Pada tanggal 17 hingga 22 Desember 2018 lalu, sebuah hajatan besar diselenggarakan di kota Watan Soppeng yang jaraknya kurang lebih 150 kilometer dari Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Seminar Internasional dan Festival Budaya La Galigo III judul acaranya, menghadirkan pemateri dari Australia, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Inggris dan lain sebagainya. Menurut kabar, ada sekitar 600 orang peserta kegiatan ini. Selain diskusi ilmiah mengenai hasil-hasil riset seputar epos besar La Galigo, diadakan pula beragam pertunjukkan seni kebudayaan oleh pelaku-pelaku kesenian lokal. Pertunjukkan massureq (pembacaan La Galigo), tari Se’re Bissu (tarian upacara Bissu) serta bermacam pementasan diadakan di area tempat berlangsungnya kegiatan tersebut.

Beberapa bulan sebelumnya, saya telah mendapatkan undangan dari panitia untuk menjadi salah satu pemakalah di seminar internasionalnya. Tentu saja saya merasa tersanjung sebab dapat mewakili komunitas Lontara Project membawa warna baru di tengah diskusi La Galigo yang kebanyakan memang dikuasai oleh kalangan akademisi. Bahkan seorang kawan sudah mengingatkan agar tidak usah saja berangkat ke sana sebab ya acaranya hanya akan terpusat pada debat tidak ada habisnya di kalangan para akademisi lokalnya sendiri. Saya memutuskan untuk tetap optimis dan berangkat ke acara tersebut, sebab toh sudah diundang juga. Saya yakin dengan mewakili Lontara Project yang notabene merupakan komunitas konservasi budaya kreatif, suara anak muda akan lebih terdengar di dunia pengkajian La Galigo. Biar kesannya nggak kaku-kaku amat juga. Saya pun memutuskan untuk berangkat dari Yogyakarta, tempat domisili sekarang, menuju ke Makassar.

Abdi Karya, Louie Buana, Anna Asriani: tim Lontara Project di depan Villa Juliana Watan Soppeng

Abdi Karya, Louie Buana, Anna Asriani: tim Lontara Project di depan Villa Juliana Watan Soppeng

Singkat cerita, dengan ditemani oleh seorang seniman muda berbakat Sulawesi Selatan, kak Abdi Karya; sejarawan kuliner dan akulturasi Tionghoa Makassar, Anna Asriani; serta pegiat musik indie kota Makassar, Achmad Nirwan, berangkatlah kami dengan mobil sewaan menuju ke Watan Soppeng. Setibanya di lokasi acara, saya cukup terkejut. Ternyata dari sekitar 30-an narasumber (atau dalam bahasa panitia disebut pemakalah), yang usianya di bawah 30 tahun hanyalah saya dan seorang penulis muda Sulawesi Selatan, Faisal Oddang. Wah, kemana generasi mudanya?

Sebenarnya saya sendiri juga sudah biasa dikelilingi oleh orang-orang tua di acara-acara konferensi maupun seminar ilmiah, akan tetapi kali ini perasaan saya cukup miris. Ditambah lagi saat melihat peserta yang memenuhi baruga (auditorium) tempat seluruh kegiatan seminar berlangsung kebanyakan ialah pegawai negeri setempat yang usianya juga sudah tidak muda lagi. Tidak apa-apa jika mereka yang hadir, tentu saja La Galigo ini ialah milik semua orang dan ageless, namun yang membuat saya cukup lama merenung ialah fakta bahwa di acara sebesar ini baik dari undangan maupun pesertanya kuota anak muda seakan terpinggirkan. Memang ada banyak anak-anak usia kuliah yang berlalu-lalang di gedung namun mereka kebanyakan ialah mahasiswa yang menjadi panitia.

Akhirnya, ketika mendapatkan giliran untuk presentasi di hari ketiga, saya memutuskan tidak akan memaparkan artikel yang telah saya kirimkan ke panitia sebelumnya. Artikel tersebut membahas mengenai aspek-aspek hukum adat di dalam epos La Galigo. Akan tetapi melihat peserta yang makin hari makin berkonsentrasi dengan gadgetnya masing-masing serta hampanya representasi generasi muda di acara ini, akhirnya saya memutuskan untuk sharing mengenai pengalaman saya tinggal di Belanda selama 3 tahun serta jejak-jejak peninggalan Bugis yang ada di sana.

Berbekal beberapa foto yang menampilkan naskah-naskah Bugis kuno yang saya jumpai di negeri kincir angin tersebut, tanpa bahan presentasi dalam bentuk power point, syukurnya para peserta yang hadir dapat tertarik perhatiannya. Koleksi foto yang saya tunjukkan ialah gambar-gambar naskah NBG 188 yang tersimpan di Leiden, koleksi naskah La Galigo bergambar di Middelburg, naskah La Galigo tertua di Deventer, dan sebuah makam yang ditengarai merupakan makam seorang hamba Bugis dari abad ke-18 di pinggiran kota Zwolle. Setelah mampu menyedot perhatian massa, saya menegaskan terakhir kali bahwa sebagai sebuah warisan budaya seharusnya partisipasi generasi muda harus lebih digalakkan lagi terhadap La Galigo ini. La Galigo akan diwarisi oleh mereka yang muda-muda, jika untuk acara yang menghabiskan dana sebesar ini mereka tidak diberikan kesempatan, lantas kapan lagi?

Saat membawakan last-minute-presentation berjudul "Traces of La Galigo and Bugis Manuscripts in The Netherlands"

Saat membawakan last-minute-presentation berjudul “Traces of La Galigo and Bugis Manuscripts in The Netherlands”

Sore itu selepas mempresentasikan foto-foto saya, rombongan kecil kami pun meninggalkan kota Watan Soppeng menuju ke kota Sengkang. Acara masih berlangsung selama beberapa hari ke depan, akan tetapi saya merasa kewajiban sudah tertunaikan sampai di situ. Penulis Faisal Oddang yang juga menjadi perwakilan generasi milenial di seminar tersebut bahkan sudah kembali ke kota Makassar sehari sebelumnya.

Saya berharap semoga untuk acara seminar dan festival La Galigo selanjutnya, kehadiran mereka yang muda-muda bisa mendapatkan porsi yang besar entah sebagai pembicara maupun sebagai peserta kegiatan. Amat disayangkan apabila diskusi dan pelestarian epos adiluhung ini hanya berputar-putar di kalangan akademisi tertentu dan tidak membuka pintunya untuk anak-anak muda. Seiring dengan bergulirnya ban mobil sewaan kami menuju kota Sengkang, saya pun kembali merencanakan ide-ide baru bersama kawan-kawan untuk dapat mengonservasi La Galigo ini dengan cara kekinian. Dari dan oleh anak muda, La Galigo akan tetap bertahan.

Makassar, 6 Januari 2019

Louie Buana

Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.