Pada tanggal 4 Р9 Desember 2017 terjadi sebuah momentum yang bersejarah. Melalui Sidang Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Pulau Jeju, Korea Selatan, diputuskanlah seni penciptaan perahu Phinisi asal Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Heritage). Hal ini tentu saja mengundang rasa bangga kita akan warisan leluhur yang telah mendunia tersebut, khususnya yang berasal dari Sulawesi Selatan. Di balik euforia pengakuan oleh UNESCO, ternyata banyak yang masih salah kaprah dan gagal paham dengan latar belakang pengakuan Phinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Apakah benar perahu Phinisi diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya? Simak laporan Louie Buana berikut ini.

Perahu tradisional di Pantai Losari. Phinisi kah? Dokumentasi Pribadi.

Perahu tradisional di Pantai Losari. Phinisi kah? Dokumentasi Pribadi.

 

“Bukan Phinisi, Melainkan Seninya”

Proses pembuatan perahu Phinisi serta perahu-perahu tradisional lainnya di Sulawesi Selatan pada dasarnya merupakan sebuah rangkaian dari tradisi lisan yang melibatkan bahasa sebagai kunci penting dalam transfer ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi lainnya. Harap maklum, sejauh ini memang belum pernah ditemukan buku panduan, kitab, naskah lontar atau manual lainnya yang menjadi pegangan para pengrajin perahu tradisional di daerah Bontobahari, rahim perahu Phinisi, dalam menciptakan karyanya. Seorang pengrajin perahu Phinisi mewarisi kemampuannya dalam membuat perahu tidak melalui bangku pendidikan formal, melainkan melalui praktek langsung berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang dilestarikan di bantilang atau “bengkel” tempat Phinisi dibuat.

Di samping itu, ada keterkaitan yang melekat erat antara ritual-ritual adat dengan proses pembuatan perahu tersebut. Ritual-ritual tersebut wajib untuk dikerjakan secara berurutan untuk menandai selesainya sebuah fase dalam pembentukan perahu Phinisi dan menandai pula dimulainya sebuah fase baru. Seorang Panrita Lopi atau arsitek utama dalam pembuatan perahu hanya akan menurunkan pengetahuan-pengetahuan khusus yang sifatnya filosofis kepada ahli waris yang ia anggap layak.

Dengan memperhitungkan seluruh komponen non-bendawi inilah kemudian UNESCO sepakat untuk memasukkan seni membuat Phinisi ke dalam daftarnya. UNESCO menilai bahwa esensi Phinisi terdapat pada prosesnya, tidak semata-mata pada bendanya itu sendiri. Kategori serupa juga sebelumnya telah disematkan kepada keris dan batik sebagai intangible heritage. Tanpa memaknai arti penting akan seni penciptaan keris maupun batik maka kedua warisan budaya tersebut tidak lebih dari sekedar pajangan biasa. Selain pengetahuan mengenai cara pembuatan perahu, teknik-teknik tradisional dalam melayarkan Phinisi juga tergolong ke dalam kategori ini, sebab keduanya merupakan satu kesatuan yang saling kait-mengait satu sama lain.

Ini yang sebenarnya musti dipahami oleh kebanyakan orang: warisan budaya suatu bangsa tidak melulu terejawentahkan dalam bentuk monumen-monumen nan megah atau koleksi-koleksi museum saja. Tradisi yang hidup (living tradition) yang dipraktekkan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal juga merupakan bahagian dari kekayaan negeri yang layak mendapatkan perhatian khusus. Metode pembuatan jamu, kerajinan tangan dan bahkan makan-makanan tradisional juga dapat tergolong ke dalam warisan budaya. Dalam hal UNESCO menegaskan:

Its importance lies not in the cultural manifestation itself, but in the heritage of the knowledge and techniques that are passed on, revealing social and economic value for both human groups and entire States.

Yuk, perluas pengetahuan kita akan tradisi-tradisi yang sifatnya kebanyakan tidak tertulis ini. Kita dokumentasikan dan lestarikan di tengah zaman yang semakin berubah. Jika bukan kita, lantas siapa lagi?

Sumber: https://ich.unesco.org/

Louie Buana

Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.