Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode VI – “Ujian”

Bab VII bagian 1: Ujian

Satu tahun pun berlalu, dan gua semakin giat berlatih bersama Mas Ka. Kadang saat gua berlatih, Mas Ka mengajak gua untuk ikut dengan beliau untuk melatih kelompok latihan diluar latihan privat kami. Tidak jarang juga gua berlatih bersama beberapa orang yang dilatih secara privat oleh Mas Ka.

Pada satu kesempatan, gua bertanya ke Mas Ka saat istirahat latihan:

“Mas,  murid Mas Ka ada berapa sih?”

Mas Ka langsung menjawab: “Put, aku jujur lho enggak suka kalau dianggap ‘guru’ silat gitu. Terus ditanya ‘muridnya berapa’. Kalau kamu perhatiin, aku kan enggak pernah bilang sama kamu kalau kamu belajar sama aku, aku selalu bilang kamu untuk ‘latihan’ atau ‘latihan bareng’ kan…”

Gua terdiam, “Benar juga ya, Mas Ka selalu bilang untuk ‘latihan’ atau ‘ini temen latihan bareng aku’” di dalam benak gua terpikir begitu. Mas Ka pun melanjutkan:

“…Mungkin ada beberapa orang yang senang dipanggil guru, dan itu wajar. Ingat lho Put, nanti kalau ada saatnya kamu belajar silat lain, kamu mungkin enggak bakal bisa se-santai ini sama siapapun nanti yang ngajar kamu. Kamu kan adek aku, aku malah senang kalau kamu bisa santai, bisa ketawa, bisa cerita semua sama aku. Itu makannya aku enggak terlalu suka dipanggil ‘guru’, soalnya kesannya ada batasan antara aku dan kamu. Kalau misalnya aku bilang ‘teman latihan’ atau ‘latihan bareng’, kan enak, sharing ilmunya itu dua arah. Kamu belajar dari aku, aku juga belajar dari kamu.”

Gua terdiam lagi. Yang Mas Ka coba sampaikan disini adalah prinsip berbagi ilmu, jika ilmu tidak diturunkan atau dibagi, percuma juga untuk disimpan. Apa manfaatnya kalau ilmu itu hanya disimpan seorang saja? Manfaatnya tidak akan terasa.

Prinsip ini gua temukan di banyak perguruan silat kedepannya. Para pewaris ilmu ini dalam segala aspek adalah orang-orang pencinta dan pelestari budaya, dan mereka pun mencari orang-orang yang mereka pandang sesuai dan memiliki kecintaan yang sama dalam melestarikan budaya bersilat ini. Mungkin teman-teman yang membaca bertanya: “kenapa harus dipandang sesuai? Ada anak muda zaman sekarang ini mau belajar silat saja sudah bagus.”

Saat gua mulai menuliskan cerita ini, sudah 12 tahun gua bersilat, dan jujur saja, seiring berjalannya waktu, Silat itu bukan hanya olahraga yang berat untuk fisik. Semakin dipelajari, Silat itu berubah menjadi suatu tanggung jawab,  suatu panduan, suatu pegangan dalam kehidupan. Orang-orang yang dianggap para guru silat sebagai pewaris yang ‘pantas’ atau ‘sesuai’ ini adalah orang-orang yang menjalani prinsip-prinsip Pencak Silat dalam kehidupan mereka, mulai dari tindak, tutur, dan tata mereka.

Tiba – tiba Mas Ka memecah renungan di benak gua dengan satu kalimat yang membuat gua… Amsyong: “Oh iya Put, kamu minggu depan ujian ya. Hyeh hyeh.”

Minggu depan pun datang, dan gua deg-degan bukan main. Begitu gua masuk rumah Mas Ka, nampak ada beberapa teman-teman latihan lainnya. Mereka terlihat sedang melakukan peregangan, berlatih langkah, dan saling mengoreksi gerak satu dan yang lainnya.

Gua menghampiri salah satu dari mereka dan bertanya, “Mas Ka mana mas?”

“Belum keluar Put, kamu siap-siap saja dulu. Gerak badan, pemanasan.”

Tak lama, Mas Ka pun keluar dari rumahnya, dan ikut seorang kawan seperguruan. Mas Ka seperti biasa tampak berseri-seri, tetapi ada yang lain dari sorot matanya. Kawan seperguruan kami, nampak letih lesu kelelahan.

Gua bingung, dan gua segera menghampiri Mas Ka

“Mas, ini ujian kita mesti apa?” kerisauan gua terdengar jelas

“Udah Put, gampang, nanti kamu masuk ikutin aja disuruh apa.” Mas Ka tersenyum kecil.

Memasuki ruangan keluarga Mas Ka, terduduklah sesosok laki-laki yang gua asumsi berusia sekitar 40 tahun. Dengan baju kaos oblong yang gombrong, kopyah putih, dan… celana hitam yang sangat khas: celana silat.

Mas Ka tiba-tiba memecah ketegangan benak gua dengan memperkenalkan sosok laki-laki itu: “Put, kamu salaman dulu yuk sama guru aku.”

Gua merasa semakin deg-degan. Bapak ini adalah GURUnya Mas ka.

 

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

 

By Louie Buana

Seorang warga Panakkukang yang sedang belajar hukum dan sejarah di Universiteit Leiden, Belanda. Sedari kecil sudah sering berpindah-pindah, dari Pulau Timor hingga Athens (Ohio, Amerika Serikat). Saat ini ia juga menjadi Guest Researcher di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian & Carribean Studies (KITLV) Leiden. Punya hobi jalan-jalan, membaca buku dan karaoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *