Bab IX, Bagian 1: Tutup, Langkah Lima

Seminggu berlalu, dan sudah tiga pertemuan gua lewati bersama Mas Ka. Latihan awal dimulai dari langkah tutupan pertama, Langkah Lima. Langkah Lima ini adalah langkah orisinil silat Tunggal Rasa. Di setiap latihan, Mas Ka menjelaskan bahwa banyak aliran silat adalah hasil ramuan dari beberapa aliran silat lainnya. Tunggal Rasa pun begitu, tetapi Langkah Lima bukanlah hasil ramuan observasi ataupun tiruan aliran lain, Langkah Lima adalah langkah asli Tunggal Rasa yang menjadi pamungkas.

Dalam selingan istirahat, Mas Ka menjelaskan, “Put, Langkah Lima sesuai namanya, ada lima langkah. Tetapi jurus pamungkasnya ada di langkah kelima. Kenapa sih harus dilatih nonstop semua rangkaiannya? Karena dulu langkah ini harus cepat bisa Put.”

Cepat bisa? Maksudnya bagaimana? Dan seperti biasa, Mas Ka menjawab seperti tahu kapan gua bertanya dalam pikiran gua,

“Kenapa harus cepat bisa? Gini Put ceritanya, dulu kan zaman dijajah Belanda, kalau dicegat pasukan atau salah satu serdadu Belanda, kamu harus bisa bela diri atau bela sesamamu, nah untuk bela diri atau bela sesama, kan kamu harus punya pegangan. Dulu latihan silat juga dilarang, makannya latihannya di dapur, sehabis maghrib, atau di ruang tamu, dan langkahnya pendek – pendek itu supaya praktis. Cepat bisa, cepat pakai.”

Gua mengangguk – ngangguk. “Oke mas, jadi sekarang apa?”

Mas Ka berdiri, dan gua pun ikut berdiri tanda latihan akan dimulai lagi. Beliau memasang kuda – kuda agak lebar, kedua tangan mengepal. Tangan kiri bersikap menangkis seperti memegang perisai, kepalan kanan menghadap bawah menutup selangkangan. “Kiri tangkis, kanan jaga bawah, lanjut langkah maju, kanan tangkis, kiri susul pukul.”

Gua mengikuti instruksi Mas Ka langkah per langkah. Kaki kiri maju, totok tangan kanan, angkat kaki, rambet kiri, patahkan sikut dengan gebrak tangan kanan. Susul totok kanan, gedig. Ulangi dari sisi kiri.

“Oke Put, bagus. Sekarang ulangin empat kali arah utara, timur, selatan, barat.”

 

Bab IX Bagian 2: Tutup, Empat Penjuru

Gua mengulang jurus yang sama empat kali dengan arah depan, Belakang, kiri, kanan, depan.

Mas Ka menegur gua: “Put, salah tuh. Kamu harus ikutin empat arah mata angin sesuai putaran jarum jam.”

“Kenapa mas?”

“Biasakan berputar dengan benar dulu Put, nanti jurus yang lain soalnya enggak pakai arahan. Hehehe. Kayak menggambar aja, sebelum bisa gambar, kamu harus bisa buat garis dulu kan. Ini juga melatih reflex, kamu bayangin aja lawanmu itu datang dari arah sesuai jarum jam dulu, nanti kalau tubuhmu sudah ingat, baru kita acak lagi biar jadi terbiasa sama semua keadaan.”

Ok, menurut gua ini cukup mudah. Gua sudah mengulang empat kali empat putaran, sekarang gua cukup pusing.

“Put, pusing ya?”

Baru sadar, kepala gua terasa sedikit berputar, “Iya nih mas”

“Oke Put, sekarang langsung acak geraknya, depan, kiri, kanan, Belakang”

Tanpa banyak bertanya, gua mengerjakan apa yang Mas Ka perintahkan. Dan sekejap, rasa pusing itu hilang.

“Bagus Put, sekarang berdiri tegak, tangan kepal siap kiri – kanan, kepala tengok kiri.”

 

Bab IX, Bagian 3: Tutupan, Susun Sirih

“Put, ikutin aku ya”.

Mas Ka berdiri tegap, tubuh menghadapi kanan, tetapi kepala melihat kearah kiri lurus. Tiba-tiba dengan sangat cepat, Mas Ka mengegoskan pundaknya sehingga menghadap kiri, dan set! Tangan kanannya menusuk lurus mengikuti arah kepala berpaling. Set! Mengegos lagi, Set! Mengegos dan menotok lagi. Gerakan ini beliau ulangi beberapa kali.

“Mas, ini gerakannya apa? Aku enggak ngerti.” Gua bingung karena gerakan tadi aneh sekali dipandang mata.

Mas Ka menandakan agar gua berdiri, dan gua menghadap beliau. “Pukul aku.”

Gua melancarkan pukulan dengan cepat, dan bet! Pukulan gua melesat sepersekian senti dari pundak Mas Ka, tiba – tiba gua sudah merasakan tekanan tajam di sendi pundak gua. Secara reflek gua menepis pukulan itu, dan tiba – tiba bet! Satu totokan lagi sudah masuk di pundak kanan gua.

“Ini namanya susun sirih Put.” Mas Ka menjelaskan.

“Kenapa susun sirih mas?” Gua penasaran.

“Kalau dulu Put, ada tamu, itu disuguhin sirih karena kebiasaan orang dulu, Nyirih. Nah, menyusun daun sirih itu harus rapat Put, biar muatnya banyak. Filosofi yang sama berlaku, kamu harus bertahan secara rapat, sama kalau susun daun sirih. Tidak boleh kasih kesempatan musuh berkutik Put.”

BERSAMBUNG…

rakaRaka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

Louie Buana

Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.