Menjelajahi Ibukota Baru Malaysia

Minggu, 27 Mei 2012. Hari ketiga tim Lontara Project berada di Malaysia. Cuaca pagi itu sangat cerah secerah hati kami yang sudah tidak sabar memulai petualangan mengunjungi tempat-tempat baru di Malaysia. Hari itu, Prof. Nurhayati yang akrab kami panggil Bunda bersama Mutia, putrinya, mengajak kami untuk mengunjungi Putrajaya, ibukota administratif Malaysia. Sobat Lontara, mungkin berpikir mengapa ada lagi ibukota selain Kuala Lumpur yang kita kenal selama ini. Kuala Lumpur masih menjadi ibukota, kok, hanya sekarang Kuala Lumpur berstatus ibukota legislatif. Sejak tahun 2001, pusat administrasi pemerintahan Malaysia dipindahkan ke Putrajaya, namun tempat kedudukan parlemen sekaligus pusat perdagangan dan keuangan masih berada di Kuala Lumpur. Masih bingung? Hehe, yuk langsung baca kisah kami!

Pukul 09.00 pagi waktu Malaysia, kami sudah berpakaian rapih dan bersiap untuk ke Putrajaya. Dengan menumpangi bus, kami pun berangkat. Kami harus menggunakan dua bus untuk sampai ke kota yang satu ini. Pertama, kami menumpang bus tujuan Pasar Seni, lalu kami menyambung bus dengan tujuan Putrajaya. Tarif bus sendiri bervariasi tergantung jarak tujuan. Untuk bus pertama, karena jaraknya tidak begitu jauh dari tempat kami menginap, kami hanya membayar RM 1.90. Namun, untuk bus kedua, kami harus membayar RM 3.80. Sistem transportasi umum Malaysia merupakan salah satu hal yang saya sukai. Bus-bus beroperasi dengan sangat teratur dan tidak ada penumpang yang berdesak-desakan di dalam bus. Sebelum duduk, penumpang harus terlebih dulu membayar sesuai tarif pada mesin yang terletak di samping pengemudi bus. Mesin tersebut kemudian akan mencetak tiket yang menjadi pertanda bahwa kita sudah membayar. Penumpang yang ingin menggunakan bus sebaiknya telah menyiapkan uang kecil dulu. Jika tidak, pengemudi bus-nya tanpa segan dapat dengan segera menolak anda untuk menumpangi bus-nya. Satu hal lagi, di dalam setiap bus terdapat beberapa tombol stop yang diletakkan secara strategis agar para penumpang dapat dengan mudah menggunakannya. Penumpang yang ingin turun dapat menekan tombol stop tersebut untuk memberi tanda kepada pengemudi bus untuk berhenti. Jadi, ga usah repot-repot teriak “Kiri, Bang!” atau ngetok-ngetok langit-langit bus :D

Perjalanan ke Putrajaya tidak memakan  waktu yang lama. Tanpa kemacetan yang berarti, dalam waktu kurang lebih 45 menit, kami sampai ke Putrajaya Central. Arsitektur Melayu nan modern sudah mulai terasa disini. Di tempat ini, kami dialihkan lagi ke bus yang memang khusus beroperasi dalam lingkungan Putrajaya. Hari itu, terlihat banyak sekali pengunjung. Saya pikir, karena hari itu adalah hari minggu, jadi banyak keluarga yang datang ke tempat ini untuk mengisi waktu liburnya. Rupanya, tidak hanya itu yang membuat tempat ini ramai. Pengunjung berdatangan untuk melihat bazaar, stand, dan pertunjukan musik dalam rangka perayaan hari pemuda Malaysia. Dekorasi warna-warni dan khas anak muda mewarnai tempat ini, membuat suasana begitu meriah dan hidup. Sayup-sayup suara musik Melayu dan musik modern berlomba untuk didengarkan. Sepanjang jalan kami melihat stand makanan, pakaian, aksesoris, dan suvenir. Panggung pertunjukan musik pun juga didirikan di beberapa titik.

 

Masjid Putra

Dinding dan Langit-Langit Masjid Putra

Berhubung jalanannya sangat ramai, akhirnya kami turun dari bus dan memilih untuk berjalan kaki menuju Masjid Putra. Yup, tempat pertama di Putrajaya yang kami tuju adalah masjid megah berarsitektur modern bergaya Islam yang dibangun pada tahun 1997. Masjid yang didominasi oleh warna merah muda dan krem ini langsung menghadap ke Putrajaya Lake, sebuah danau buatan yang cukup besar dan berfungsi tidak hanya sebagai penyejuk, tetapi juga sebagai penyeimbang di antara gedung-gedung tinggi. Bagi pengunjung yang tertarik mengitari Putrajaya ala Venesia di Itali, di danau ini disewakan perahu cantik bergaya tradisional yang dapat digunakan untuk melihat Putrajaya dalam sudut yang berbeda. Dari Masjid Putra, kita dapat melihat pemandangan kota Putrajaya yang didominasi oleh gedung-gedung tinggi dan jembatan-jembatan yang menghubungkan daerah satu dengan yang lainnya. Di Masjid Putra ini, setiap pengunjung harus menutupi aurat, baik itu perempuan maupun laki-laki. Jadi, bagi yang memakai baju lengan pendek/tidak berlengan, celana pendek, atau tidak berkerudung (bagi perempuan) harus menggunakan jubah kebiruan yang telah disediakan oleh pihak pengelola masjid.  Hal ini dilakukan untuk menghormati tradisi dan budaya setempat.

