Siapa sangka manuskrip La Galigo terpanjang di dunia ternyata dikumpulkan oleh seorang misionaris dari negri Van Oranje?
Awal Juli 1848 (beberapa minggu setelah pernikahannya), Ia berangkat untuk memenuhi misi mempelajari dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar. Setelah berlayar selama 112 hari bersama sang istri, Ia mendarat di Batavia pada tanggal 28 Oktober 1848. Dia baru tiba di Sulawesi Selatan pada tanggal 20 Desember 1848. Untuk menjalankan misinya sebagai utusan Nederlansch Bijbelgenootschap, Ia meninggalkan tempat kediamannya di Maros menuju Pangkajene, Bungoro, Labakkang, Segeri, hingga akhirnya bertemu dengan Arung Pancana We Tenri Olle, putri Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa. Di sanalah Ia bersahabat dengan sang ratu Tanete, mempelajari adat-istiadat Bugis dengan penuh keseriusan, serta berjuang menyalin lembar demi lembar lontaraq yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Selain memperhatikan unggah-ungguh di kebangsawanan Bugis, Ia juga terjun langsung mempelajari masyarakat dengan cara turun ke pasar-pasar, menonton upacara-upacara tradisional, bahkan hingga menginap di rumah penduduk.
Ia merupakan orang Barat pertama yang mempelajari bahasa dan literatur Bugis secara mendalam. Ia terpesona oleh Sureq Galigo, mendengarkan dengan penuh seksama ketika galigo dilagukan dan gigih mengumpulkan bahan-bahan mengenai epik besar yang tersebar di banyak lontaraq ini. Di dalam bukunya Ia menulis bagaimana La Galigo ini meskipun tidak pernah dikumpulkan oleh masyarakat Bugis ke dalam sebuah buku yang utuh, tetap hidup dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perjuangannya nampak dari kesabarannya menyalin lontaraq yang tidak boleh dipinjam dari si pemilik. Selama berhari-hari Ia sanggup menghabiskan waktu dengan menyalin ulang lontaraq tersebut di atas kertas beralaskan koper. Selama 23 tahun Ia berkeliling Sulawesi Selatan dengan diselingi oleh dua kali cuti ke Belanda tahun 1858-1861 dan 1870-1876. Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa yang saat itu berada dalam pengasingan di Makassar menjadi editor yang menyatukan naskah-naskah La Galigo yang ia kumpulkan. Usaha Matthes dan Colliq Pujié menghasilkan kedua belas volume NBG 188 yang saat ini tersimpan di perpustakaan Leiden University. Pada tahun 1906 Ia meninggal dan dikebumikan di kota Den Haag, Belanda.
Tiga masterpiece Mathes yang hingga saat ini masih digunakan sebagai rujukan oleh sarjana-sarjana maupun para peneliti kebudayaan Sulawesi Selatan antara lain; Terjemahan Alkitab dalam Bahasa Makassar-Bugis tahun 1887 dan 1900, Makassaarsche en Boegineesche Woordenboek (kamus bahasa Makassar-Bugis) serta tiga jilid Boegineesche chrestomathie (bunga rampai budaya Bugis). Inovasi terbesar Matthes selain “penyelamatan” La Galigo dalam bentuk naskah yang utuh adalah usahanya membakukan aksara lontaraq dengan pola dasar segi empat guna mempermudah proses percetakan. Bentuk aksara lontaraq yang mengambil sifat sulapak eppak walasuji sebagaimana yang kita kenal hari ini sejatinya merupakan hasil prakarsa kreatif Matthes. Sebelum itu (pra-abad ke-19), naskah-naskah lontaraq ditulis dalam beragam gaya khas masing-masing manuskripnya.
Referensi:
Sewang, Ahmad. “Islamisasi Kerajaan Gowa (Abad XVI-XVII)”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Rahim, Abdur Rahman. “Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis.” Yogyakarta: Ombak, 2011.
Universitas Hasanuddin. “La Galigo: Menelusuri Jejak Warisan Dunia.” Kerjasama Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian, Universitas Hasanuddin [dan] Pemerintah Daerah Kabupaten Barru, 2003
Rahman, Nurhayati. Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa 1812-1876: Intelektual Penggerak Zaman. Ujung Pandang: La Galigo Press. 2008.