Saat berkunjung ke jazirah Sulawesi Selatan di abad ke-19, John Crawfurd pernah dibuat takjub oleh seorang perempuan yang menjabat sebagai ratu di negeri Lipukasi. Ia menuliskan bahwa ratu ini menjadi panglima perang dan memberikan contoh cara memegang tombak yang baik kepada prajuritnya yang laki-laki. Situasi tersebut mengejutkan bagi Crawfurd karena hal yang sama tidak mungkin terjadi di Eropa. Di abad yang sama, perempuan Eropa pada zaman Victorian adalah produk dari dominasi patriarki yang menghendaki mereka untuk tunduk patuh kepada kaum pria. Jangankan menjadi panglima perang atau memegang senjata, perempuan Eropa saat itu tidak memiliki hak suara sama sekali, tidak boleh keluar rumah dan seringkali menjadi korban dari penindasan oleh kaum pria. Jika melihat perbandingan tersebut maka jelaslah perempuan Bugis sudah jauh lebih progresif dibandingkan dengan perempuan-perempuan di belahan dunia lainnya.

Suasana Pelantikan KKSS Eropa di KBRI Paris

Kemeriahan suasana Pelantikan KKSS Eropa di KBRI Paris

Di Sulawesi Selatan secara umum, peran perempuan yang setara dengan laki-laki sudah bukan cerita baru. Kerajaan Gowa di Makassar contohnya. Kerajaan yang sempat menjadi kekuatan maritim utama di perairan Indonesia setelah runtuhnya Majapahit di abad ke-16 ini didirikan oleh seorang perempuan yang diberi gelar Tumanurunga ri Tamalate. Dikisahkan sebagai dewi yang turun dari langit (atau berasal dari sistem peradaban yang lebih tinggi), Tumanurunga ri Tamalate bersedia menjadi ratu pertama kerajaan Gowa sekaligus peletak fondasi dinasi raja-raja Makassar. Di Tana Toraja, perempuan juga memiliki hak-hak sebagaimana halnya laki-laki. Perempuan memiliki hak waris dan sistem kendali terhadap keluarga. Tercatat, sejak zaman Belanda dulu perempuan-perempuan berdarah ningrat di Toraja dapat menjadi pemimpin, bahkan sebagai bupati. Konsep yang sama pun ditemukan di dalam kebudayaan Mandar. Siwaliparriq atau berbagi derita merupakan ide persamaan gender yang diterapkan oleh nelayan-nelayan Mandar dan istrinya yang menguasai urusan domestik selama sang suami pergi berlayar. Kehadiran konsep siwaliparriq ini membantu berputarnya dinamika masyarakat, tidak bertumpu pada kehadiran laki-laki saja sehingga kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya tidak akan mati begitu ditinggal oleh kaum prianya mencari uang.

Beribu-ribu kilometer dari kampung halaman, kedahsyatan perempuan Sulawesi Selatan dalam mengambil peran di tengah masyarakat terdengar gaungnya di Benua Biru. Minggu, 5 Juni 2016 langit Paris yang dilanda mendung menjadi saksinya. Bendera Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan berkibar di tanah Eropa. Disahkan oleh bapak DR. H. Andi Jamaro Dulung selaku Wakil Ketua Umum BPP KKSS di hadapan Duta Besar Indonesia untuk Perancis, Nurhaeda Temarenreng (Nena Doligez) dilantik sebagai ketua KKSS Eropa.

Persembahan dari Belanda: Tari 4 Etnis oleh Mahasiswa dari kota Leiden dan Amsterdam

Persembahan dari Belanda: Tari 4 Etnis oleh Mahasiswa dari kota Leiden dan Amsterdam

KKSS Eropa membawahi 15 negara yang tersebar mulai dari Inggris hingga Italia. Uniknya, organisasi ini didalangi dan mayoritas beranggotakan perempuan. Perempuan-perempuan bermental baja dari Sulawesi Selatan yang merantau jauh dari tanah kelahirannya. Tepatlah sudah organisasi ini disebut sebagai “Keluarga” bukannya persatuan maupun asosiasi perantau Sulawesi Selatan di Eropa. Perempuan merupakan pemersatu keluarga. Perempuan juga yang membuat api di dalam rumah tangga untuk terus hidup dan membawa kehangatan kepada seluruh anggotanya. Perempuan lah yang menjadi tiang utama (posiq bola, benteng polong, posiq boyang) di rumah panggung yang kita dirikan bersama-sama di bumi Eropa ini. Tentunya bukan tanpa kekurangan acara tersebut berlangsung. Sifat keterbukaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan membuat kritik dan masukan agar acara KKSS Eropa dapat berjalan dengan lebih baik lagi mengalir begitu acara pelantikan selesai. Keterbatasan waktu, tempat, tenaga dan dana menjadi tantangan KKSS Eropa ke depan.

Semoga KKSS Eropa dapat tumbuh progresif, mampu menjadi wadah berkreasi anggota-anggotanya serta menjadi tempat untuk berandil bagi Indonesia dari luar negeri.

Leiden, 7 Juni 2016

 

Referensi sejarah:

Nurhayati Rahman, Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa Intelektual Penggerak Zaman, La Galigo

Langit Perempuan, http://www.langitperempuan.com/den-upa-rombelayuk-pulihkan-hak-pilih-adat-perempuan-toraja/

Louie Buana

Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.