Cukup lama kami berada di masjid ini. Selain untuk shalat Dhuhur, kami menyempatkan diri untuk melihat pemandangan sembari mengumpulkan tenaga untuk berjalan mengitari Putrajaya lagi. Setelah energi terkumpul, kami menuju Perdana Putra, yaitu kantor perdana menteri Malaysia. Perdana Putra terletak di samping Masjid Putra. Menurut keterangan dari Bunda, penempatan ini merupakan impian dari Mahathir yang menginginkan kantor perdana menteri terletak bersampingan dengan masjid. Bangunan ini juga sarat akan gaya Melayu, Islam, dan Eropa. Berkubah hijau dengan dominasi  warna coklat pada dindingnya, Perdana Putra menjadi salah satu landmark dari Putrajaya. Kami sangat ingin memasuki bangunan ini dan melihat arsitektur bangunan dengan lebih dekat. Namun, ternyata bangunan ini tidak dibuka untuk umum pada hari Minggu. Jadi, Sobat Lontara yang ingin melihat-lihat ke dalam tempat ini, pastikan datang pada saat hari kerja, yaitu Senin-Jumat atau pada hari Sabtu pagi pada minggu kedua dan keempat. Pastikan juga kalian membawa paspor karena akan dicek.

Tim Lontara Project di depan Perdana Putra

Setelah beberapa lama mengitari Putrajaya, kami pun akhirnya beranjak dari ibukota baru Malaysia ini. Dalam perjalanan pulang, di bus kami melihat jejak Bugis lainnya. Di kaca bus terdapat kertas bertuliskan “Pasompa” dan “Pada Idi Tu”. Dalam bahasa Bugis, “Pasompa” berarti perantau, sedangkan “Pada Idi Tu” berarti kita berasal dari kampung atau daerah yang sama. Wah, diaspora Bugis memang sangat terasa di Malaysia.

Jejak Perantau Bugis di Bus Kota

Sekilas tentang Putrajaya Sebagai Ibukota Administratif

Putrajaya sendiri didirikan pada Oktober 1995 atas inisiatif Tun Dr. Mahathir bin Mohamad, mantan perdana menteri Malaysia yang memiliki periode jabatan paling lama. Kota ini resmi menjadi wilayah federal ketiga setelah Kuala Lumpur dan Labuan pada Februari 2001. Wilayah yang ditempati oleh Putrajaya sekarang merupakan hadiah dari pemerintahan Selangor. Terletak 25 km dari selatan Kuala Lumpur, Putrajaya menjalankan fungsinya sebagai pusat administrasi pemerintahan, menggantikan Kuala Lumpur yang dinilai telah begitu ramai dan tidak lagi kondusif untuk dijadikan pusat pemerintahan.

Keberadaaan suatu kota yang khusus dijadikan sebagai pusat administrasi pemerintahan sebenanya bukanlah suatu hal yang baru. Beberapa negara di dunia sudah mempunyai sistem kota semacam ini sejak bertahun-tahun lalu, sebut saja Belanda dan Afrika Selatan. Di Belanda, ibukota nasionalnya adalah Amsterdam, sedangkan pusat administrasinya berada di Den Haag. Afrika Selatan bahkan memiliki tiga ibukota. Cape Town sebagai ibukota legislatif, Pretoria sebagai ibukota administratif, sedangkan Bloemfountein sebagai ibukota yudikatif. Ketiga ibukota ini menjalankan fungsi yang berbeda, namun saling mendukung. Ibukota legislatif merupakan kota dimana pejabat legislatif, seperti pejabat kongres atau parlemen, bekerja. Ibukota administratif merupakan pusat pemerintahan yang memiliki fungsi yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan yang dibuat oleh pihak legislatif. Ibukota yudikatif merupakan kota dimana peradilan tinggi yang berfungsi untuk menjalankan aspek-aspek hukum terletak.

Putrajaya

Fitria Afrianty Sudirman

Fitria Afrianty Sudirman

Seorang mahasiswi prodi Inggris Universitas Indonesia. Senang membaca, menulis, dan menjelajahi tempat-tempat baru. Mempunyai ketertarikan yang besar terhadap dunia internasional, budaya, bahasa, dan kegiatan volunteering. Find out more about her at http://somethingfitt.blogspot.com