Dalam tulisan kali ini, kita tidak akan menyinggung kenapa di Australia, french fries disebut chips, atau kenapa McDonald disebut Macca. Tapi lebih mendiskusikan kenapa orang-orang Australia sangat bangga mengkonsumsi udang yang dipanen dari Queensland ketimbang membeli udang yang diimpor dari perairan New Zealand. 

Waktu-waktu biasa di Melbourne, pasar selalu ramai empat lima hari dalam seminggu. Terdapat pasar tradisional di hampir setiap area: semuanya bersih, menyenangkan, dan mudah dijangkau menggunakan transportasi umum. Pasar, bagi orang-orang Australia, lebih dari sekedar tempat jual beli kebutuhan sehari-hari, melainkan berfungsi sebagai lokasi piknik dan jalan-jalan. Seperti museum dan galeri seni, pasar di Australia adalah ikon sejarah kota yang perlu dilestarikan. Berbeda dengan Indonesia saat mall-mall menjamur dan pusat perbelanjaan perlahan menggencet posisi para pedagang kecil, di Australia, supermarket tidak bisa menggantikan peran pasar tradisional yang lebih humanis. Pasar selalu menjadi lokasi berbelanja favorit masyarakat disini. Tua muda, single atau berkeluarga, berkaos atau berjas, pasar adalah tempat yang berbaurnya produsen, distributor, dan konsumen dari berbagai penjuru dunia. Hampir tidak nampak adanya strata sosial di pasar-pasar Victoria.

South Melbourne Market

Mengapa? Mengapa pasar sudah menjadi bagian dari kehidupan di Australia? Soalnya pemerintah sadar betul, bahwa pasar juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para turis. Konsep pasar dikemas menyenangkan, setiap musim selalu ada program dan kegiatan terjadwal. Konser musik, festival makanan, lomba menggambar, banyak diadakan di pasar. Semuanya ter-update di websitenya (masing-masing pasar punya website loh). Dengan mengusung nilai sejarah dan support local, pasar-pasar tradisional Australia menjadi wajib untuk dikunjungi. Situasi dalam pasar pun tidak kalah menarik. Beberapa pasar di Australia kadangkala terlalu bagus, jauh dari kesan kumuh, bau, dan becek. Di South Melbourne Market misalnya, terdapat beberapa restoran/kafe yang masuk dalam must-visited list di banyak ulasan/panduan traveling ke Australia. Di websitenya, terdapat index profil para pedagang yang membuka stall disana. Oh, mereka sangat bangga loh berjualan di pasar. Sebab tidak sedikit merupakan bisnis keluarga selama beberapa generasi yang berlomba-lomba menjual hasil perkebunan/peternakan sendiri. Di musim liburan, banyak anak-anak yang ikut membantu bapak/ibunya berdagang. Jadi jangan heran ya kalau menemukan penjual cabe atau “tukang sayur” yang masih muda dan cute. Begitu pula dengan sesama pembeli. Anak-anak muda di Melbourne ga ada yang gengsi tuh belanja di pasar, tidak peduli se”gaul” apapun gaya mereka. Pemandangan “para hipster menarik troli belanja, sambil tebar pesona dan memilah milih daun kangkung” pun sudah biasa. Jadi, pengalaman berbelanja di pasar pun semakin menyenangkan. Singkatnya, modus berbelanja kadang bukan hanya untuk mencari bahan makanan, tapi sekedar cuci mata bagi jomblo bahagia.

Artis-artis Pasar

Hampir masing-masing street performancer di Melbourne memiliki massa tersendiri. Mereka juga menjadi alasan kenapa para pengunjung betah aja nongkrong di pasar. Di sudut kota Melbourne, lusinan macam artis jalanan mengadu bakat. Dan beraksi di pasar tidak terkecuali. Ada jajanan, ada musik-musik berkualitas. Santai di pasar adalah salah satu kebiasaan masyarakat lokal. Menikmati sinar matahari sembari menyeruput kopi, ngobrol ngalur ngidul, dan makan roti di pelataran pasar menjadi satu memori yang bisa diingat tentang Melbourne. Pada musim-musim tertentu, seperti winter, pengelola tidak kehabisan ide dengan menggelar Winter Night Market. Yup, pasarnya kembali dibuka justru ketika hari sudah gelap. Night Market dijejali dengan lampu warna-warni, street food stalls, stand aksesoris meriah, dan tentu saja panggung musik. Siapa yang tidak suka?

Tampilan Website Resmi QV Market

Tampilan Website Resmi QV Market

Dengan itu, tidak pernah bisa tidak mengingat Makassar. Terbayang seandainya pengelolaan pasar bisa dibuat seperti demikian. Sederhana saja idenya. Tempat Pelelangan ikan mungkin bisa terkenal seperti Tsukiji Market di Jepang. Pasar tidak perlu mewah, tapi tetap nyaman dan bersih. Pedagang lokal yang menjual bahan makanan murah tapi tetap berkualitas. Yang jelas, pasar orang Indonesia dulu yang perlu diisi. Panganan lokal dibuat tertata, begitu pula penanganan limbahnya. Mengedukasi penjual dan pembeli, biar pasar semakin betah dikunjungi. Itu dulu saja. Biar masyarakat merasa bangga. Seperti ibu-ibu Australia yang begitu selektif tentang asal muasal produk yang dibelinya,

“Ini salmon dari mana?” // “Oh, itu Salmon impor dari New Zealand, Bu.” // “Yang dari Australia yang mana? Saya cuma mau beli yang lokal aja.”

Nah. Gimana menurut kalian?

Maharani Budi

Maharani Budi

Maharani Budi, seorang Mediocre Designer mata keranjang terhadap ilmu pengetahuan: heritage, desain, sastra, isu sosial, dan pendidikan. Saat ini sementara mumet dengan semester akhir di RMIT Melbourne. Boleh jalan-jalan ke IGnya @jiecess untuk caption yang lebih sendu dan menohok.