Leiden adalah kota yang unik. Tidak saja karena ia termasuk salah satu kota pelopor kemerdekaan Belanda dari tangan Kerajaan Spanyol pada tahun 1574, namun juga karena Leiden adalah tuan rumah dari Universiteit Leiden, universitas pertama di negeri kincir angin. Leiden sebagaimana halnya Jogja di Indonesia, merupakan kota pelajar. Jika luasnya dibandingkan dengan Amsterdam maupun The Hague jelas kota ini jauh lebih kecil. Leiden bukanlah tujuan utama turisme maupun kegiatan bisnis internasional, akan tetapi yang bisa membuat Leiden berbangga hati ialah fakta bahwa di dalam rahimnya bersarang material-material langka terkait kenangan maupun kekinian dari era Hindia Belanda hingga Indonesia pasca merdeka.

Tim La Galigo Music Project didampingi Sirtjo Koolhof saat mengunjungi Perpustakaan Universiteit Leiden untuk melihat langsung NBG 188

Tim La Galigo Music Project didampingi Sirtjo Koolhof saat mengunjungi Perpustakaan Universiteit Leiden untuk melihat langsung NBG 188 pada bulan Desember 2013 lalu

Universiteitbibliotheek Leiden alias Perpustakaan Universiteit Leiden berlokasi di sekitar kanal Rapenburg, jantung kota Leiden. Perpustakaan ini tepat berseberangan dengan Leidse Fakulteit der Geesteswetenschappen alias Fakultas Humaniora dan juga gedung KITLV. Dipisahkan oleh sebuah kanal yang dialiri oleh Sungai Rijn, Perpustakaan Leiden berhadapan dengan tembok belakang KITLV yang dilukisi sebuah elong berbahasa Bugis dalam aksara Lontaraq. Perpustakaan Leiden telah lama didaulat sebagai perpustakaan dengan bahan-bahan tentang Indonesia terlengkap di dunia. Di tempat ini kita bahkan dapat menemukan buku-buku, majalah-majalah, koran-koran, dan naskah-naskah yang di Indonesia sendiri sudah tidak ada. Koleksi di perpustakaan ini terbagi menjadi dua, yaitu koleksi yang dapat diakses oleh publik dan bijzondere collecties atau koleksi khusus. Koleksi khusus terdiri atas manuskrip-manuskrip maupun dokumen-dokumen tua yang dijaga dengan ketat. Untuk dapat mengakses koleksi-koleksi ini, kita hanya boleh melihatnya di sebuah ruangan khusus yang disediakan oleh pihak perpustakaan karena tidak boleh membawa bendanya keluar dari gedung. Koleksi khusus Perpustakaan Leiden apabila ditotal bisa mencapai luas dua kali lapangan sepakbola lho, Sobat Lontara! Koleksi khusus ini terdiri atas beragam dokumen seperti catatan pribadi, foto-foto, arsip pemerintah, peta dan atlas, kitab-kitab kuno, surat-surat, dan lain sebagainya. Salah satu koleksi kebanggaan Perpustakaan Leiden yang saat ini sedang hangat diperbincangkan ialah fragmen Alquran tertua di dunia yang berasal dari tahun 650-715 Masehi.

Lokasi Eksebisi "Investigating Indonesia"

Lokasi Eksebisi “Investigating Indonesia”

Beberapa koleksi Perpustakaan Leiden lainnya yang menakjubkan dan berhubungan dengan Indonesia tentu saja ialah naskah La Galigo terpanjang di dunia, NBG 188, yang telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2011 sebagai Memory of The World. Naskah tersebut menjadi kebanggaan perpustakaan ini. Naskah Babad Diponegoro yang asli dan, seperti halnya La Galigo, juga dianugerahi status sebagai Memory of The World pun juga bagian dari koleksi khusus. Naskah Negarakertagama yang berisi kisah kejayaan Kerajaan Majapahit awalnya disimpan di Perpustakaan Universiteit Leiden, namun pada tahun 1973 dalam rangka lawatannya ke tanah air, Ratu Juliana mengembalikan naskah tersebut kepada bangsa Indonesia. Nah, Perpustakaan Universiteit Leiden menjadi semakin kaya oleh koleksi tentang Indonesia sejak lembaga riset KITLV ditutup dan memberikan dokumen-dokumen  mereka (yang apabila dibentangkan panjangnya bisa mencapai 10 kilometer!) untuk dikelola oleh pihak Universiteit Leiden. Dengan demikian, Perpustakaan Universiteit Leiden boleh dibilang sebagai gudang harta bagi mereka yang memilih untuk belajar Indonesian Studies di negara-negara Barat.

Pamflet Pemilu di "Investigating Indonesia"

Pamflet Pemilu di “Investigating Indonesia”

Demi merayakan luarbiasanya koleksi tentang Indonesia, Perpustakaan Universiteit Leiden menggelar sebuah eksebisi berjudul “Investigating Indonesia” mulai tanggal 16 Oktober 2014 hingga 22 Januari 2015 (detail programnya bisa dilihat di sini). Di hall pintu masuk utama perpustakaan, sebuah ruangan khusus disediakan untuk memamerkan 7 buah hasil riset dari ahli-ahli Indonesia di Universiteit Leiden dan KITLV. Hasil-hasil riset ini amat menarik karena ditilik dari berbagai sudut pandang. Ada riset yang berhubungan dengan sosok perempuan muslim di Indonesia sejak zaman ratu-ratu Aceh hingga generasi majalah-majalah wanita. Ada yang membahas tentang tingkat keanekaragaman bahasa di Timor. Ada yang membahas perkembangan musik, utamanya dangdut. Bahkan ada yang membahas perihal implikasi sosial-legal proyek biofuel di daerah. Teman-teman yang penasaran dengan koleksi mereka dapat langsung ngecek ke website Universiteitbibliotheek Leiden atau ke KITLV. Di sana, ada banyak naskah yang sudah didigitalisasi serta koleksi foto-foto dari era kolonial yang dengan mudah dapat kita akses setelah mengikuti prosedur mereka.

Nah, teman-teman di Indonesia, daripada sibuk meratapi dan menyayangkan keberadaan naskah-naskah kuno di luar negeri (yang jelas-jelas dirawat dengan baik dengan biaya dan fasilitas yang memadai), mengapa kita tidak meneruskan tradisi baca tulis leluhur kita dulu? Mengapa kita tidak melestarikan serta menjaga tradisi-tradisi lisan maupun tulisan yang sekarang di kandangnya sendiri pun dilanda kepunahan? Apa yang kita tulis atau hasilkan hari ini juga di masa yang akan datang kelak menjadi harta karun bagi generasi-generasi berikutnya, bukan? Melihat antusiasme peneliti-peneliti di Leiden (baik yang berasal dari Indonesia maupun asing), kita bersyukur sekali karena naskah-naskah tersebut tidak sekedar disimpan, namun juga terus-menerus dikaji sehingga menghasilkan temuan-temuan baru yang memperkaya perspektif kebudayaan kita. Terus hasilkan karya demi bangsa dan tanah air kita tercinta!

Louie Buana

Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.