“Natijang ronnang La Massaguni, lé naittéq I bake manuqna, natappokangngi turung nrupanna Langiq Risompa, napasibollo miccu makkeda, “Somméng-somméngmu La Tenrinyiwiq, boréq-boréqmu Langiq Risompa, panyilikiaq gauq masomméng  tappaliwemmu, muasengngé béla watammu lé oroané.”

Segera berdiri La Massaguni, memungut bangkai ayamnya, melemparkannya ke muka Langiq Risompa, lalu meludah sambil berkata, “Sombong benar engkau La Tenrinyiwiq, kurang ajar benar engkau Langiq Risompa, mempertontonkan aku perbuatan sombong yang keterlaluan, apa kau mengira, (bahwa) hanya dirimu yang laki-laki”. (Nurhayati Rahman, 2006:362)*

La Massaguni by Maharani Budi

 Tokoh ini mempunyai karakter yang beroposisi dengan La Pananrang. Kalau La Pananrang adalah tokoh yang berhati lembut, halus, dan bijaksana, maka La Massaguni adalah sebaliknya; ia adalah tokoh yang keras, tegas, dan emosional, tidak kenal kompromi, dan tidak banyak bicara, ia lebih banyak bertindak.

La Massaguni dalam naskah lebih populer dengan panggilan To Ampé Manuq yang secara harfiah berarti To : orang, Ampé : sifat, dan Manuq : ayam, jadi To Ampéq Manuq adalah orang yang mempunyai karakter seperti ayam.

Ayam adalah simbol kejantanan, bila diadu ia pantang menyerah, karenanya ayam selalu menjadi teman raja, ke mana saja raja pergi maka ayam jago yang menjadi simbol kejantanan seorang raja dalam pesta penyabungan ayam, selalu menemaninya.

Demikianlah gambaran tentang keadaan To Ampéq Manuq, fungsinya dalam mendampingi Sawérigading adalah sebagai panglima angkatan perang. Tugas yang menantang kekuatan fisik dan keberanian itu sejalan dengan karakter yang dimilikinya. Ia bak ayam jago bila berlaga di medan perang, menyeruduk kesana kemari tanpa memperhitungkan keselamatannya. Bahkan kadang-kadang ia bertindak sangat gegabah tanpa memusyawarahkan dengan La Pananrang.

Meskipun La Massaguni keras dan emosional, tapi ia juga menyimpan sifat-sifat kelembutan terutama bila ia menghadapi wanita; yang menonjol adalah sifat romantisnya. Seperti diketahui bahwa saat Sawerigading menolak La Tenrilennareng (janda La Tenrinyiwiq) untuk menjadi istrinya, maka La Massaguni yang menyodorkan diri untuk mempersuntingnya.

Perkawinan pun berlangsung dengan meriah di atas perahu, di tengah-tengah duka yang melanda sang permaisuri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya La Tenrinyiwiq, dan justru yang menjadi suaminya adalah orang yang membunuh suaminya. Sepanjang pesta perkawinan iti, tak henti-hentinya La Tenrilennareng menangis, meratapi nasibnya, membuat perasaan La Massaguni tak menentu.

Ia memangku istrinya sembari membelai rambutnya yang panjang dan tergerai dan menghibur hatinya dengan kata-kata lembut. Semua itu merupakan gambaran yang lembut dan romantis dari diri sang juara.*

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!

Maharani Budi

Maharani Budi

Maharani Budi, seorang Mediocre Designer mata keranjang terhadap ilmu pengetahuan: heritage, desain, sastra, isu sosial, dan pendidikan. Saat ini sementara mumet dengan semester akhir di RMIT Melbourne. Boleh jalan-jalan ke IGnya @jiecess untuk caption yang lebih sendu dan menohok.