjutnya, beliau menempelkan telapak tangannya, dan mengoleskan campuran itu ke lengan gua sambil memijatnya.

“Nah Put, ini namanya ngurut ya…”

 

BERSAMBUNG…

 

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

By Louie Buana

Seorang warga Panakkukang yang sedang belajar hukum dan sejarah di Universiteit Leiden, Belanda. Sedari kecil sudah sering berpindah-pindah, dari Pulau Timor hingga Athens (Ohio, Amerika Serikat). Saat ini ia juga menjadi Guest Researcher di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian & Carribean Studies (KITLV) Leiden. Punya hobi jalan-jalan, membaca buku dan karaoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *